Mentari di Ufuk Rindu dalam Selendang Pemikat Rasa Part-2

0 23

Sebuah asa jika dapat diwujudkan dengan penuh pengorbanan, adalah satu kebanggan tersendiri bagi jiwa-jiwa yang mendamba. Seperti itulah perasaan Hans remaja pemuja rahasia yang kini berubah menjadi remaja penakluk wanita. Apa yang selama ini didambakannya kini perlahan mulai dapat diraih dengan mudahnya. Yaaaa… semenjak akrab dengan ajian selendang biru dan menjalankan ritualnya, wanita mana pun yang diinginkan oleh Hans akan dapat dengan mudah ditaklukan. Sasaran pertamanya adalah Sophia, seorang gadis cantik bertubuh langsing yang menjadi dambaan hans sejak dulu. Ia pernah membuat Hans kecewa karena telah menolak cinta Hans dengan kata-kata kasar yang sangat menyakitkan hatinya. Tetapi itu hanya sepenggal kisah pilu Hans yang berubah menjadi bahagia sebagai pasangan kekasih. (Mentari di Ufuk Rindu | Novel Selendang Pemikat Rasa Part-2)

“Ampuh banget nih ajian selendang biru yang diberi ayah, Sophia aja mendadak tergila-gila sama saya, asyiiikk nihh,” ujar Hans sambil tersenyum. Sejak pertemuan pertama pagi itu, Sophia seakan dimabuk asmara dan tergila-gila pada Hans. Setiap hari selalu menelepon dan BBM Hans,  terkadang ia berkunjung kerumah Hans hanya sekedar melepas rasa rindu. Rindu yang sebelumnya tak pernah muncul, kini seakan menemukan tempat pelepas rindu yang sangat dirindukan oleh Sophia yaitu Hans. Hans merasa sangat senang apa yang sedang dialaminya itu, buah dari kerja kerasnya kini sedang ia nikmati. Bagi Hans, hal ini adalah pelampiasan/balas dendam Hans pada Sophia yang pernah menyakiti hatinya

Minggu sore itu cuaca sedikit mendung, dari kejauhan tampak seorang gadis cantik berbaju merah turun dari sedan putih. Sementara itu Hans tengah asyik menonton pertandingan sepak bola di lapangan sepak bola depan rumahnya. Tetapi pandangannya terganggu karena melihat ada gadis cantik turun dari sedan putih. Hans mengamati dengan seksama gadis tersebut, “Siapa yaaaa cewe sore-sore main kerumah ?”, tanya Hans dalam hati. Segera ia beranjak dari lapangan sepak bola dan bergegas menghampiri tamu tak diundang itu.

Rumah Hans

“Ooooohhhh neng Sophia toohhh yang dateng, tak kirain bidadari turundari sedan hehehe”, goda Hans pada Sophia. Dan Sophia menyambut Hans dengan senyuman manisnya. Rupanya gadis cantik itu adalah Sophia, ia sengaja berkunjung kerumah Hans tanpa memberitahunya terlebih dahulu. “Maaf yaaaa gak kasih kabar ke kamu, habis aku kangen banget sama kamu Hans, bangeeeeet !!”, ujar Sophia penuh manja. “Aku juga kangen kamu neng, kangen bingiiiitss”, timpal Hans sambil mencolek Sophia. Lalu Hans mempersilahkan Sophia masuk kerumah dan memperkenalkan kepada kedua orang tua angkatnya.

Didalam rumah tampak bapak dan mama sedang duduk santai diruang tamu sambil menyaksikan tayangan televisi. Kedatangan Hans dan Sophia mengejutkan keduanya, karena selama ini Hans belum pernah sekalipun membawa ataupun mengenalkan wanita kepada orang tua angkatnya. Dan kedatangan Sophia disambut dengan antusias terutama oleh mama yang selalu menanyakan mana pacar mana pacar kepada Hans. Mama menyambut Sophia dengan sopan dan mempersilahkannya duduk. “Monggo masuk mba, sini duduk dekat mama”, ujar mama. Sophia pun menuruti perintah mama untuk duduk disebelahnya.

Sementara itu Hans masih berdiri dan terlihat malu-malu. “Ohyaaa kamu mau minum apa neng ? sekalian bapak sama mama mau tak bikinin minuman opo ?”, tanya Hans pada Sophia dan kedua orang tua angkatnya. Sophia tersenyum mendengar tawaran Hans, “Gak usah repot-repot mas air putih aja”, jawab Sophia. Lalu mama memotong pembicaraan Sophia, “Lhoooo mosooook cuman air putih doang ndooo, mbok yooo yang manis-manis gitu lohhh… udah gak usah sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri yooo..”, ujar mama meyakinkan Sophia. Sophia kembali melempar senyum manisnya mendengar pernyataan mama. Akhirnya Sophia pun meminta dibuatkan es jeruk, sedangkan untuk mama dan bapak teh manis hangat.

Selang beberapa menit, minuman pun siap dihidangkan. “Monggo diunjuk (diminum) ndoo… oh iya neng manis ini namanya siapa tohh ? dari tadi belum tau namanya,” tanya mama. Sophia pun memperkenalkan diri pada bapak dan mama. Sementara itu diruang tamu terlibat obrolan hangat antara mama, bapak, Sophia dan Hans. setelah menikmati teh manis hangat buatan Hans, mama dan bapak beranjak dari tempat duduknya. “Silahkan dilanjut yaaa ndooo, mama sama bapak mau keluar dulu”, ucap mama. Tinggallah Sophia dan Hans diruang tamu berdua tanpa ada yang mengganggu.

“Haaaans, ntah mengapa belakangan ini hatiku sangat merindukanmu selalu, tiap detik, menit, jam, selalu memikirkanmu, aku sangat mencintaimu Hans.” ujar Sophia dengan wajah penuh iba. “kena looo sekarang”, gumam Hans dalam hati. Lalu dengan sigap Hans menggenggam tangan Sophia dan meremas jemari lembutnya. “Sama neng, aku juga demikian, aku sejak lama mencintai neng meskipun dulu pernah disakiti”, jawab Hans.

Neng hanya tertunduk menyesali atas perbuatannya yang pernah menyakiti Hans. Beratus kata maaf terlontar dari bibir tipisnya, dan Hans memaafkannya. “Sudah aku maafkan sejak neng menyakitiku kala itu,” ujar Hans. Pernyataan Hans kontan saja membuat Sophia terharu dan langsung memeluknya. Dan Hans pun membalas pelukan Sophia sambil membelai rambutnya. “Ajak aku kemana pun kau mau Hans, bawa aku dalam setiap langkahmu, aku takut kehilanganmu Hans.” bisik Sophia penuh manja. Tanpa sepatah kata Hans langsung mencium kening Sophia dan menaruh jarinya pada bibir tipis Sophia lalu memeluknya erat-erat. Kedua remaja itu sedang dimabuk asmara, suasana ruang tamu kala itu mendadak menjadi romantis.

Dirasa cukup puas bertemu Hans, Sophia pun bermasud pamit pulang. Diantarnya Sophia sampai di sedan putihnya, dan digenggamnya jemari lembut Sophia seraya berucap, “Hati-hati di jalan sayang, makasih udah main kerumahku.” Sophia pun membalasnya dengan mengecup tangan Hans lalu mengemudikan mobilnya. Baru beberapa menit berjalan, handphone Hans berbunyi.

I Love U

Rupanya Sophia mengirim BBM pada Hans. “Makasih Hans aku hari ini jadi orang yang paling bahagia karenamu. I Love U.” Demikian isi BBM tersebut. begitu sampai rumah, Sophia juga mengirim BBM pada Hans mengabarkan bahwa ia sudah sampai rumah. Hati Sophia benar-benar sedang diliputi kerinduan yang luar biasa hebatnya. Tiada waktu tanpa BBM Hans, dan tiada hari tanpa bertemu Hans. Efek dari ajian selendang biru begitu terasa khasiatnya, dan Hans sangat menikmatinya.

Tak lupa Hans memberitakan kejadian-kejadian perihal ajian selendang biru dan efek yang telah dialaminya kepada pak Dodi. Pak Dodi tidak henti-hentinya menasehati Hans untuk tetap kontrol diri dan tidak mempergunakan ajian tersebut untuk hal-hal yang negatif. Dan hal itu dijalankan betul-betul oleh Hans tanpa melanggar sedikitpun. Hans merasa sangat bahagiadicintai oleh Sophia yang sungguh-sungguh mencintai dan merindukannya.

Malam itu hujan turun dengan lebatnya diserta mati listrik. Lagi dan lagi handphone Hans berdering, dan sang pengirim BBM adalah Sophia. Hans tidak mengindahkan BBM itu, ia fokus mencari lampu emergency dan lilin beserta korek apinya. Setelah berhasil menemukan semuanya, hans menyalakan lampu emergency dan lilin diletakkan di kamar adiknya. Selama mati listrik, Hans menemani sang adik yang paling takut akan gelap. Untuk menghilangkan rasa takut, Hans mengajak adiknya untuk mendengarkan dongeng. Hingga tak terasa adinya tertidur pulas mendengar dongeng dari Hans.

Setelah lampu menyala, Hans kembali ke kamarnya. Betapa terkejut ketika membuka handphone, banyak BBM dari Sophia yang belum sempat dibalas. Hans sengaja meletakkan handphone dikamarnya karena hectic dengan mati listrik. Sophia tampak marah karena BBM tidak dibalas. Hans pun berusaha menjelaskan kronologinya, dan Sophia mau mengerti. Rupanya isi BBM itu adalah Sophia mengajak Hans untuk makan siang bersama.

Hampir tiap jam Sophia mengirim BBM ke Hans, mau makan BBM, mau mandi BBM, mau dandan BBM, mau tidur BBM, bangun tidur BBM, lagi iseng BBM, BBM BBM dan BBM, suatu hal yang belum pernah Hans alami selama hidupnya. “Ceweeee ceweeee….. mungkin begini yaaa kalau pacaran itu selalu di BBM tiap waktu.” Gumam Hans sambl memutar-mutar handphonenya.

Keesokan harinya, Hans kembali menjemput Sophia untuk berangkat kerja bersama. Hal ini dilakukan karena rasa cinta Hans pada Sophia dan juga permintaan dari Sophia. Pagi itu Sophia tampak anggun menawan dengan balutan dress putih dipadu dengan cardigan warna peach. Senyum manis selalu terlempar dari bibir tipisnya yang menggoda. “Woooww kamu cantik banget hari ini say:, goda Hans. Sophia mengigit bibirnya sendiri dan mencolek pipi Hans. “Gombal aja ihhh kamu bisanya,” jawab Sophia. Lalu kedua pasangan kekasih itu pergi dengan motornya.

Seperti biasa dipeluknya erat-erat tubuh Hans dan disandarkan kepala di punggung Hans. “Sayaaaang, makasih mau jemput aku tiap pagi, aku jadi makin cinta sama kamu.” Ucap Sophia. Hans hanya menganggukkan kepala yang sedang memakai helm fullface. Sophia dan Hans bekerja pada perusahaan yang berbeda, tetapi satu arah dengan jalan dimana perusahaan Hans berada. Tak lama kemudian sampailah dikantor tempat di mana Sophia bekerja. Sophia pun turun dari motor dan mencium tangan Hans, kemudian berjalan menuju kantor.

Siang itu tepat pukul 12.00, Hans menerima BBM dari Sophia yang isinya agar Hans tidak lupa untuk makan siang bersama. Tetapi secara kebetulan dikantor Hans sedang ada perayaan ulang tahun rekan kerjanya yang juga sahabat. Hans pun menelepon Sophia mengabarkan kejadian saat itu dan kemungkinan membuatnya terlambat pergi ke tempat makan yang dijanjikan. Sophia tampak marah mendengar kabar dari Hans, dan memutuskan untuk membatalkan janji makan siang bersama Hans.

Hans berusaha memberikan penjelasan dan memohon agar Sophia tidak marah, tetapi Sophia langsung menutup telepon dari Hans. “Hmmmmm… marah lagi marah lagiiiii, pusing gue,” ujar Hans. padahal Hans berencana untuk tetap pergi ke tempat makan setelah ikut merayakan ulang tahun rekannya walau hanya sebentar. Tetapi Sophia terburu marah dan membatalkan janjinya. Hans tampak kebingungan dan tak habis pikir dengan sifat Sophia yang mudah sekali emosi. Hans baru mengetahui sifat asli Sophia setelah menjalin hubungan dengannya. “Bodoh amat lah ntar juga sayang-sayangan lagi !!”, celoteh Hans. Hari itu sengaja Hans tidak BBM atau pun kontak dia setelah Sophia marah-marah perihal batalnya janji makan siang bersama.

Baca Juga : Selendang Pemikat Rasa, Tarian Pertamaku! Novel Part 1

Ketika Hans pulang dari kantor, ia terkejut mendapati Sophia sudah berada dirumahnya dan menyambut Hans seolah tidak ada permasalahan. “Loooohhh neng, kamu kok ada dirumah aja ? sama siapa ?”, tanya hans terheran. Sophia menjawab dengan melempar senyum manisnya, “Iyaaaa aku kangen kamu banget Hans, jadi kerumah dehh, aku tadi dianter temenku !!”… “Sudah ku dugaaaa !!” bisik Hans dalam hati. Efek ajian selendang biru benar-benar membuat orang yang dituju menjadi tergila-gila dan dimabuk kepayang. Sekalipun pasangannya sedang diliputi rasa marah, tetapi tak kan berlangsung lama kembali diliputi rasa rindu yang maha dahsyatnya. Dan hal ini terjadi pada Sophia yang beberapa kali marah tetapi kemudian kembali cinta dan rindu setengah mati.

Saat ini yang ada dalam pikiran Sophia adalah Hans dan Hans. Setiap waktu dilanda rasa rindu yang luar biasa rindunya laksana siang yang merindukan mentari untuk memberikan kehangatan pada bumi. Sophia benar-benar ada dalam genggaman Hans, hidupnya seakan hampa bila tak ada Hans sedetikpun disampingnya. Baginya Hans tak ubahnya seperti udara yang selalu dia hirup untuk hidup. Emosi dan amarah seakan sirna ditelan bumi pabila nama Hans disebut. Gadis itu sungguh-sungguh meletakkan semua keriduannya hanya pada Hans.

 

Kekeringan hati bukan karena gagal dalam mencinta

Kekeringan hati adalah kosongnya hati sang pencinta

Cinta yang mencinta dan dicinta oleh pencinta

Rebahku pada setiap bayangmu

Guratkan kerinduan yang tak berujung

Rebahku diantara ragamu

Adalah kerinduan yang terbeli

Padamu kutitipkan semua kerinduanku

Maha rindu diantara kerinduan yang merindu

Begitulah sepenggal puisi yang coba Hans tuangkan tentang rasa rindu Sophia akan hadirnya yang melebihi dari semua kerinduan apapun. Sophia yang dulu membencinya kini berubah mencinta pecinta rindu. Hans nama remaja itu menjadi buah rindu dari gadis selendang biru.


Novel Selendang Pemikat Rasa Novel Part 1 : Tarian Pertamaku!

Novel Selendang Pemikat Rasa Part-2 : Mentari di Ufuk Rindu

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.