Inspirasi Tanpa Batas

Menulis Itu Harus Percaya Diri| Tekni dan Cara Menulis Part – 7

Teknik dan Cara Menulis Part -7
0 47

Posisi seperti apakah yang harus ditampilkan saat seseorang melakukan proses penulisan. Menulis, menurut saya harus selalu berada dalam posisi di mana kita mengosongkan semua hal. Otak kita harus selalu berada dalam posisi zero mind. Kegiatan menulis, tidak boleh diganggu apapun dan oleh siapapun.

Menulis itu adalah aktivitas berpikir verbal atas semua isi memori kita tentang sesuatu yang sedang kita tulis. Karena itu, saat kegiatan menulis berlangsung, otak kita tidak boleh dipengaruhi unsur-unsur lain selain apa yang sedang kita pikirkan. Kita harus berada dalam posisi yang kosong baik oleh benda fisik maupun kondisi kebathinan yang lagi tidak menentu.

Ini penting disampaikan karena saya sering menyaksikan orang yang sedang menulis, di meja kerjanya itu, bukan hanya tersedia komputer dan keyboard, tetapi, terdapat sejumlah judul buku yang menumpuk di sekitar tubuh atau di sekotar komputer yang sedang dia gunakan.  Lebih mengerikan lagi, ketika saya menyaksikan bahwa ketika mereka menulis, bukan hanya kegiatan menulis saja yang dia langsungkan, tetapi juga membaca sesuatu. Setelah dia baca, apa yang dibacanya kemudian dia tuliskan.

Jika anda termasuk dalam kelompok seperti ini, maka, segeralah berhenti menulis. Mengapa? sebab kegiatan membaca dan kegiatan menulis, itu dua hal yang sangat berbeda. Membaca adalah kegiatan meng-input informasi yang kemudian diolah otak manusia, sedangkan menulis adalah kegiatan yang bertugas mengeluarkan sesuatu. Secara psikologis, tidak ada seorangpun manusia di muka bumi ini, yang otaknya sanggup bekerja dalam waktu yang sama, untuk dua kegiatan yang berbeda.

Menulis Lebih Baik yang Empiris

Kalau anda menulis sesuatu yang diambil dari cuplikan satu pemikiran dengan pemikiran lain, yang langsung diambil dari buku, jurnal, makalah atau koran, maka, kegiatan anda sesungguhnya bukan sedang menulis. Anda sejatinya sedang melakukan kliping korang dan buku. Kegiatan meng-kliping sesuatu, itu tidak cocok untuk para intelektual. Kegiatan semacam itu, harus berakhir ketika kita ke luar dari bangku pendidikan SLTA.

Tradisi “kliping” dalam menulis, sejatinya juga dapat disebut sebagai virus. Virus ini secara langsung akan mendorong jiwa kita akan ketidakpercayaan diri atas apa yang kita pikirkan untuk kemudian dimuntahkan kepada orang lain. Padahal kepercayaan diri, justru akan menjadi modal utama kita menggapai sesuatu, termasuk dalam soal menulis. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...