Take a fresh look at your lifestyle.

Menulis Itu Obat Stroke| Teknik dan Cara Menulis Part – 4

0 34

Ada pertanyaan menarik, yaitu untuk apa menulis? Pertanyaan lainnya, Prof. Cecep Sibuk, kapan waktu untuk menulis? Pertanyaan tadi meluncur saat empat  judul buku saya terbit dalam 12 bulan terakhir. Tiga buku terbit di Rosdakarya Bandung, yang telah ditetapkan sebagai salah satu penerbit terbaik di Indonesia. Satu lagi terbit di Jogjakarta.

Beberapa bulan ke depan, kebetulan akan terbit juga buku baru yakni Theatralogi Haji. Keduanya dibungkus dalam Novel dengan aransemen agama dan Filsafat. Tema ini sudah hampir 90 persen. 10 persen belum selesai mengingat terminologi hajji, tidak hanya menyangkut ibadah, tetapi, juga menyangkut bisnis banyak pihak.

Dalam kasus tertentu, menulis bahkan dapat disebut obat. Ia menjadi penawar paling penting untuk mengobati berbagai penyakit. Pernah salah seorang guru saya, almarhum, Haji Darun,  mengatakan bahwa jika anda tidak ingin stroke, maka, rajinlah menulis. Menulis itu, obat stroke. Kata guru saya waktu dulu. Para pemikir yang strook sembuk ketika dia memaksakan diri untuk menulis.

Stroke Pemikiran

Tentang Buku Theology Bisnis misalnya, saya menyusun buku ini, setelah sebelumnya menulis serial tulisan di beberapa koran tentang pentingnya berjiwa entrepreneur. Buku ini mengupas tentang pentingnya umat manusia yang beriman, untuk selalu mencari nilai tambah dalam kehidupan. Jadi tidak termasuk manusia yang beriman jika dalam perjalanan hidupnya, jauh dari nilai-nilai dimaksud atau tidak pernah memperoleh nilai tambah.

Sedangkan buku theatralogi haji, ditulis sejak tahun 2008, beberapa saat setelah thawaf ifadhah di keberangkatan haji saya yang pertama dilakukan. Buku haji ini, ditulis dalam waktu yang panjang karena khawatir berbagai efek negatif yang mungkin timbul. Bayangkan misalnya, ketika selesai ibadah haji, ada waktu kurang lebih 25 hari menunggu kepulangan ke Indonesia. Jujur saya jenuh di sana. Akhirnya, saya menulis berbagai coretan tentang ibadah haji orang Indonesia.

Ketika pulang ke Indonesia, saya baca kembali tulisan tentang haji dimaksud, yang menyimpulkan bahwa buku dimaksud jangan diterbitkan dulu. Dalam beberapa hal, saya merasa ada sesuatu yang kurang pas. Sampai tiga kali berikutknya saya datang ke Makkah al Mukaramah untuk meyakinkan bahwa apa yang ditulis tidak salah. Lalu saya bandingkan beberapa kegiatan suci dalam berbagai agama lain, yang agak mirip-mirip dengan hajinya orang Islam. Belasan negara saya kunjungi. Tampaknya, terhadap tulisan itu, saya mulai berani menerbitkannya, meskipun saya tidak tahu penerbit mana yang mau mempublikasinnya.

Bagi saya, menulis itu hiburan, agar pikiran kita tidak stroke. itulah fungsinya. Saya tidak tahu apakah tulisan itu bermanfaat untuk orang lain atau tidak! Ilmiah menurut orang lain atau tidak! Diakui untuk keperluan karier ataupun tidak! Jujur saya tidak tahu. Ya suka dan senang saya tulis saja.

Menulis itu Obat Lupa

Terhadap Pertanyaan kapan saya menulis, tentu tidak menentu. Di mana saja ketika saya memperoleh inspirasi, di situ saya menulis. Misalnya di waktu siang hari, saat saya lelah menerpa diri saya karena habis mengelilingi kawasan perumahan yang jumlahnya setidaknya lima kawasan dengan jaeak satu sama lain cukup jauh.

Saat beristirahat, kalau tidak membaca ya menulis. Membaca atau menulis apa saja yang disukai dan menantang, atas fenomena kemanusiaan yang mampu dipikirkan dan dilihat secara empiris. Tujuannya untuk apa? Mengapa harus ditulis. Ya agar setiap apa yang kita temukan dan kita pikirkan, tidak terlupakan.

Lalu tempat lainnya tentu di rumah. Dalam kurun waktu setiap bulan, tidak pernah kurang dari 3-4 kali mengisi seminar, semiloka, focus group discussion atau pelatihan yang berskala nasional dan regional. Nah tulisan yang serius dan cenderung dipaksakan secara content ketika saya diminta mengisi acara semacam itu. Pertanyaan lainnya apa tidak Lelah? Lho bagaimana lelah! Justru menulis menjadi obat atas semua kelelahan fisik yang terjadi. Saya bisa tidur dengan lelap, saat saya mampu menulis sebelum tidur. By. Prof. Dr. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar