Inspirasi Tanpa Batas

Menulusuri Jalan Illahi Demi Mencapai Kemaslahatan Hidup Yang Hakiki

0 27

Menulusuri Jalan Illahi. Manusia dalam perjalanan hidupnya tidak pernah terlepas dari takdir illahi. Bahwa realitas yang terjadi menjadi sebuah pembelajaran yang berkepanjangan dan tiada kunjung berhenti. Dalam renungan hidupnya, sering kali menemukan kata andai jikalau takdir lain yang hadir. Namun itulah cara Tuhan mengajarkan kepada hamba-Nya akan arti sebuah kesabaran dan nilai-nilai ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup dengan tegak. Sebuah pembelajaran hidup yang mengantarkan hamba-Nya kepada pribadi yang teguh dan tegar serta bijak dalam bersikap.

Hamparan bumi terbentang luas yang dipersembahkan oleh Sang Kuasa kepada segenap hamba-Nya untuk dijadikan sebagai wahana pengabdian sebagai hamba kepada Tuhannya. Bahwa kehidupan dunia ini adalah jembatan seorang insan dalam menuai dan memetik hasilnya kelak di akhirat nanti.

Termaktub dalam QS. S. Al-Qashas: 77: yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan allah kepedamu (kebahagiaan) negeri akhirat,dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari(kenikmatan)duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)sebagaimana allah telah berbuat baik kepadamu,dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi,sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dari firman Allah itu bisa di pahami bahwa kalau orang hanya memperhatikan salah satu aspek hidup ini, aspek dunia saja atau aspek akhirat saja, berarti ia tidak berbuat baik kepada Allah. Padahal Allah telah berbuat baik kepada kita, dengan cara menyediakan kepada kita kebahagiaan dunia sekaligus akhirat (Nurkholish Madjid, 2003:39).

Ibadah mahdzoh maupun ghoiru mahdzoh tentunya tak luput dari pantauan para malaikat-Nya akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sesuatu hal yang mungkin saja terjadi ketika ibadah mahdzoh yang tidak didasari oleh niatan baik dan implementasi yang tidak mengindahkan nilai-nilai keislaman yang menebar rahmah kepada sesama, maka akan menghantarkan pelakunya kepada  kerugian.

Dan begitu juga sebaliknya, ketika sebuah amalan biasa yang dilandasi oleh hati yang tulus lillaahi ta’ala akan menjadikannya sebagai ibadah. Dalam kaidah ushul fiqih, Innamal a’maalu binniyyati wa innamaa likullimriin maa nawaa-Sesungguhnya amal itu harus disertai dengan niat dan sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung atas apa yang diniatkannya.

Memaknai Shiroth Mustaqiim

Ihdinaashiroothol mustaqiim ( Tunjukkanlah kami jalan yang lurus ). Jalan yang lurus yaitu jalan hidup yang benar serta dapat membuat bahagia di dunia dan akhirat. Ayat ini termaktub dalam surat pembuka, yakni Q.S. Al-Fatihah. Imam ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan, surah ini dinamakan Al-fatihah (pembuka) karena mushaf Al-Qur’an dibuka dengan surah ini.

Demikian pula setiap shalat juga dimulai (dibuka) dengan membaca surah ini. Menurut jumhur ulama, surah ini juga dinamakan ummul kitab (induk kitab). Namun Anas bin malik, Hasan,dan Ibnu sirin tidak setuju dengan penamaan ini. Hasan dan Ibnu sirin mengatakan bahwa yang dimaksud Ummul kitab adalah Lauh Mahfuz (Al-Mumayyaz, 2013:1).

Manusia yang rentan dengan sifat kealpaannya, membawanya kepada arah hidup berspekulasi yang cukup tinggi disesuaikan dengan individu masing-masing dalam membentengi dirinya dari terpaan pengaruh eksternal atas dirinya. Sehingga manusia hanya memiliki kecenderungan tanpa adanya staganansi atau baqo’ di ranah kebaikan maupun keburukan.

Di sinilah peran penting bermuhasabah bagi setiap insan atas amalan yang telah dilakukannya. Dalam riwayat Ibnu Majah: “ Kullu banii Aadama Khthooun, wa khoirul khothooiinattawwabuun” (Setiap Bani Adam itu pembuat kesalahan, dan sebaik-baik mereka yang membuat kesalahan itu ialah mereka yang bertaubat).

Konteks shiroth mustaqiim sangat relevan untuk diimplementasikan pada era kini yang sedang carut marut dalam pemberian statement di media. Dualisme opini publik semakin beradu untuk menuai simpati masyarakat antara kelompok radikalis dan nasionalis. Suatu fenomena yang miris ketika konteks kebhinnekaan di Indonesia harus disikapi keras sedemikian rupa, yang berujung pada pengkultusan tokoh manusia yang hakikatnya sama halnya dengan manusia lainnya yang tak luput dari salah dan dosa.

Implementasi Petunjuk Jalan Illahi

Memaknai shiroth mustaqiim secara hakikat dapat dimaknai dengan sebuah upaya seorang hamba menuju jalan Tuhannya yang menghendaki kemaslahatan atas para hamba-Nya. Bahwa perbedaan setiap insan sebaiknya disikapi dengan jalan wustho (jalan tengah) sebagaimana pesan ayat Q.S. Al-Baqarah: 143 yang artinya, “Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir) tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang kafir). Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk baginya”.

Ayat ini menjelaskan akan peran umat Islam sebagai poros tengah dalam kehidupan masyarakat. Poros tengah tersebut dapat ditempuh dengan jalan musyawarah untuk mufakat, di mana dalam pelaksanaan musyawarah dikembangkan nilai-nilai toleransi atas keberagaman pendapat serta memetik jalan tengahnya untuk sebuah kata mufakat bagi kepentingan bersama.

Hal ini menggambarkan ciri-ciri orang beriman yang digambarkan dalam Q.S. Asy-Syuro:39-43 yang artinya, “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih, tetapi orang yang besabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Lihatlah deskripsi dalam rangkaian ayat tersebut, betapa sulitnya menjadi seorang muslim, melalui deretan ayat tersebut Allah SWT mengajarkan bahwa segala sesuatu harus dilakukan sesuai dengan kondisinya. Ada prinsip kalau ketegasan memang diperlukan, maka seorang muslim harus tegas. Tapi kalau pendekatan kemanusiaan yang harus dilakukan maka seorang muslim harus berusaha melakukan pendekatan kemanusiaan (Nurcholish Madjid, 2003:33).

Hal ini merupakan jalan tengah antara orientasi hukum yang kental pada agama Yahudi dan orientasi kasih yang dominan pada agama Nasrani. Kitab suci agama Yahudi disebut Taurat, yang secara bahasa artinya hukum, sedangkan Nabi Isa diutus Allah SWT untuk menetralisir kekerasan dan kekuatan orientasi hukum pada agama Yahudi dengan diimbangi kasih.

Akhir Kata Penulis

Demikian ulasan seorang hamba dalam berupaya menelusuri jalan illahi. Semoga renungan ini memberikan hikmah dan maslahat bagi pembaca, bahwa hadirnya manusia di dunia ini tiada lain untuk menyembah kepada-Nya dan menepis sejauh mungkin orientasi duniawi baik harta, tahta maupun kehormatan manusia. Wallaahu A’lamu Bishowab.

Oleh: Haliemah Noor Q (Dosen IAI Bungan Bangsa Cirebon)

Komentar
Memuat...