Menumbuhkan Karakter Inovatif  dan Mengembangkan Teamwork

0 96

Menumbuhkan Karakter Inovatif  dan Mengembangkan Teamwork: Memiliki pemikiran yang bersifat terobosan dan atau alternatif pemecahan masalah yang kreatif, dengan memperhatikan aturan dan norma yang berlaku. Dalam posisi ini, internalisasi nilai-nilai pendidikan keagamaan menjadi penting dilakukan. Di letak ini, internalisasi harus dianggap sebagai visi baru pendidikan dalam kerangka meningkatkan budaya inovatif di kalangan peserta didik.

Menumbuhkan Karakter Inovatif

Pencapaian visi adalah proses yang terus berjalan. Karena itu, visi yang telah dirumuskan tidak cukup jika hanya diumumkan satu kali untuk kemudian dilupakan, melainkan harus disampaikan berulang-ulang. Baik itu di awal pembelajaran, setiap pertemuan dengan peserta didik. Bahkan bila perlu melalui  surat, memo, ­e-mail, kartu anggota atau ditempel pada dinding sekolah. Hal ini berguna untuk mengingatkan peserta didik tentang visi pendidikan dalam menanamkan pemahaman akan pentingnya visi baru tersebut yang hendak dicapai dunia pendidikan.

Visi pendidikan dan pembelajaran yang demikian tentu untuk dicapai. Ia  bukan hanya sekedar dibuat. Hidupkan visi internalize niali dimaksud dalam setiap aktivitas pendidikan.

Guru sendiri baik dalam pengambilan keputusan, penentuan target, maupun dalam tingkah laku sehari-hari, harus menunjukkan visi baru dimaksud. Visi baru dimaksud, tentu akan terasa lebih penting untuk mereka yang menjadi pemimpin di lembaga pendidikan. Penting bagi para pemimpin organisasi untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan visi pendidikan. Saat peserta didik melihat pemimpin mereka menjiwai visi tersebut, mereka akan memiliki rasa percaya terhadap pemimpin dan termotivasi untuk meniru apa yang dilakukan pemimpin mereka.

Mengembangkan Teamwork

Nilai guna lain dari diimplementasikan model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan internalisasi adalah untuk meningkatkan kemampuan kerjasama anak didik dengan dengan orang. Kemampuan mereka dalam membangun network berfungsi untuk menunjang tugas dan pekerjaan yang akan diemban mereka.

Secara sederhana, lembaga pendidikan sebagai sebuah produsen sumber daya manusia adalah organisasi yakni sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama, yakni peningkatan kemampuan memiliki sikap kebersamaan. Dalam implementasinya, organisasi di lembaga pendidikan akan muncul elemen-elemen seperti pemimpin, sistem, komunikasi dan sebagainya.

Jika tujuan sudah ditetapkan, maka pergerakan sepelan apapun adalah sebuah kemajuan. Namun jika tidak punya tujuan, bergerak sekencang apa pun bisa jadi malah menuju kehancuran. Ketidakpahaman akan visi rawan terjadi pada organisasi yang melakukan pergantian kepengurusan setiap periode waktu tertentu. Yang berarti dalam organisasi tersebut selalu muncul orang-orang baru, dan kehilangan pemain-pemain lama. Orang-orang baru tersebut biasanya datang dengan visi dan tujuan yang ada di kepala mereka masing-masing. Nah, penanaman visi dan tujuan organisasi ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam organisasi.

Mengembangkan prinsip kebersamaan ini, sejalan dengan suatu rumusan manusia sebagai homo social. Konsep ini mengacu pada perilaku manusia yang menuntut kerjasama dan melakukan hubungan dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berinteraksi atau untuk menjadi manusia sosial. Interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, suatu hubungan yang menimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan hidup bermasyarakat seperti tolong menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan empati, rasa setia kawan dan sebagainya.

Proses Interaksi Sosial

Melalui proses interaksi sosial tersebutlah seorang anak akan memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, sikap dan perilaku-perilaku penting yang diperlukan dalam partisipasinya di masyarakat kelak. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Zanden (1986) bahwa kita terlahir bukan sebagai manusia, dan baru akan menjadi manusia hanya jika melalui proses interaksi dengan orang lain.

Artinya, sosialisasi merupakan suatu cara untuk membuat seseorang menjadi manusia atau untuk menjadi mahluk sosial yang sesungguhnya. Pengaruh paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama kehidupannya terjadi dalam keluarga. Orangtua, khususnya ibu mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak, walaupun kualitas kodrati dan kemauan anak akan ikut menentukan proses perkembangannya. Sedang kepribadian orangtua sangat besar pengaruhnya pada pembentukan pribadi anak.

Beberapa hasil penelitian yang dilakukan Rohner, dkk (1986) di Amerika menunjukkan bahwa seorang ibu yang memperlakukan anak dengan kasar, baik fisik maupun verbal akan menghasilkan pribadi anak yang cenderung kasar setelah dia dewasa kelak.

Sampai saat ini, keluarga masih tetap menerapkan bagian terpenting dari jaringan sosial anak. Sekaligus sebagai lingkungan pertama anak selama tahun-tahun formatif awal untuk memperoleh pengalaman sosial dini. Hal ini berperan penting dalam menentukan hubungan sosial di masa depan dan juga perilakunya terhadap orang lain.

Oleh: Dr. H. Djono, MA

Komentar
Memuat...