Inspirasi Tanpa Batas

Menumbuhkan Motivasi dalam Jiwa Manusia

0 7

Konten Sponsor

Sikap keberagamaan seseorang, tentu termasuk didalamnya peserta didik, tidak dapat berdiri sendiri. Ia selalu memiliki relasi sekaligus relevansi dengan berbagai aspek lain. Misalnya, terkait dengan dimensi kognisi, afeksi dan konasi manusia.

Namun demikian, dalam prakteknya, sikap keberagamaan akan terbentuk apabila karakter Al Nafs dapat dikendalikan dengan baik. Diktehaui bersama bahwa An-Nafsu adalah sifat binatang yang melekat dalam sistem psikis manusia. Asas ini, harus dapat diarahkan kepada nilai kemanusiaan secara positif.

Secara teoritis, karakter ini, akan berubah menjadi sesuatu yang sangat positip, jika ia dipengaruhi dimensi tubuh lainnya, seperti al-‘aql, al-qalb, ar-ruh, dan al-fitrah.

Al Nafsu dalam Nalar Filsafat

Secara falsafi, Al Nafs adalah daya-daya psikis manusia. Ia selalu memiliki dua kekuatan ganda, yaitu daya al-ghadabiyyah [daya yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan dan mencelakakan] dan daya al-syahwaniyyah [daya yang berpotensi untuk mengejar segala yang menyenangkan].

Jika dimensi Al Nafsu ini tidak dapat dikendalikan, maka, cara kerjanya selalu berusaha untuk mengejar kenikmatan hidup duniawi. Indikatornya terlihat dari kecenderungannya untuk selalu mendorong mengumbar dorongan-dorongan agresif dan seksual.

Cara kerja nafsu ini bersamaan dengan prinsip kerja binatang [buas maupun lemah]. Binatang buas memiliki dorongan agresif (menyerang), sementara binatang jinak memiliki dorongan seksual. Karena itu, dorongan ini disebut dengan al-nafs al-hayawaniyah. Jika manusia dikendalikan oleh nafsu sejenis ini, maka kepribadiannya tidak lain adalah kepribadian binatang. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat al A’raf [7]:  179 berikut ini:

“…..Dan sesungguhnya Kami masukkan kebanyakan manusia dan jin ke dalam Neraka Jahannam, karena mempunyai hati tetapi tidak menggunakannya, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak menggunakannya, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak menggunakannya, mereka itu sama seperti binatang, bahkan mereka lebih dari itu lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”

Nafsu dengan demikian, memi­liki dua daya utama, yaitu: al-ghadabiyyah menghindarkan diri dari hal-hal vang mencelakakan diri dan syahwatiyah yakni menge­jar hal-hal yang menyenangkan.

Kecuali itu, pembawaan nafsu juga berusaha membawa manusia kepada tingkat kebinatangan yang menyebabkan manusia cenderung mengejar kenikmatan seksual. Ringkasnya, bahwa dimensi nafsu adalah daya yang berpotensi mengejar kenikmatan dan menghindarkan diri dari hal-hal yang mencelakakan.

Dimensi ini,  jika tidak terkendali akan meng­antarkan manusia bergaya hidup hedonistik, seks, material, dan kegiatan duniawi lain. Tetapi jika terkendali, — terutama oleh al-‘aql dan al-qalb —akan menjadi pendorong bagi manusia untuk berusaha menik­mati kehidupan. Kekuatan al-nafsuyang dikendalikan oleh dimensi­-dimensi psikis lainnya, seperti dimensi al-‘aql, al-qalb, ar-ruh, danal‑fitrah, akan menjadi salah satu fungsi utama aspek nafsiah, berupa fungsi kemauan untuk mengubah cara pandang kemanusiaan. Inilah yang disebut dengan motivasi intrinsik.  Dr. Hj. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar