Celotehan Hati “Lilin Redup Sebelum Ku Tiup”

0 39

Hari itu hari spesialku, hari dimana aku mendapatkan amanah baru, hari bersejarah dalam perjalanan hidupku. Ya, pada hari itu sengaja kukosongkan semua jadual pekerjaan, kegiatan, dan semua janjiku. Selain kepentinganku, orang tua, dan dia yang ku tunggu. Sejak malam hari aku tidak sabar menunggu hari itu, tidak bisa tidur, penuh dengan harapan-harapan bahwa esok hari aku akan menghabiskan waktu dengannya, mengisinya dengan diskusi-diskusi kehidupan, beberapa nasihat, dan kritikan-kritikan yang pastinya membangun.

Hingga pada akhirnya hari itu tiba, aku menunggunya di tempat biasa kami bertemu. Tempat teduh biasa kami menghabiskan waktu, rindang dan penuh dengan benda-benda kreatif, menginspirasi banyak hal dalam kehidupanku tentunya, dan tempat dimana perasaan-perasaanku berlabuh. Aku menunggunya sejak pagi, menunggu kedatangannya seperti biasa, menatap ujung jalan itu dimana aku bisa melihatnya kedatangannya pertama kali.

Jalan itu masih sepi, aku masih duduk sendiri menatap, dan dia belum jua kunjung datang. Jam tangan yang terus kutatap seolah mengerti kegundahan hatiku, jarumnya berlari tak henti mengejar siang. Hingga akhirnya terparkir kendaraan di depan rindangnya pohon tempatku menunggu, seseorang keluar dan ternyata itu bukan dia. Bukan dia. Aku sodorkan senyum manis, penuh kamuflase dan tentunya sedikit dipaksakan.

Orang lain itu nampak ramah pada mulanya, mungkin dia tamu atau ntahlah aku tidak tahu tapi aku kenal dia, beberapa kali sempat bertemu. Terlibat beberapa percakapan ringan, sesekali menanyakan kegiatanku dan mengapa aku berada di tempat itu sendiri. Berulang kali juga kubuang pandanganku mencari wajahnya berharap akan muncul diujung jalan. Hingga pada akhirnya orang lain itu tiba-tiba menyergapku, memelukku dengan kencang, aku meronta, aku meringis, dan aku menangis. Tuhan, apa ini? kuberteriak dalam hati. Bukan ini yang aku harapkan di hari spesialku, bukan ini isi do’aku semalaman. Bukan!

Berada dimana dia yang kutunggu, sedang apa dia yang kunanti, adakah terlintas dibenaknya apa yang aku alami saat itu. Yang kuinginkan berada dalam penjagaannya, bukan pelukan orang lain. Merasa tidak memiliki harga diri, merasa hancur luluh-lantah semua daya. Sedangkan dia, pedulikah akanku? Pada siapa aku mengadu, terkoyak seluruh rasa percaya.

Setelah semua terjadi lalu orang itu berlalu begitu saja, tanpa kata bahkan tatapan maaf-pun tidak ada. Sesak dada ini rasanya, lemah tubuh ini, kosong pandanganku, dan semuanya menjadi sepi. Aku tersadar beberapa saat, aku berdiri seketika kubasuh wajahku dan kujatuhkan sujudku. Di hari spesialku, hari dimana kuharapkan penuh kebahagiaan ternyata yang kudapati hanya rasa sakit. Bagaimana jika kutahu dia yang kutunggu sedang menikmati kebersamaan dengan bahagianya, atau mungkin dia sedang malas menemuiku dan memilih menyendiri, bisa jadi dia sedang sibuk dengan kegiatan barunya, dan mungkin bisa jadi dia sedang berada dalam tekanan. Ah..ntahlah.

Kebahagiaan yang Terusir Waktu

Orang yang benar-benar mencintai tidak membiarkan merasa sendiri meski tidak mungkin bersama, tidak membiarkan menunggu sia-sia meski jarak nyata, tidak membiarkan dalam prasangka meski dunia berkata tidak. Semoga dia benar-benar mencintai, semoga hatiku berkata benar bukan karena perasaanku yang buta. Aku semakin tahu diri bahwa aku belum memberikan kebahagiaan, pantas saja aku mendapatkan yang aku dapatkan, setidaknya aku tidak memberi luka dan beban dalam hidupnya. Tapi Tuhan bukan ini yang aku bayangkan.

Aku membayangkan bisa menikmati bercangkir-cangkir kopi bersamanya, tertawa lepas bersama, debat rencana-rencana hidup yang akan dilist, atau sekedar saling tatap menyeka sedikit rindu yang menggumpal. Ah..semoga dia tidak bosan dan meninggalkanku begitu saja. Tapi itu tinggallah angan, seketika berubah dengan kejadian itu, kejadian yang merenggut harga diriku. Harus kupendam sendiri agar tidak menjadi beban bagi siapapun, harus kuatasi sendiri agar tidak tergantung dengan siapapun.

Sampai akhirnya malam menjelang, pertemuan itu benar-benar tidak ada. Hanya sekedar sapa dari ujung telpon suaranya nampak segar dan baik-baik saja, itu yang kuharapkan. Sedikit kukeluhkan, merajuk menutupi apa yang terjadi. Aku baik-baik saja dan akan terus berjalan meski dengan atau tanpa, begitupun dia pasti lebih bahagia dengan atau tanpa. Akan kusimpan apa yang kualami hari itu, ntah sampai kapan, atau mungkin sampai aku lupa bahwa hal itu pernah terjadi. Akupun malu untuk sekedar menatapnya, masih pantaskah?.***Intan Nurazizah Islami


intan-nurazizah-islami Intan Nurazizah Islami atau yang lebih dikenal dengan nama Mozza. Lahir di Kabupaten Ciamis,  21 Oktober 1993. Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan  Imas Nuraeni dan Endin Nurdin. Sosok periang ini sangat mudah bergaul, mudah kenal dengan orang baru, Setelah lulus kuliah 2015, kini ia bekerja di bagian Biro Perbankan PT. Nusa Indah Pratama yang bergerak pada bisnis properti. Karena Menulis sudah menjadi Hoby, ditengah kesibukannya pun tetap Aktif menulis di Lyceum Indonesia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.