Menusa Cerbon, “Siapa Dia?”

1 60

MASYARAKAT Cerbon adalah sarumban – istilah yang dipakai dalam kitab Carita Purwaka Caruban Nagari (Arya Carbon, 1720) – yang artinya campuran. Sebuah daerah meltingpot – muara – bagi berbagai kebudayaan. Kemungkinan ini lantaran letak geografis daerah tersebut di pinggir laut dan mudah dijangkau siapapun. Di samping itu karakteristik masyarakatnya yang terbuka, lugas dan apa adanya.

Penulis sendiri pernah dalam suatu seminar menanyakan kepada tokoh Cirebon, H. Subrata,”Seperti apakah manusia Cerbon itu?” Ia kemudian menjawab spontan,”Kaya sira lah”(seperti kamu). Berkulit coklat, busik, impulsif dankalau ngomong asal njeplak(asal keluar).” Penulis memahami, karena memang seperti itulah ”menusa cerbon”.

Menyingkap latar belakang Cirebon memang tak bisa lepas begitu saja dengan kebudayaan Sunda dan Jawa. Dalam Cerbon (SH – 1982) Abdurachman dinyatakan, ada kemungkinan, bahwa Sunda adalah nama untuk Jawa Barat, yang mungkin terdiri dari beberapa kerajaan, baik di pantai utara maupun daerah pegunungan yang dinamakan Parahyangan (tempat tinggal para dewa). Catatan-catatan Cina juga menyebut Sin-to (Sunda) sebagai satu negara yang ada di bawah kekuasaan Sriwijaya (Sumatera) yang terkenal akan ladanya.

Pada bagian lain dalam buku itu dinyatakan, ibukota Sunda telah ada di dekat Bogor (kini), diketahui dengan ditemukannya sebuah prasasti batu yang bertanggal 1333 Masehi menyatakan, didirikannya Pakuan Pajajaran oleh Sri Baduga Maharaja. Raja ini agaknya keturunan dari raja-raja Galuh, satu daerah di sebelah selatan Cirebon dan bagian dari Parahiyangan. Menurut anggapan masyarakat setempat, Cirebon bagian dari Galuh. Daerah lain yang masuk kawasan Sunda adalah Cimanuk. Daerah sungai Cimanuk yang mengalir dari selatan ke arah Laut Jawa.

Dalam legenda masyarakat Cirebon yang populer, pelarian dua orang anak raja Raja Pajajaran, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Mas Rarasantang turut andil dalam membentuk kelahiran kebudayaan Cirebon pada masa lalu. Ada anggapan, kedua putera raja itu tak sempat mengembangkan bahasa bawaannya lantaran mereka lama berguru pada Syekh Datil Kahfi di Amparanjati, sehingga melupakan bahasa daerahnya.
Ini bisa dilihat pada kitab-kitab Carita Purwaka Caruban Nagari (Pangeran Arya Carbon, 1720 M), Pustaka Nagara Kretabhumi (1669 M), Leageasta, dan catatan-catatan buku peteng yang terdapat di berbagai Keraton Cirebon, seperti Sajarah Carub Kanda Carang Satus, Carang Sewu, Carang Seket dan carang-carang lainnya.

Simbol lain yang lebih menyatakan karakter masyarakat Cirebon bisa dilihat dari bentuk arsitektur Gua Sunyaragi dan keraton-keraton yang ada di Cirebon. Wadasan yang telah jadi ciri bangunan Gua Sunyaragi merupakan bentukan seni arsitektur yang terdiri dari susunan batu-batu cadas yang keras. Bentuk wadasan tersebut kini telah jadi motif khas batik Cirebon.

Secara geografis, sangat memungkinkan daerah Cirebon pada masa lalu merupakan gudang batu cadas. Di samping Sunyaragi, bisa juga dilihat pada puing-puing reruntuhan Keraton Pakungwati di sebelah timur dalem agung Keraton Kasepuhan.

Masyarakat setempat menyatakannya sebagai simbol kekuasaan batin yang tak tergoyahkan. Atos kaya watu cadas. Perwatakan ini bisa dilihat dari percaturan hidup masyarakat sehari-hari. Mereka lebih lugas ketimbang tetangganya orang Jawa maupun Sunda.

Namun perlu diingat, di samping wadasan masih ada simbol lain yang bermakna kelembutan dan keluwesan, yakni kembang terate. Simbol ini banyak tertuang pada bentuk lukisan maupun patung-patung yang terdapat pada dinding keraton maupun Gua Sunyaragi. Bunga teratai yang lebih bermakna falsafi itu diartikan sebagai manusia Cerbon yang bisa hidup dan berkembang, meski dengan topangan sumberdaya alam berupa air yang sangat sedikit.

Dari kebanggaan-kebanggan itulah jagat mereka dinyatakan sebagai pusering bhumi. Negara yang berada di tengah dunia. Atau sebagai lambang peradaban di Tatar Sunda. Kebanggan diri yang cenderung berlebihan inilah barangkali dikonotasikan sementara pengamatan kecerbonan sebagai introvert. Namun perlu pula diingat, kebanggaan-kebanggan diri itu pun tidak hanya terjadi di Cirebon, tetapi juga pada bangsa-bangsa lainnya. Cina misalnya yang menyebut dirinya sebagai Tiongkok juga berarti pusering bhumi. Suatu bangsa yang berdiri megah di tengah-tengah dunia dan menganggap dirinya sebagai pusat peradaban. Demikian pula Jerman yang melambangkan manusianya sebagai bangsa Aria yang lebih unggul ketimbang bangsa-bangsa lainnya. Atau bangsa India yang dalam Ramayana merupakan superpower dan “polisi dunia”, sehingga mereka harus mengenyahkan Rahwana dari Alengkadirja yang dianggap sebagai bangsa yang masih biadab. Lalu bagaimana dengan manusia Cirebon ?

Perwatakan

Pada perwatakan tari topeng Cirebon yang digambarkan dalam Panji, Samba, Rumyang, Temenggung dan Klana (Rahwana), manusia Cirebon diidentifikasikan sebagai manusia yang bersikap relijius. Tari yang memang memiliki falsafah keilahian tersebut telah jadi tontonan yang menuntun. Ia tak lebih dari dakwah Islamiyah yang berisi nasihat pada ajakan ibadah dalam bentuk hablum minnallah dan hablum minannas.

Keseimbangan dalam beribadah yang harus ditempuh setiap manusia yang mempercayai kebesaranNya. Tari topeng ini pada akhirnya merupakan tetesan keilahian yang jernih dan mampu menembus kisi-kisi nurani yang tak bisa dilihat secara kasat mata. Suatu komunitas yang kental lahir dari kehalusan rasa, karsa dan karya dalam melahirkan ekspresi dan falsafah kemanusiaan.

Pada tari topeng ini, sebagian besar gerakan selalu membentuk rentangan kedua tangan ke atas (sebatas pundak) yang menyimbolkan huruf Allah (dalam huruf Arab) dan lengkungan antara ibu jari (jempol) serta telunjuk sebagai bentuk huruf “h” (akhiran dari kata “Allah” dalam huruf Arab). Kesenian lain yang memberi kesan keilahian di antaranya brai (trebang), berokan, rudat dan banyak lagi kesenian tradisional yang tak pernah berubah, baik bentuk maupun maknanya.

Pada bendera kerajaan pun, Cirebon lebih memilih bentuk kaligrafi Islam dari dua kalimat syahadat yang melambangkan “Macan Ali”. Ali yang dimaksud tak lain adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib a.s. sahabat Nabi Muhamamd saw yang dikenal sebagai “Macan Allah.” Dalam dari Kitab Negara Kertabhumi karya Pangeran Wangsakerta (1670) disebutkan adanya pengaruh Syiahyang cukup kuat di daerah Cirebon.

sedeng//īra sunan khalijaga kawitan nira manganut hanapi\ tumuluy şyiah ri hu-
wus şira syéh lemahabang angemasşi//sisya nira sunan khalijaga akwéh
īng jawa wétan\ mwang jawa kulwan pirang siki pantaran nira ya ta kyagheng pamanahhan kya gheng séla yata ki juru martani ngaran nira wanéh\ pangéran trenggono\ sutawijaya\\

(Sedangkan //Sunan Khalijaga pada mulanya menganut Hanapi, kemudian Syiah setelah
Syeh Lemahabang meninggal dunia.//Murid Sunan Khalijaga banyak
di Jawa Timur, dan Jawa Barat//beberapa orang, di antaranya yaitu Ky Agheng
Pamanahhan, Ky Agheng Sela yaitu//Ki Juru Martani namanya yang lain,
Pangeran Trenggono, Sutawijaya.///) –

Kembali pada geografis Cirebon, Abdurachman menggambarkan Cirebon berada di persimpangan jalan dari berbagai jurusan yang sekarang menjelma sebagai satu kota pesisir di perbatasan Jawa Barat. Dan merupakan contoh khas peninggalan kerajaan-kerajaan Hindu – Jawa abad ke-15. Mungkin sekali sangat memengaruhi sifat kesenian Cirebon, yang pada umumnya memperlihatkan bekas kebudayaan yang tindih menindih. Salah satu bukti adanya bekas itu adalah lambang keraton Cirebon, harimau putih, peninggalan kerajaan Hindu – Sunda.

Wangsakerta menyiratkan, Sunan Kalijaga merupakan salah seorang tokoh penganut Syiah yang bisa berjalan beriringan dengan Sunan Gunung Jati dengan para sunan lainnya dalam menyebarkan agama Islam. Tak ada konflik antarkeduanya. Sedangkan penganut Syiah sebelumnya Syekh Lemahabang (Siti Jenar) harus dihukum mati, karena ia bersama pengikutnya hendak melakukan kudeta terhadap Sultan Demak. Ia ditangkap di daerah Cirebon Girang, lalu diadili di Masjid Agung Sang Ciptarasa dan diputus bersalah oleh majelis hakim dan dihukum mati melalui eksekusi Sunan Giri di alun-alun Kasepuhan.

Cirebon sebagai daerah yang terbuka secara tegas digambarkan dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (Pangeran Arya Carbon, 1720) terjemahan P.S. Sulendraningrat (1983) sebagai sarumban (campuran). ………”ri witan ikang ngaran Caruban yeka sarumban, i wekasan ika mangko Caruban tumuli, ana pwa ike nagari dening sang Kamastwing kang sangan……….dan ketika itu pula negaranya disebut Caruban. Kata Caruban semula dari sarumban, artinya campuran berbagai suku, bahasa, adat istiadat dan agama. Dari sarumban itulah akhirnya berubah ucapan menjadi Carbon (Cirebon sekatang). Negara itu oleh para wali disebut sebagai negara Puserbumi (winastwan ngaran Puser Bhumi). ***

Oleh: NURDIN M. NOER
Wartawan Senior, Pemerhati Kebudayaan Lokal

Rujukan :

  • Abdurachman, Paramitha, Cerbon (SH – 1982)
  • Caron, P. Arya Carita Purwaka Caruban Nagari dalam tulisan Pangeran Arya Carbon (1720) alihbasa dan alihaksara P. Sulaeman Sulendraningrat,
  • Wangsakerta, Negarakretabhumi (alihaksara dan alihbasa Mamasa, 1670)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.