Take a fresh look at your lifestyle.

Menyaksikan Kekuasaan Tuhan| Belajar Menjadi Kekasih Allah Part – 3

0 25

Menyaksikan Kekuasaan Tuhan. Belajar menyaksikan segenap keagungan Tuhan, adalah cara lain untuk menjadi kekasih Allah. Suatu istilah sederhana, meski sangat sulit diimplementasikan. Kalimat Kekasih Allah, di kalangan kaum shufi, sering diasosiasi dengan kelompok manusia yang mampu ber-tajalli dengan Tuhan.

Watak manusia yang bertajalli dengan Tuhan akan meletakkan seluruh pengetahuan, sikap dan tindakannya, mewakili “kepentingan” Tuhan. Inilah kelompok manusia yang diberi amanah untuk menjadi pengganti-Nya (khalifah Allah) di muka bumi.

Karena itu, mengapa Adam [Manusia] mampu mengalahkan Malaikat untuk menjadi khalifah Tuhan di muka bumi? Karena Adam mampu bertajalli dengan Tuhannya. Dengan nalar ini, maka, seharusnya yang mengurusi bumi –dalam berbagai lapisannya — seharusnya mereka yang mampu bertajalli. Mengapa? Karena jenis manusia semacam inilah, yang akan menjadi kekasih Tuhan.

Pertanyaan lainnya, mengapa mereka menjadi kekasih Tuhan. Karena mereka yang mampu bertajalli adalah jenis manusia yang mampu menjadikan dirinya sebagai penampakan wujud (khulul), atau kemampuannya dalam menyatukan diri bersama-Nya (wihdat al wujud) dalam segenap keagungan tadi.

Manusia yang mampu bertajalli, akhirnya akan membuat dirinya mampu membuka tabir yang menghalangi posisinya dirinya sebagai hamba dengan Tuhan yang menjadi penciptanya. Ia akan mampu menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya secara lebih cermat.

Watak Tajalli Manusia

Pertanyaan lain, adakah manusia yang mampu bertajalli dengan Tuhan? Banyak kalangan menyebut bahwa jenis manusia semacam ini, ada meski hanya terdiri dari kelompok yang sangat terbatas. Kelompok manusia semacam ini, diakui keberadan dan eksistensinya di alam prophan, tetapi, berada dalam labirin-labirin hidup yang hampir sulit ditemukan manusia kebanyakan.

Ciri manusia yang manusia yang bertajalli dengan Tuhan, selalu mengawali hidupnya dengan cara mengosongkan seluruh jiwanya dari sifat-sifat buruk. Sipat dimaksud seperti: sombong, iri dengki, cinta berlebih pada dunia, selalu bersikap riya’ dan menjauhkan diri dari wataknya yang seharusnya toleran. Istilah ini, dalam dunia shofi sering disemaknakan dengan kata takhalli.

Tidak berhenti dalam tepian takhalli, manusia-manusia yang mampu ber-tajalli, melanjutkan tradisi hidupnya dengan wujud lain, yakni Tahalli. Karakter dan watak manusia yang mampu ber-tahalli adalah selalu menghiasi jiwa dengan perilaku yang mulia, seperti: jujur, memiliki kasih sayang [kepada yang baik dan buruk], berwatak saling menolong, ikhlash dan sabar serta tawakal dalam segenap totalitas perjuangan hidup.

Jika manusia mampu sampai berada dalam makam dimaksud, maka, kita pasti menjadi kekasih Allah. Mereka yang menempati posisi sebagai kekasih Allah ini, pada akhirnya akan berada dalam puncak tepian kehidupan. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar