Menyebarnya Kelemahan dan Kemerosotan Etika di Kalangan Peserta Didik

0 33

Menyebarnya Kelemahan dan Kemerosotan Etika di Kalangan Peserta Didik: Responden media informasi, dosen universitas dan banyak peneliti menulis dekadensi yang diderita generasi remaja. Serta dampak dari dekadensi terhadap masa depan generasi. Pernyataan yang diberikan oleh Robin Loyd –responden NBC dengan judul “Karena Uang Atau Cinta; Perzinaan Anak di Amerika” misalnya mempresentasikan dekadensi yang terjadi di sekolah-sekolah. Pendahuluan buku Senator Birch Bay –salah seorang anggota dewan cabang di Konggres- menulis tentang studi terhadap dekadensi yang sedang terjadi.

Bukti Kegagalan Pendidikan Modern

Saya tidak ingin memerinci buku tersebut karena hal itu menjauhkanku dari objek masalah, oleh karenanya cukup dengan rangkaian fakta yang diajukan oleh peneliti tersebut sebagai bukti kegagalan pendidikan modern:

  • Amerika Serikat mengeluarkan anggaran tahunan 590 juta USD untuk merenovasi kerusakan yang dilakukan pelajar-pelajar sekolah, dan harga kaca yang hancur di sekolah-sekolah di satu kota sama dengan harga membangun satu sekolah baru.
  • Sekolah-sekolah mengeluarkan anggaran untuk pemeliharaan yang setara dengan harga buku-buku sekolah dalam satu tahun. Di kota Los Angels saja kementrian pendidikan mengeluarkan anggaran jutaan dolar sebagai anggaran untuk pemeliharaan sekolah-sekolah. Kota New York mengeluarkan 4 juta dolar untuk pemeliharaan sekolah.
  • Di sekolah-sekolah terdapat sekuriti yang paling penting adalah mencegah pelanggaran terhadap nyawa dan kehormatan. Dalam pendahuluan Senator Birch Bay menuturkan bahwa “Jumlah pelajar Amerika yang terbunuh karena perselisihan di dalam wilayah sekolah antara tahun 1970-1974 mencapai jumlah korban terbunuh tentara Amerika di Vietnam pada saat itu”.

Penulis buku tersebut menambahkan bahwa studi yang dilakukan pada tahun 1973 di satu sekolah menunjukkan bahwa lebih dari seratus pelajar terbunuh. Juga terjadi kekerasan terhadap guru laki-laki dan pelecehan terhadap guru dan pelajar putri dalam satu hari yang mencapai seratus kali. Di antara instruksi yang dibagikan kepada guru dan pelajar putri adalah hendaknya tidak berjalan sendirian di bagian manapun di wilayah sekolah.

  • Di kota New York obat bius diperdagangkan di antara pelajar sekolah setiap hari harganya mencapai 600 dolar. Ketika membahas objek ini pembahas –Robin Loyd- menambahkan penjelasan berikut:

Penjelasan Robin Loyd

“… termasuk kesalahan yang fatal menyimpulkan dari contoh ini bahwa masalah minuman keras dan obat bius ini hanya terdapat di sekolah-sekolah kota besar saja. Dalam studi yang dilakukan oleh fakultas kesehatan umum dan jurusan kedokteran di Universitas Columbia di sekolah-sekolah yang berada di kota-kota penyangga seperti Illinois nampak bahwa 1,34% pelajar mengkonsumsi Marijuana, 2,18% mengkonksumsi Perpetorik, 7,15% mengkonsumsi Amvitamin, 26% mengkonsumsi LSD, 2,18% mengkonsumsi kokain dan 7,14% mengkonsumsi heroin.

Salah seorang direktur pendidikan memberikan komentar mengenai masalah ini dengan mengatakan: “Direktur pendidikan manapun yang mengklaim bahwa ia tidak memiliki masalah obat bius di sekolah-sekolah umum bisa jadi ia adalah orang yang bersalah karena menyembunyikan kebenaran atau ia tidak mengetahui apa yang terjadi”.

Peneliti menambahkan:

“Kebanyakan orang tua masih membedakan antara minuman keras dengan obat bius. Anak yang hanya mengkonsumsi minuman keras masih dianggap sebagai anak baik dan lebih disetujui oleh orang tua daripada anak yang mengkonsumsi marijuana. Terdapat semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa menyebarnya minuman keras di antara remaja kembali kepada persetujuan orang tua yang menganggap minuman keras sebagai pengganti yang lebih baik daripada obat bius. Para direktur sekolah tidak segera bereaksi ketika mendengar bahwa salah satu orang tua berkata: “Terima kasih kepada Tuhan bahwa ia hanya mengkonsumsi minuman keras saja!! Ia melihat anaknya yang mengkonsumsi minuman keras terhuyung-huyung di dekat tembok sekolah”.

  • Pada tahun 1974 komite khusus di New York mengeluarkan resolusi dengan judul “Kejahatan di Sekolah” menemukan bahwa terdapat jaringan prostisusi yang melibatkan pelajar putra dan putri di sekolah. Salah seorang pelajar yang muncul di saluran NBC menyebutkan bahwa rekan-rekannya pelajar putra dan putri terlibat dalam prostisusi ini dan mengkonsumsi obat bius.

Resolusi Atas Dinamika Pendidikan Modern

Resolusi berlalu dalam bentuk deretan penjelasan dan contoh. Hal ini menyebabkan fitrah yang sehat menjadi takut akan akibat yang menimpa manusia karena keterputusannya dengan Allah.

Kita harus memperhatikan resolusi yang berakhir pada tahun 1976. Bahwa perkembangan penyimpangan remaja pada tahun-tahun dilakukan penelitian tidak mengalami penurunan dari tingkat seperti yang ditunjukkan statistik yang dikeluarkan. Sedangkan dalam tingkat universitas penelitian yang berkaitan dengan hal itu banyak sekali.

Lansing Lamont memprsentasikan kepada kita dalam penelitiannya yang komprehensif tentang universitas-universitas di Amerika Serikat. Dengan judul “Campus Shock” gambaran dan penjelasan yang penting tentang taraf kehidupan etis antara cara-cara pengajaran dan pelajar”.

Penelitian yang sama yang dilakukan oleh Billie Wright Dziech dan Linda Weiner. Dengan judul “The Lecherous Proffesoor: Sexual Harrasement in Campus”.

Menyebarnya dekadensi moral di lembaga-lembaga pendidikan ini menyebabkan pendidik besar seperti Abraham Maslow menulis dalam bukunya “Annoticed Revolution” bahwa ia akan ragu mengirim anak ke universitas yang dianggap bonafid. Seperti keraguannya mengirim anak ke rumah bordil. Kemudian ia menambahkan: “Remaja mengharapkan hakikat yang kokoh seperti yang diajukan agama dan tradisi yang mengakar. Telah mati dalam hati para remaja baik Tuhan, Marx, Freud dan Darwin dan tidak dianggap sebagai sumber nilai bagi mereka” sebagaimana dijelaskan pada bab pertama dalam pembahasan ini.

Hubungan Antara Kegelisahan Agama, Kejahatan dan Dekadensi Moral serta Nilai dengan Hilangnya Hubungan Ibadah dari Pendidikan Modern

Pertanyaan yang kita lontarkan: “Apa hubungan antara kegelisahan agama –yang ditunjukkan Marvis Harvis,  kejahatan dan dekadensi moral -yang dilakukan Robin Loyd, dan dekadensi nilai yang dijelaskan Maslow dengan hilangnya hubungan ibadah dari pendidikan modern?

Jawabannya: “Bahwa pendidikan yang didirikan atas –hubungan ibadah- adalah pendidikan yang sesuai dengan watak dan konstitusi manusia. Kesesuaian ini adalah sebagian yang ditunjukkan oleh ayat-ayat suci yang menyatakan tujuan penciptaan manusia”

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Penciptaan di sini maknanya tidak terbatas hanya kepada mewujudkan. Akan tetapi juga mencakup pembentukan dan penyempurnaan. Manusia diwujudkan dan pembentukan dan penyempurnaannya berjalan untuk menunaikan fungsi. Serta praktek yang ditunjukkan ibadah dengan aspek-aspek agama, sosial dan alamnya. Selama ketiga masa eksistensi: masa kelahiran, kehidupan dan kematian. Ini berarti terdapat kesesuaian antara penciptaan, tujuan dan pendidikan, dan ini adalah yang ditunjukkan oleh hadits Nabi yang mengatakan:

 اِعْمَلُوْا فَكُلُّ مُيَسَّرٌٍ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Berbuatlah karena semuanya “dimudahkan” sesuai takdirya”, ini adalah makna yang disalahkan tafsirkan oleh para komentator hadits ketika menyimpulkan bahwa manusia “dijalankan” dan bukan “dimudahkan” sesuai dengan takdirnya”.

Adapun pendidikan modern –yang terputus dari hubungan ibadah- berbenturan dengan watak dan konstitusi manusia. Ia adalah fragmentarisme yang terbatas pada mempersiapkan individu agar menjadi penghasil-konsumtif dalam tahapan kehidupan dunia. Tanpa memperhatikan tahap kelahiran dan kematian. Bertolak dari tujuan inilah pengorganisasian proses pendidikan dengan lembaga, komponen dan hal-hal yang diperlukannya dilakukan. Dalam batas-batas bingkai yang fragmentaris ini psikolog modern bekerja dan mempresentasikan basis kejiwaannya pada bidang belajar dan pembelajaran. Theodore Roszack mengkritik karakter ilmu psikologi modern ini. Ia menganggapnya sebagai berdiskusi sekitar ilmu psikologi industri atau Psychology of Science. Bahwa terdapat bidang lain yang bisa dilalui oleh para psikolog. Pusatnya adalah agama, nilai dan spesialisasi yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Robin Loyd, For Money or Love: Boy Prostitution in America (New York: Random House Inc., Ballantine Books, 1976).

Lansing Lamont, Campus Shock (New York: E.P. Dutton, 1979).

Billie Wright Dziech and Linda Weiner, The Lecherous Proffesor: Sexual Harrasement in Campus (Boston: Beacon Press, 1984).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.