Menyelami Ayat-ayat Perempuan Dalam Konteks Demokrasi

0 58

Islam hadir membawa transformasi fundamental atas nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat saat itu. Penindasan dan kedzoliman yang sering kali ditujukan kepada kaum perempuan, menjadikannya bak sebuah komoditas yang layak diperjual belikan bahkan diwariskan. Suatu kondisi peradaban yang miris dengan menepikan nilai-nilai kemanusiaan yang hakikatnya mereka sama sebagai makhluk Tuhan.

Eksistensi perempuan mulai dianggap keberadaannya atas firman Allah SWT dengan hak waris dan saksi perempuan 1:2. Pesan Tuhan begitu diplomatis dan dialogis atas realitas masyarakat saat ayat Tuhan turun. Sistem heararki melandasi ayat-ayat yang secara berkala sifatnya mengkondisikan perkembangan zaman peradaban manusia. Bahwa eksistensi ayat-ayat Tuhan baqo’ dan mutawatir, hal ini membuktikan akan kuasa illaahi atas para hamba-Nya secara gramatika bahasa dan balaghoh serta kandungannys yang tidak akan bisa tertandingi.

Ayat Tuhan hadir tidak hanya dengan tekstualitas, melainkan asbaabun nuzul ayat sebagai jawaban problematika hidup ketika Rasulullah SAW masih hidup. Rasulullah SAW sebagai akhiirul ambiya’ menjadikannya sebagai penutup ayat-ayat Tuhan kepada utusan-Nya. Hal inilah yang menjadi lahan ijtihad bagi ummat Islam untuk memaksimalkan potensi akal anugerah Tuhan, bahwa Al-Qur’an sebagai ideologi ummat Islam menjadikannya sebagai pandangan hidup.

Perspektif manusia sebagai salah satu aspek penting dalam memahami kandungan ayat-ayat Tuhan dan pesan Tuhan atas umat manusia. Bahwa ayat-ayat tersebut sebagai asas Islam akan digunakan sesuai dengan kaca mata manusia dan kepentingan yang dimilikinya. Manusia dalam kehidupannya sarat dengan kepentingan. Maka harus dipastikan pula kepentingan tersebut sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fitrah kehadiran Islam di bumi ini. Ketika budaya patriarki yang mendarah daging di nusantara ini menghambat stabilitas kehidupan manusia antara laki-laki dan perempuan, maka konsep gender hadir dengan semangat kesetaraan.

Kepemimpinan  Perempuan

Sebuah legitimasi kepemimpinan atas laki-laki tak pernah luput dari tradisi zaman dahulu sampai hari ini. Dapat disepakati terjadi demikian ketika budaya masih menghendaki perempuan bak komoditas, namun ketika nilai-nilai kemanusiaan itu telah hadir di tengah-tengah kehidupan umat manusia maka legitimasi ini tidak dapat berlaku secara stagnan. Hal ini perlu direpresentasi kembali melihat kesetaraan ekspresi dan dan kualitas antara laki-laki dan perempuan telah terwujud. Bahwa tak jarang didapatkan dalam dunia akademis, perempuan unggul dalam sisi akademis serta mampu memberikan pengaruh terhadap komunitas atas keberadaannya.

Makna kepemimpinan telah tersirat dalam Q.S. Annisa’:34 “ Arrijaalu qowwaamuuna ‘alannisai bimaa fadhholallaahu ba’dhohum ‘alaa ba’dhin wa bima anfaquu min amwaalihim min amwaalihim….”, yang artinya laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian yang lain, dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.

Secara tekstual, ayat ini memberikan pesan atas kepemimpinan laki-laki atas perempuan. Namun, bila dikaji asbaabun nuzul ayat ini adalah sebuah jawaban dari seorang perempuan pada zaman Rasulullah SAW. Atas kekerasan penamparan yang dilakukan oleh suaminya. Maka perempuan tersebut menanyakannya pada Rasulullah SAW. Atas perkara ini. Maka turunlah ayat ini “Arrijaalu qowwaamuuna ‘alannisa”, ayat ini adalah bentuk ayat khabari yang memberikan pesan umat Islam akan kepemimpinan laki-laki atas perempuan di ranah domestik dan selayaknya pula seorang suami melindungi istrinya.

Walaupun Q.S. An-nisa’:34 ini menggambarkan tentang kepemimpinan laki-laki atas perempuan di ranah domestik, namun ini bisa di tarik pula untuk diimplementasikan di ranah publik. Argumentasinya ketika perempuan telah memiliki perlindungan dan mendapatkan keamanan di ranah keluarga, maka secara otomatis membawa ketenangan bagi kiprah perempuan di ranah publik.

Bahwa harapan dari kesuksesan kepemimpinan adalah kenyamanan dalam beraktivitas serta melahirkan insan-insan berkarya dan berprestasi.  Dan bila dipahami secara mafhum mukholafah, konteks kepemimpinan ini tidak didasari oleh jenis kelamin mereka melainkan atas keunggulan yang mereka miliki atas orang lain dari segi intelektualitas dan financial mereka. Maka, dapat ditafsirkan ayat ini adalah ayat kepemimpinan perempuan bila ditafsirkan secara kontekstual hari ini kapabilitas kaum perempuan telah memumpuni dari aspek intelektualitas, kapabilitas kepemimpinan dan financial.

Panggung Perempuan pada Pilkada 2018

Dewasa ini kiprah perempuan mulai banyak dilirik oleh publik, sebut saja di Kota Cirebon. Nama Eti Herawati (Ketua DPD Nasdem Kota Cirebon) dipublikasikan telah tergandeng oleh petahana Kota Cirebon Drs. Nasrudin Azis SH. pada Pilkada serentak 2018. Selain dari pada itu, menyusul beberapa nama politisi perempuan lainnya seperti Een Rusmiati (Ketua DPD Hanura Kota Cirebon) dikabarkan bakal mendampingi Calon Walikota Cirebon Bamunas.

Pada Pilgub Jatim, nama politisi perempuan dari Partai PKB Khofifah kembali maju yang ketiga kalinya. Berbeda dengan masa sebelumnya, majunya Khofifah pada Pilgub kali ini diperkirakan memiliki elektabilitas yang paling unggul dari kandidat lainnya serta telah mengkantongi rekomendasi partai politik PKB dan Nasdem. Bahkan, Walikota Surabaya Tri Rismaharini politisi dari partai PDIP siap berlanggang pada Pilgub Jatim 2018.

Ayat-ayat perempuan yang termaktub dalam Q.S. An-nisa:34 merupakan ayat Al-Qur’an membahas perempuan dalam konteks domestik atau keluarga serta menjadi landasan dalam hukum perdata. Namun secara publik, eksistensi perempuan sangat bergantung pada kapabilitas dan kepemimpinan perempuan. Ketika perempuan memiliki pengaruh besar dalam manajemen publik serta membawa kepada tatanan good governance yang maslahat, maka tak ada lagi yang bisa memungkiri dengan kepempimpinan perempuan. Yakni, dengan mengkorelasikannya atas  sejarah Raja Kisra yang mengalami kegagalan dalam memimpin setelah menggantikan ayahnya. Ketika Raja Kisra tidak memiliki kapabilitas dan kepemimpinan yang baik.

Diharapkan segenap umat Islam dapat menyelami ayat-ayat perempuan dalam konteks demokrasi. Dengan melakukan penafsiran secara kontekstual, sehingga keberadaannya akan selalu relevan dengan kebutuhan zaman. Wallaahu A’lau Bishowaab.

Oleh: Haliemah Noor Q (Penulis adalah Dosen  IAI Bunga Bangsa Cirebon)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.