Meracik Cinta dalam Bingkai Tuhan

0 1.278

Lyceum.id menghadirkan puisi cinta dan ketulusan, yang membangunkan jiwa kemanusiaan dan ketuhanan. Dalam daftar yang kami terima di redaksi lyceum, setidaknya ada 15 penulis yang mengirim puisi dalam sebulan terakhir, dan beberapa diantaranya telah kami terbitkan seperti puisi karya Ibu Lilik Isdianawati, Pandi Galapagos, Mamat dan beberapa penulis puisi lainnya. Setelah kami top upgrade, puisi-puisi sejenis ini, akan kembali kami hadirkan melalui Hipster Lyceum. Meracik Cinta dalam Bingkai Tuhan

Kami memberi apresiasi terhadap karya seni dan sastra, karena melalui karya sejenis inilah, otak kanan manusia akan teraktivasi. Kali ini kami hadirkan, puisi karya ibu Euis Istifadah Syakir, M.Pd. dosen Institut Agama Islam Bunga  Bangsa Cirebon dan Guru di MTs. Al-makmur Cirebon. Berdasarkan data yang ditulisnya, puisi ini ia susun pada kisaran 15 atau 16 tahun yang lalu, saat mungkin penulis puisi ini sedang berada dalam masa remaja akhir atau masa masuknya usia dewasa awal. Karena itu, puisi ini, sangat cocok untuk mereka yang masih muda dan remaja saat ini.

Aroma Cinta di Pagi yang Sejuk

Di awal pagi yang sejuk tentangmu menyapa
Sendiri dalam sepi bayangan menjelma
Mengajak nurani berjalan dan bercerita cinta
Indah penuh asa dengan senyum penuh makna.

Kulihat raut langka dalam jumpa
Hadir seonggok raga milik sang kuasa
Menari kian kemari dalam asa menghibur logika
Indah terlihat begitu nyata di jendela mata

Aku terlena dalam waktu menahan jiwa dan raga
Tak sadar segala aktivitas cinta terbengkalai begitu saja
Terasa hanya damai bahagia tentram di upuk cerita
Mengalun nyanyian indah dalam nyata membawa asa melanglang buana

Bersamamu terasa penuh cita asa cinta juga pesona bahagia
Raga takkan lelah seperti dirasa dan hati yang tentram selamanya
Nyanyian dalam nyata berganti tema
Aku dan dirinya terus bersama dalam irama cinta

Berjalan dan berlari menjelajah angkasa
Sesaat hasyrat asmara menjerat sukma
Tak kuasa noda indah hadir antara air mata dan ceria
Memunculkan kesadaran sang surya kian memaksa
Menyudahi perjalanan dalam nyanyian nyata

Dan …. bayangan cinta penuh bahagia
Tak kuasa tak bisa diam saja meninggalkan jiwa yang terpenjara
Hati berkata raga memaksa bangkit menuju mihrab cinta
Tertulis rasa yang tengah dirasa

Tertuang dalam kata penuh makna dan tiada dusta
Wahai raga yang langka dalam jumpa
Harapan pasti kau membuka dan membaca pesan jiwa

Harapan hati sudilah jemari membalas kata
I love you selamanya di mihrab cinta
dalam nyata saat mengakhiri panggilan cinta.

Cirebon, Juli 2001

 

Menjalani Takdir Cinta

Selalu terbersit wajahMu dengan wajahnya
Selalu ketika di tempat antara kuasa dan rasa
Sungguh aku telah kalah ketika rasaku terhadapnya bertahta
Sungguh aku juga tak berdaya dalam takdirNya
TakdirMu dan wajahmu

KuasaMu tak jua meredam segala rasa
Rasa estetis nan eksis dan mendera dalam jiwa
Duuuh … jiwa dan ragaku telah tergadai rasa dan asa
Meskipun siksa terbelalak di pelupuk mata

Aku tetap kalah dan tak berdaya.
Wahai siksa… rasa … asa … kuasa dan cinta
Kapan dan manakah yang kan menenangkan jiwa selamanya
Kapan lakonku tak lagi menderita dan melelahkan jiwa

Cintamu dan cintanya Tuhan
Memaksa aku tuk berpura dalam
Kenyataan dalam kebohongan dan rahasia
Kejujuran tersimpan tak dapat dibuka dan dikata

Sungguh sulit selalu melilit jiwa dan raga
Biarlah … demi baktiku padaMu serta huru hara tak menimpa
Demi rasaku padamu yang membara dan apa adanya
Kujalani takdir yg entah kapan ujungnya

Takdir indah dan mempesona namun menyiksa jiwa
Selalu ku tunggu ujungnya dengan harap diwarnai bunga beraroma bahagia
Namun tetap wajahMu dan wajahnya
Selalu mempesona dalam hati dan jiwa serta raga.

Cirebon, Agustus 2001

Puncak Asmara

Canda tawa dan ceria mewarnai liku perjalanan menuju puncak asmara
Lurus berliku berbelok berputar tak jera
Turun dalam bahagia terkadang meninggi penuh ceria
Terhenti tak pasti berjalan kembali ke semula

Begitu rupanya cinta
Tiada lelah hanya senang yang terasa
Ada bahagia beriring cemas kadang beradu kuasa
Kembali terhenti namun tiada pasti kembali

Mata hati jiwa dan raga mencari alasan sejati
Tak ingin diketahui keberadaan diri
Terus lagi … berjalan berputar tiada henti
Berbelok mencari kedamaian dan ketenangan kian pasti

Berhenti … membiarkan keinginginan
hasrat kebahagiaan, kecemasan dan kesenangan
Selalu menghampiri secara bersama

Ooh … cinta
Aroma rasa asmara dan cinta
Bergulat menghiasi keterlenaan dan kenikmatan sejati tak berperi
Indah … melupakan diri dan segala kedirian yang ada

Melebur kerinduan dan rasa yang menggoda
Bahagialah cinta menghapus derita dan lelah dalam jiwa
Biarkan tersiram kesejukan cinta
Cinta nan indah tak tergantikan

Cinta nan abadi penuh misteri
Cinta nan sekejap menyimpan bahagia dalam dekap
Oooh cinta …
Aku berbunga beraroma surga dunia

Beraroma noda mewangi sepanjang masa
Terhenti kesadaran terkoyak keyakinan
Sejenak cinta pudar pekat dalam ketakutan
Inilah cinta bersandar keimanan dan nalar

Kembali lurus dan berjalan ke tepian kesadaran
Berbelok dan berliku menuju kesejatian dan keharusan
Tak henti segera mencari perlindungan dan tempat pulang
Di senja penuh cemas dengan kebahagiaan penuh harapan

Cirebon, Juli 2001

 

Komentar
Memuat...