Merangkai Serpihan Asa Menuju Korporasi Besar

0 16

Merangkai Serpihan Asa Menuju Korporasi Besar | Romantisme kehidupan senantiasa dinamis seiring perjalan manusia dalam hidup. Warni-warni kehidupan yang beragam menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Tak dapat terelakkan bahwa manusia akan selalu dihadapkan pada sebuah kondisi dimana kondisi tersebut sebagai sebuah kesukaan atau ketidaksukaan.

Sebuah harapan yang dipersepsikan baik bagi manusia selalu menjadi penantian sementara keadaan yang dipersepsikan sebagai kekurangtepatan akan menjadi kekecewaan. Namun, semua kondisi itu harus dilalui oleh setiap manusia agar dirinya dapat naik ke level yang lebih berharga di hadapan Tuhan dan manusia lain.

Individu yang berani adalah mereka yang mampu melewati hiruk-pikuk dunia dengan penuh kesantunan. Kesantunan yang dimaksud adalah bagaimana individu mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik tanpa harus mengorbankan pihak lain atau mampu meminimalisir terjadinya korban. Penyelesaian masalah harus dilakukan tanpa menghadirkan masalah berikutnya.

Dalam sebuah analogi individu yang berada di sebuah perusahaan atau bekerja di sebuah lembaga, dipastikan akan selalu menemukan apa yang dinamakan kekecewaan. Ketegangan dalam berargumentasi bahkan tidak jarang pula yang berakhir pada ketegangan fisik.

Kondisi ini adalah fenomena biasa akibat dari cara pandang setiap orang terhadap segala perbedaan yang ada. Perbedaan cara pandang antar individu seyogyanya dapat dikelola dengan baik sebagai sebuah aset kebersamaan dalam upaya menemukan muara yang sama.

Yang harus dihindari adalah ketika perbedaan cara pandang dalam melihat sebuah kesuksesan program perusahaan atau lembaga memiliki muara yang berbeda. Muara yang berbeda yang dimaksud adalah pergeseran dari kepentingan publik menjadi kepentingan personal, ini yang harus dihindari.

Korporasi Adalah Sebuah Sistem

Jika ada seseorang yang memiliki persepsi bahwa semakin banyak orang maka akan semakin rumit dalam pengelolaannya, hal ini sangat keliru bahkan dapat dikatakan salah. Sejatinya sebuah korporasi atau perusahaan adalah bangunan yang diciptakan oleh kebersamaan bukan oleh sendiri saja.

Sehingga, korporasi akan mampu bertahan karena diproteksi oleh sebuah sistem manajemen yang baik. Right man on the right place, right man on the right skill, right man on the right job, right man on the right authority merupakan teori dasar yang harus dijalankan dalam korporasi. Karena korporasi bermakna kebersamaan dalam membangun kesamaan visi menuju perusahaan maju.

Dalam perjalanan roda korporasi, sinergitas dan kolaborasi ide dan action sangat diperlukan. Mengatur publik dalam bentuk makro tidak selesai diatur oleh satu gagasan dari satu orang saja. Karena dalam teknis operasional, kebijakan itu harus diserap oleh segenap awak korporasi sebagai pelaksananya. Sehingga, tidak mungkin jika hanya seorang diri mampu menciptakan korporasi besar.

Meskipun dirinya memiliki segala pengetahuan teoritis dan mampu melakukan hal teknis, semua itu akan sulit dicapai bila tanpa sebuah kerjasama. Disinilah nomenklatur korporasi bermula bahwa sebuah kerja yang dilakukan bersama-sama dengan berlandaskan pada kesamaan visi dan misi agar tercapai kesuksesan bersama. Jika korporasi adalah sebuah sistem maka sistem itu harus mampu membentuk sub sistem yang ada didalamnya agar selaras dengan rencana strategis perusahaan.

Antisipasi Perselingkuhan Dalam Korporasi

Perselingkuhan dalam konteks perusahaan atau korporasi adalah tercerainya ide atau gagasan di masing-masing tim utama.  Jika para founding father korporasi memiliki kesepahaman visi di awal pendirian perusahaan namun bercerai pada tahapan berikutnya bahkan membentuk faksi-faksi bisnis tanpa kesepakatan, maka korporasi akan rusak dan sistem akan tercemar.

Kepentingan dan keinginan besar untuk sekedar penyelamatan hidup pribadi akan menjadi satu faktor utama hancurnya sebuah korporasi. Tatanan kuat yang dibangun di saat awal pendirian korporasi harus senantiasa mengedepankan aspek resiko yang akan terjadi di masa mendatang. Prediksi resiko ini setidaknya akan meminimalisasi kehancuran korporasi.

Antisipasi yang harus diambil oleh sebuah perusahaan besar jika menghadapi permasalahan perselingkuhan ide adalah bagaimana masing-masing bisa bersepakat untuk bisa membuka kanal-kanal atau sekoci-sekoci bisnis baru secara pribadi dengan tetap memiliki konsep saling menguatkan satu sama lain.

Konsep saling menguatkan yang dimaksud adalah bahwa sekoci bisnis yang menjadi penyalur hasrat bisnis individu di tim utama ini dapat menjadi pengurang ketegangan antar tim utama. Sekoci dan kapal besar harus diciptakan harmonis karena satu sama lain memiliki konsep simbiosis mutualisme, tidak bersaing dan tidak saling merugikan.

Ibarat penyeimbang agar spanduk yang kita bentangkan di atas jalan besar dengan dorongan angin kuat, maka kita harus membuat lubang-lubang kecil agar angin itu dapat keluar dengan baik tanpa merobek spanduk kita yang terpasang. Perahu besar dan sekoci tetap harus mesra untuk membangun sebuah korporasi besar. Oleh: Nanan Abdul Manan | Direktur Keuangan PT. Embrio Multi Karya

 Growing in Togetherness, Developing in Progressiveness

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.