Take a fresh look at your lifestyle.

“Romantika Rumah Tangga” Merasa Sama-Sama Salah Lebih Baik Daripada Sama-Sama Merasa Benar

0 61

Perbedaan paham antara suami istri dalam rumah tangga tidak mungkin seratus persen dapat terelakkan. Kesalahpahaman itu muncul ketika suami istri memiliki perbedaan persepsi tentang satu masalah dalam rumah tangga. Kesalahpahaman dapat juga mengakibatkan pada kerenggangan komunikasi suami istri, saling menjaga jarak dan saling menjaga gengsi. Kerenggangan komunikasi akan bermuara pada ketidaknyamanan dalam kebersamaan. Puncak dari kemacetan komunikasi itu berakibat pada perseteruan yang berkelanjutan dan mengarah pada saling menyalahkan, saling memojokkan dan saling melakukan pembelaan. Bila perseteruan ini dapat segera diatasi maka akan menjadi bumbu lezat kehidupan yang dapat memperbarui cinta kasih suami istri. Namun, bagaimana jadinya ketika perseteruan itu tak kunjung selesai dan tidak menemukan solusi karena masing-masing pihak saling bertahan pada persepsi benar menurut dirinya. Fenomena ini akan menyulut keretakan bahkan perpecahan rumah tangga.

Salah paham atau perbedaan persepsi antara suami istri harus dikelola dengan baik. Realitas ini semestinya harus terprediksi dan terantisipasi sebelum pernikahan berlangsung. Setidaknya, seorang pria dan wanita yang siap melangsungkan pernikahan untuk menjadi suami istri harus siap menghadapi segala resiko yang akan dihadapi di masa-masa mendatang. Sehingga, kejadian apapun yang di luar prediksi sekalipun, suami istri harus tetap kompak untuk menghadapinya agar solusi permasalahan rumah tangga dapat diatasi dengan baik.

Sama-sama Merasa Benar

Permasalahan besar yang muncul adalah ketika perseteruan suami istri bertahan pada posisi saling merasa benar satu sama lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa permasalahan keluarga terkesan dibebankan hanya pada salah seorang saja (suami saja atau istri saja). Jika dalam rumah tangga terjadi pemisahan tanggungjawab dan terkesan masing-masing, maka penyelesaian masalah tidak pernah terjadi. Saling merasa benar adalah persepsi yang tidak hanya keliru namun juga salah. Hal ini harus dihindari dalam pola komunikasi suami istri. Bila suami istri bersitegang dalam persepsi subjektif tentang benar menurut dirinya maka rumah tangga akan berangsur-angsur mengalami kehancuran. Persepsi sama-sama benar akan mengakibatkan suami istri masing-masing mencari pembenaran, memperkuat dengan alasan-alasan baru dan mencari pihak lain sebagai penguat atas pembenaran dirinya. Jika keadaan ini terus berlangsung maka bisa dimungkinkan diantara mereka akan sulit untuk bersatu lagi dalam keadaan yang harmonis.

Sama-sama Merasa Salah

Fenomena kedua dalam perseteruan rumah tangga adalah suami istri sama-sama merasa bersalah. Kondisi ini dapat terjadi bila dalam pada tahap perseteruan tertentu suami dan istri merasa bahwa perseteruan mereka akan mengakibatkan efek negatif terhadap keluarga yang secara otomatis anak-anak mereka akan merasakan dampak buruk itu. Pertimbangan dewasa ini akan menghantarkan pada kesadaran tinggi tentang pentingnya keutuhan rumah tangga.

Egoisme suami dan istri harus diakhiri dan harus dikalahkan dengan pemertahanan keluarga; masa depan anak-anak. Merasa sama-sama salah adalah cermin kedewasaan dalam berumah tangga. Karena sama-sama merasa salah akan menjadikan suami istri sebagai pribadi yang sadar tentang kekurangan diri masing-masing yang harus diperbaiki. Tanpa menyadari kesalahan atas sikap dan tindakan yang telah diperbuat, bahtera rumah tangga tidak akan pernah mampu berlayar dan menghalau badai gelombang. Pada akhirnya bahtera itu mampu berlabuh di muara sakinah mawadah warohmah, sebuah tipologi keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang, kenyamanan dalam kebersamaan dan berpikiran jauh tentang masa depan yang lebih baik. Inilah esensi bagaimana suami istri harus menyadari tentang kekurangan dan kekeliruan dalam bersikap dan bertindak. Dengan sama-sama menyadari ini maka suami istri akan saling melengkapi segala kekurangan pasangan masing-masing.

Tujuan utama berumah tangga adalah penyatuan hati, pikiran dan raga, sehingga tidak mungkin keharmonisan rumah tangga itu dapat terwujud tanpa keberterimaan suami istri atas segala potensi dan kekurangan pasangannya. Romantika rumah tangga memang unik dan menarik untuk direnungkan. Sebuah perjalanan pengalaman yang tidak ada dalam disiplin ilmu formal secara detail. Penyelesaian itu mesti diatasi dengan pengalaman dan nasehat-nasehat kehidupan yang penuh makna. Romantika itu harus diiringi dengan gaya romantis agar rumah tangga menarik. Gaya romantis itu akan tercipta bila orkestra rumah tangga dalam dimainkan dalam ritme harmonis antara kekurangan dan kelebihan, emosional dan kesadaran, kesalahan dan penerimaan. Hadirkanlah nuansa hangat rumah tangga itu dalam penyatuan perbedaan.***Nanan Abdul Manan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar