Merayakan Kemerdekaan Indonesia Versi Cirebon 15 Agustus 1945

Merayakan Kemerdekaan Indonesia Versi Cirebon 15 Agustus 1945
0 38

Rumah Sakit Gunung Djati Cirebon dan Dr. Soedarsono, ternyata telah menyumbangkan sesuatu yang sangat berarti bagi kemerdekaan Indonesia. Saya kira pernyataan itu, jarang diketahui banyak orang. Cerita ini bukan saja asing bagi mereka yang tinggal di luar Cirebon, mereka yang tinggal di Cirebon sekalipun, belum tentu tahu kalau ternyata Cirebon, justru menjadi pelopor pertama lahirnya proklamasi kemerdekaan.

Jika Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan RI, baru memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka, Cirebon melalui Dr. Soedarsono, malah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dua hari sebelum kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Kepala Rumah Sakit Gunung Djati ini, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1945. Ia memproklamasikan kemerdekaan dimaksud beberapa jam setelah Jepang menyerah pada sekutu.

Dokter Soedarsono adalah kalendestin Jepang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara gigih. Ia memiliki halun ideologi nasionalis di bawah kendali Syahrir. Dari sini juga, penulis melihat bahwa mengapa Cirebon; Kota maupun Kabupaten, selalu dimenangkan kaum nasionalis. Di kota inilah sesungguhnya kaum progresif revolusioner Nasionalis berbasis. Salah satu contohnya adalah sosok Soedarsono.

Belum tentu kalau kita membaca riwayat Chaerul Saleh dan Soekarni. Keduanya adalah pemuda berbasis Cirebon yang memimpin organisasi kepemudaan secara nasional di Jakarta. Dari dia juga, segala informasi tentang Jakrta dan berbagai fenomena dunia masuk ke gerakan bawah tanah di Cirebon. Karena itu pula, menjadi mudah difahami mengapa jalur komunikasi Cirebon-Jakarta atau sebaliknya sangat mudah terjadi. Ternyata, kedua soal ini perspektif sejarah yang panjang.

Sosialis Nasional Berbasis di Cirebon

Buku berjudul Syahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia,  yang ditulis Rudolf Mrazek, menyebut bahwa Syahrir pernah berkata: Anak buahnya bernama Dr. Soedarsono, telah lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dua hari sebelum proklamasi Soekarno-Hatta, 17 Agustus, di hadapan 150 kader Partai Nasional Indonesia [PNI], anak buahnya itu telah mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.

Buku yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, Jakrta, tahun 1996 dengan pengantar Mochtar Lubis itu, menyebut bahwa Proklamasi  Cirebon dibacakan Soedarsono di Alun-alun Kejaksaan Cirebon. Hanya saja informasi tentang kemerdekaan ini, tidak banyak diketahui orang. Bahkan menurutnya, cenderung diabaikan atau bahkan secara implisit terkesan diremehkan.

Teks proklamasi yang dibaca Soedarsono, menurut Syahrir dalam buku dimasukd, setidaknya memiliki kurang lebih 300 kata [karakter]. Isinya menurut Syahrir tidak menggambarkan sikap antipati atas Jepang dan Belanda. Teks proklamasi itu justru menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang. Di teks itu juga dijelaskan bahwa rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain, termasuk kepada sekutu. Hanya patut disayangkan bahwa teks proklamasi itu hilang, meski Syahrir berupaya menyimpannya

Soedarsono dalam buku dimaksud, dikenal sebagai pimpinan bawah tanah berhaluan sosialis yang nasionalis di bawah kendali Syahrir. Kelompok ini cukup getol mendengar dan menganalisis berita yang berkembang seputar Indonesia dan Jepang serta sekutu. Mereka menganalisa siaran Radio BBC. Tanggal 14 Agustus 1945, BBC memberitakan kekalahan Jepang dan menyerah kepada Sekutu.

Syahrir yang masih muda itu, sangat ingin kemerdekaan Tanah Air segera dilakukan. Ia khawatir, momentum proklamasi tidak mampu dilakukan. Dan ini tidak mengandung makna akan mengeliminir kedudukan Soekarno-Hatta sebagai proklamator. Kata Syahrir dalam buku dimaksud.

Radar Cirebon pada 18 Agustus 2013, pada pukul 11.51 menayangkan berita soal proklamasi kemerdekaan Indonesia 15 Agustus 1945 di Cirebon. Tulisan Radar dimaksud, substansinya hampir sama dengan apa yang dirilis Syahrir dalam buku Rudolf tadi. Hasil penelusuran Radar menyimpulkan bahwa berita soal proklamasi kemerdekaan Indonesia Cirebon, bukan isapan jempol. Menurut berita ini, berbagai tulisan yang saling menguatkan akan proklamasi ini, meyakinkan bahwa memang Cirebon telah menjadi pelopor proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cirebon memang Keren. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...