Metode Berpikir Ilmiah | Epistemology Part – 14

0 91

Metode Berpikir Ilmiah. Metode berpikir ilmiah adalah suatu prosedur, cara atau teknik dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam kajian filsafat ilmu, pengetahuan harus diperoleh dengan metode penelitian tertentu melalui langkah tertentu, yang diabsyahkan dalam kaidah ilmiah. Identifikasi atas apa yang disebut masalah dilanjutkan dengan pengumpulan data relevan, disusun dalam sebuah hipotesis, dan kemudian diuji secara empiris. Suatu ilmu yang lahir dengan tidak menggunakan metode berpikir ilmiah, maka, ia tidak layak disebut ilmiah.

Harus diakui bahwa tidak semua pengetahuan didapatkan melalui metode atau pendekatan ilmiah. Itulah kemudian yang membedakan antara pengetahuan [knowledge] dengan ilmu [science]. Untuk memperoleh apa yang disebut dengan ilmu, harus didapatkan melalui pendekatan atau metode ilmiah. Dalam kaidah filsafat ilmu, disebutkan bahwasuatu pengetahuan, baru dapat disebut sebagai ilmu, apabila cara perolehannya dilakukan melalui cara kerja ilmiah. Cara kerja ilmiah dimaksud disebut metode ilmiah.

Metode ilmiah adalah The Prosedures used by scientific in the systematic pursuit of new knowledge and the reexamination of exiting knowledge. (Sebuah prosedur yang digunakan ilmuan dalam pencarian kebenaran baru). Pencarian dimaksud dilakukan dengan sistematis [pengetahuan baru] dan melakukan peninjauan kembali kepada pengetahuan yang telah ada.

Tujuan Penggunaan Metode Ilmiah

Tujuan dari penggunaan metode ilmiah, tentu jelas. Yakni tuntutan agar ilmu berkembang dan tetap eksis serta mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi. Ilmu dituntut up to date. Kebenaran dan ketercocokan sebuah kajian ilmiah akan terbatas pada ruang, waktu, tempat dan kondisi tertentu. Benarnya kaidah keilmuan, lebih secara metodis ia patut dianggap benar. Pendapat semacam ini dapat ditelusuri dari pemikiran Sri Soeprapto (2003) yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pemikiran, pola kerja, cara, teknis dan tata langkah dalam memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada.

Secara etimologis, metode berasal dari kata Yunani, yakni kata meta (sesudah atau di balik sesuatu) dan hodos (jalan yang harus ditempuh). Jadi, metode berarti langkah-langkah (cara dan teknis) yang diambil, menurut urutan (sistematika) tertentu, untuk mencapai pengetahuan tertentu. Metode berarti suatu tata cara, teknik atau jalan yang ditempuh dan dipakai dalam suatu proses untuk memperoleh pengetahuan. Jenis pengetahuan dimaksud bisa social humanistict, historic atau bahkan filsafat.

Dalam Dictionary of Behavioral Science, metode diartikanAi??dengan teknik-teknik dan prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang bersistem dalam menyelidiki alam. Teknik-teknik dan prosedur-prosedur dimaksud, dipergunakan ilmuan untuk mengolah fakta-fakta, data-data dan penafsirannya sesuai dengan asas-asas atau aturan-aturan tertentu yang sebelumnya telah disepakati ilmuan. Hal ini dapat dibaca misalnya apa yang ditulis George F. Kneller (1964) yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah struktur rasional dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Dari situ, maka pangkal-pangkal dugaan disusun (hipotesis) dan kemudian diuji untuk dibuktikan.

Dalam bahasa sederhana, dapat disebut bahwa metode ilmiah adalah suatu prosedur atau tata cara tertentu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesis (dugaan sementara) yang ditentukan sebelumnya. Anturo Resemblueth yang dikutip Kneller mendefinisikan metode ilmiah sebagaii procedure and cricteria used by scientist in the contraction and depelopement of their spesifice discipline”.

Munculnya Metode Berpikir Ilmiah

Kapan metode ilmiah ini ada dan digunakan manusia? Tampaknya, sejak “bapak pertama manusia” (Adam) “turun” ke bumi. Rumusan dasar metodis ini sudah digunakan, meski mungkin belum diteorikan. Asumsi saya ini muncul dengan menggunakan pendekatan bahwa, ketika Adam turun ke bumi, ia sudah dihadapkan pada-problem yang sama sekali belum pernah dihadapi sebelumnya. Khususnya tentu ketika dia ada di Syurga, yangAi??diasumsikan sebagai tempat yang serba menjanjikan, serba meng-enakan dan membahagiakan.

Berbagai hal tentang kebutuhan manusia, lahir dan bathin, dapat dengan mudah didapatkan tanpa harus mengeluarkan energi kemanusiaan. Berbagai kenikmatan syurgawy tadi, ternyata diberontak Adam. Adam merasa bahwa kondisi Syurgawi yang non-adiragawiy, seolah bukan taqdirya.

Ia berontak atas nama kemanusiaan dan memilih hidup dalam literatur kemanusiaan yang ragawiy. Karena itu, dimakannya buah khuldi, dapat difahami sebagai pilihan kemanusiaan Adam yang bercita-cita menaklukan kesemestaan tanpa harus banyak tunduk atas taqdir butanya yang langsung diberikan Tuhan berupa berbagai kenikmatan hidup di Syurga.

Ketika Adam hidup di bumi, tiba-tiba perutnya lapar sementara makanan “tersaji” seperti di Syurga tidak lagi diperoleh. Ia dituntut segera mengisi perutnya. Tetapi dengan apa ia mengisi perut? Adam belum dapat menjawabnya. Ketika diketahui benda atau barang tertentu yang dapat mengenyangkan perutnya, taruh misalnya jagung dan padi, Adam tidak mengetahui bagaimana cara memperolehnya. Ia dituntut mempertahankan barang atau benda yang dapat mengenyangkan.

Ia pun terus dituntut mengembangkan apa yang didapatnya. Rantaian perjalanan Adam dan keturunannya seperti tergambar tadi, disadari atau tidak, telah melahirkan kemampuan manusia dalam mengelola sistem pertanian, Itulah manusia. Makhluk kecil, sekaligus kreator ilmu Tuhan yang memiliki missi besar menaklukan alam untuk mempertahankan eksistensinya di bumi. Ia tidak lagi mudah mendapatka makanan seperti ia peroleh di Syurga.

Fungsi Metode Ilmiah

Andaikan di dunia ini manusia bisa hidup seperti dalam “dongeng Aladin”, tentu manusia tidak dituntut memiliki dan melahirkan pengetahuan. Atau andaikan Adam “tidak ceroboh” atau tidak tergoda syeitan untuk mendekati buah Khuldi di Syurga, tentu manusia tidak lelah menghadapi berbagai tantangan. Tetapi jika itu benar-benar terjadi, siapa yang menjadi khalifnh Tuhan di bumi? Bukanlah manusia memang diciptakan untuk menjadi pengganti-Nya yang karenanya berfungsi untuk menjadi pemimpin atas makhluk- makhluk Tuhan yang lain?

Manusia sebagai pengganti Tuhan dan pemimpin bumi, tentu dituntut arif untuk memecahkan berbagai soal yang dihadapinya. Kemampuan manusia dalam memecahkan soal- soal yang melingkupi dirinya, akan menjadi starting point, pengekalan eksistensi manusia. Eksisensi dan kemajuan manusia, dengan demikian, akan bergantung pada tekad manusia untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Kecenderungan untuk terus meningkatkan tarap hidup itu, hanya milik manusia. Kecenderungan- kecenderungan tadi, dalam bahasa yang populer, di kalangan kaum terdidik, diselesaikan dengan metode ilmiah. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.