Inspirasi Tanpa Batas

Metode dan Teknik Internalisasi Nilai| Interactive Learning Part – 2

0 5

Konten Sponsor

Metode dan Teknik Internalisasi Nilai. Ada dua metode internalisasi yang ditawarkan. Kedua metode dimaksud adalah: Budaya Refleksi dan Keheningan. Keduanya saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan. Refleksi membutuhkan suasana hening, keheningan ini akan tercapai saat terjadi refleksi.

Refleksi 

Secara etimologis, refleksi berasal dari verbum compositum bahasa Latin re-flectere, artinya antara lain, memutar balik, memalingkan, mengembalikan, memantulkan, dan memikirkan. Kiranya, dua arti terakhir yang cocok untuk mendefinisikan refleksi dalam kerangka permenungan. Refleksi adalah usaha untuk melihat kembali sesuatu secara lebih mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi hingga menemukan nilai yang mulia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal hidup.

Peran refleksi dalam kerangka ini juga sebagai nabi. Secara harafiah, nabi adalah utusan Tuhan untuk memperingatkan dan membimbing umat-Nya. Refleksi yang berperan sebagai nabi ini akan menjadi fungsi kritis dalam diri kaum muda. Saat ia mengalami pendangkalan nilai-nilai hidup dalam bentuk pragmatisme, konformitas buta, dsb, refleksi berperan dalam mengolah masalah itu, menunjukkan kesalahannya, dan mengarahkan kepada yang benar.

Keheningan

Keheningan di zaman globalisasi juga menjadi problem tersendiri. Kecuali dalam keadaan tidak sadar (tidur, misalnya) kecenderungan manusia zaman ini, terutama kaum mudanya, tidak betah dalam suasana yang sunyi dan tenang. Minimal, harus terdapat suara, entah itu dari radio, televisi, atau teman ngobrol.

Di sisi lain, lingkungan yang ada memang mengkondisikan minimnya tempat-tempat sunyi dan tenang. Keheningan sering dianggap menakutkan, menjadi phobia. Memang, keheningan itu berhubungan erat dengan kesendirian. Dalam bahasa latin, terjemahan untuk keheningan adalah solitudo.

Akar katanya solus, yang artinya sendiri. Tapi, kesendirian bukanlah suatu yang negatif dan pantas dijadikan phobia. Kalau kesendirian itu menjadi kesepian, barulah itu dihindari. Mengapa? Walaupun antara keduanya sama-sama memiliki unsur sendiri, keheningan dan kesepian itu adalah dua hal yang bertolak belakang. Keheningan bukan hanya milik rahib-rahib pertapa.

Bahkan, keheningan bisa didapatkan ditengah-tengah kesibukan dan bisingnya kota. Bahkan dalam kesemerawutan bursa effek, seorang pialang dapat mencapai keheningan. Semuanya tinggal tergantung pada masing-masing pribadi. Bagaimana mereka dapat menempatkan dan menyempatkan diri untuk dapat hening. Sebenarnya keheningan memegang peranan yang penting dalam proses internalisasi.

Keheningan adalah highway (baca: jalan bebas hambatan) menuju budaya refleksi. Proses pengendapan (baca: internalisasi) membutuhkan keheningan, seperti halnya pada gelas yang berisi keruh. Untuk mendapatkan air yang jernih, perlu terlebih dahulu, partikel-partikel kotoran yang tercampur dalam air itu mengendap. Modal dasar supaya partikel-partikel itu dapat mengendap adalah ketenangan.

Biarkan gelas itu selama beberapa menit, partikel-partikel pengotor akan mengendap di bagian bawah gelas dan yang tersisa hanyalah air jernih. Apabila gelas itu digoyang-goyang, tidak akan pernah didapatkan air jernih. Senada dengan itu, ditengah-tengah kekeruhan zaman globalisasi ini, perlu ada sikap hening sebagai pengantar refleksi menuju pengendapan makna-makna hidup. Bahkan, keheningan dapat membuat orang semakin efisien (hubungkan dengan analogi air keruh dalam gelas!).

Budaya Pop dan Problem Internalisasi Nilai

Homogenitas budaya pop akan menawarkan sejuta kesan-kesan yang berseliweran di sekitar kehidupan manusia modern. Bila manusia-manusia itu malah menambah diri dengan kesibukan dan kebisingan lain, yang didapatkan hanyalah kehidupan yang tidak bermakna. Dalam mengatasi homogenitas budaya pop, perlu manusia-manusia zaman globalisasi ini bersikap hening, tenang, sunyi.

Akhir sebuah Awal Di akhir permenungan ini, baik kalau kembali disadari bahwa manusia-manusia dunia sekarang ini telah mengarah pada pendangkalan makna-makna hidup dengan adanya homogenitas budaya pop. Dan, bila tendensi ini terus dipelihara -atau bahkan, malahan dibudidayakan-, kehidupan ini semakin tidak ada artinya. Maka, yang menjadi urgensi adalah usaha-usaha internalisasi.

Bagaimanapun juga, permenungan ini hanyalah semata menjadi pemercik api. Kelak, api harus berkobar dengan sendirinya. Tanpa tindak lanjut yang jelas, permenungan ini hanyalah menjadi seonggok ide yang membusuk. Jadi, semuanya kembali pada diri masing-masing: apakah selama ini saya telah terjebak dalam arus homogenitas budaya pop. Lalu, maukah saya berbenah dan mengusahakan usaha-usaha internalisasi. Kembali pada diri sendiri itu penting karena sebuah pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Selamat berefleksi dan menciptakan hening!

Teknik Internalisasi Nilai

Secara teknis, internalisasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Menyediakan waktu untuk membaca kalimat motivasi dimaksud dengan perlahan (boleh dalam hati) dengan cara berulang-ulang minimal 50 kali
  2. Ketik kalimat tertentu yang menjadi dorongan ke dalam kertas kerja atau ke Screen Saver komputer atau diprint dalam format yang indah dan ditempelkan kalimat tersebut di depan meja kerja atau di mana saja yang memungkinkan setiap orang melihatnya dengan cara yang terus menerus.
  3. Setelah kalimat dimaksud dianggap telah meresap ke dalam batin, ganti lagi dengan kalimat-kalimat motivasi diri lainnya.
  4. Bagikan kalimat motivasi yang sudah menjadi sikap hidup kepada orang lain, termasuk siswa yang menjadi asuhan. Kalimat dimaksud dapat juga dikirimkan melalui email atau diprint ke kartu. Secara perlahan dan pasti, guru akan merasakan perubahan sikap positif dalam diri seseorang. By. Dr. H. Djono

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar