Mihrab-ku | Kumpulan Puisi Prof Dr H Cecep Sumarna Part – 16

0 99

Mihrab-ku. Puisi yang disusun Prof. Dr. Cecep Sumarna. Dalam  beberapa edisi belaiu akan senatiasa mengisi kolom Puisi yang kami terbitkan. Tema yang akan hadir diantaranya  puisi spiritualisme, Puisi islami,dan puisi yang lebih mengedepankan aspek-aspek kemanusiaan, yang team lyceum sebut dengan istilah kumpulan puisi agama kemanusiaan  yang berjudul mihrab-ku.

Dalam  beberapa bait penulis menujukan syair sebuah kepasrahan ,penuh warna dan dapat mendorong para pembaca untuk kembali dihidupkan jiwa kemanusiaannya.

Mihrab-ku

Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Detik ini aku masih duduk
Duduk dalam mihrab Tuhan
Mihrab yang hanya diisi aku
Bersama kekasih dan Tuhanku

Angin malam menyapaku
Tidurlah dengan tenang dan damai
Biarlah aku yang menyampaikan pesanmu
Untuk siapapun yang merindukanmu
Andai malam ini bisa kusingkatkan
Aku hanya ingin menyampaikan seutas kata
Kata yang tak mungkin kuwakilkan
Pada siapapun apalagi pada apapun
Mengapa …. ?
Karena Tuhan memintaku duduk bersamanya
Merenungkan segala misteri
Misteri hidup yang sulit kutafsirkan
Detik dan malam ini
Karena itu hanya mampu kukirimkan
Sebuah kata istimewa bersama tetesan air mataku
Tuhan jagalah kami dalam segenap msiteriMu

Sepenggal Tentang Penulis

Lahir di Tasikmalaya, tepatnya di Kampung Cikuya, Desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 28 Oktober 1971. Ibu beranama Hj. Siti Mardiyah dan bapak bernama H. Muslim Suryana (alm). Dua sosok yang memiliki latar belakang berbeda. Bapak memiliki trah intelektual dan ibu memiliki trah kekayaan. Kakek ibu adalah raja tanah yang hamper menguasai sebagian besar tanah milik di sebuah tempat yang hari ini telah menjadi tiga desa.

Dibesarkan dalam kultur keluarga yang juga berbeda. Bapak kerjaannya selain mengajar di sekolah, ya membaca dan membaca. Tahun 1970-an, bisa anda bayangkan kalua bapak saya itu sudah menjadi pelanggan Jurnal Panji Masyarakat yang banyak mengulas pemikiran M. Natsir, Muhammad Room, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Buya Syafi’i Ma’arif dan Abdurachman Wachid. Tentu selain Hamka dan belakangan beberapa tulisan Azyumardi Azra dan Qomarudin Hidayat. Selengkapnya Baca Spektrum Profesor Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...