Missi Berdirinya Peguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia

1 17

Missi Berdirinya Peguruan Tinggi Agama Islam. Sebagai suatu institusi pendidikan Islam, posisi Perguruan Tinggi Agama memang terus mengalami perubahan. Tidak saja karena, perkembangan keilmuan yang terus mengalami pengayaan, tetapi, juga karena yang mengemban missi dakwah Islam yang bertanggung jawab terhadap syiar agama di masyarakat. Sehingga tidak salah jika salah satu orientasi PTA terfokus pada pertimbangan dakwah. Orientasi itu tidaklah keliru menjadikan sebagai lembaga dakwah, pada dasarnya telah mengurangi peran yang semestinya lebih ditonjolkan sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam. Karena PTA sama dengan PT lain sebagai lembaga akademis, maka tuntutan dan tanggungjawab yang dipikul oleh LPTA adalah tanggungjawab akademis dan ilmiah. Dengan demikian, pertimbangan yang diberikan untuk menakar bobot suatu pikiran, temuan dan penelitian haruslah sesuai dengan ukuran ilmiah pula.

PTAI dan Jaringan Ulama Timur Tengah

Tarik menarik antara kedua kutub pendirian inilah yang menjadi  dinamika sekaligus hambatan bagi perkembangan kehidupan akademis PTA. Memang tentu saja idealnya antara kedua aliran atau kepentingan im dapat dipertemukan sehingga tidak perlu membenturkan antara kepentingan dakwah dan kepentingan ilmiah. Bukankah antara keduanya dapat ditemukan; apa yang didakwahkan seharusnya yang secara ilmiah dapat dipertanggung- jawabkan. Perbedaan itu mungkin dapat dipahami jika melihat latar belakang dan pendirian perguruan tinggi Islam. Perguruan tinggi merupakan keharusan sebagai institusi tinggi lanjutan bagi pendidikan Islam. Hal itu berarti perguruan tinggi sebagai wadah bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, yang dengan itu diharapkan mereka dapat berdakwah dengan baik. Selanjutnya, dengan kemampuan intelektual yang memadai. umat Islam dapat berperan dalam membangun Indonesia. Di samping itu. pendidikan tinggi juga berfungsi sebagai institusi keagamaan untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan kualitas pemikiran keagamaan.[1]

Transmisi keislaman ke Nusantara, seperti yang dicatat Azyumardi Azra dan Zamakhsyari Dhofier, dikembangkan lewat jaringan para ulama. Karena pusat keilmuan keislaman berada di Timur Tengah, utamanya dua kota suci Mekkah dan Madinah dan pada abad kemudian ditambah Kairo, corak keislaman yang berkembang di Indonesia mengikuti perkembangan yang terjadi di pusat pusat Islam tersebut. Aspek-aspek lokal tetap menjadi ciri khas yang menonjol dari corak pemikiran keislaman di Indonesia. Namun isu-isu utama yang ditransmisikan ke Indonesia mengikuti kecenderungan utama dunia Islam. Jaringan keilmuan ulama ini juga sangat mempengaruhi, kalau tidak membentuk, tradisi keislaman di Indonesia. Salah-satu yang menonjol adalah tradisi keilmuan yang berpusat pada tokoh-tokoh tertentu dan pengembangan tradisi menghafal (hifdh) dan eksplanasi (syarh) buku-buku tokoh-tokoh tertentu. Dan harus dicatat bahwa pendidikan keislaman di Indonesia mengikuti pola transmisi pengetahuan seperti ini. Tidak mengherankan jika kajian-kajian di lembaga pendidikan Islam terfokus pada paham atau buku-buku karya Mama tertentu saja.

Namun demikian, sejalan dengan terbukanya akses pendidikan ke pusat studi selain Timur Tengah, wacana keilmuan di Indonesia juga semakin berkembang. Salah satu yang menonjol adalah tradisi keilmuan yang dibawa pulang oleh kafilah IAIN (dan kemudian lahir IAIN Syekh Nurjati) dari studi mereka di Mc.Gill University secara khusus dan universitas-universitas lain di Barat secara umum. Berbeda dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh jaringan ulama yang mempunyai kecenderungan untuk mengikuti dan menyebarkan pemikiran ulama gurunya, tradisi keilmuan Barat, kalau boleh dikatakan begitu, lebih membawa pulang metodologi maupun pendekatan dari sebuah pemikiran tertentu. Sehingga mereka justru bisa lebih kritis sekalipun terhadap pikiran profesor­-profesor mereka sendiri. Di samping aspek metodologis itu, pendekatan sosial empiris dalam studi agama juga dikembangkan. Maraknya pemakaian pendekatakan sosio-historis dalam studi agama di perguruan tinggi Islam belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari peran para alumni pendidikan studi Islam di Barat tersebut. Pendekatan sosial ini sesungguhnya memberikan perangkat analisis yang luas bagi pemahaman Islam yang telah berkembang sedemikian rupa berbarengan dengan realitas empirik sosial. Walaupun tidak sedikit kritikan yang ditujukkan terhadap pendekatan sosio-historis tersebut, namun peminat terhadap pendekatan ini semakin menguat. Karena itu dengan memudarnya dikotomi antara pendekatan Barat dan Timur Tengah dalam studi Islam di Indonesia memberikan kelenturan untuk membuat, jaringan intelektual dengan berbagai kalangan. Jaringan dan kerjasama dengan lembaga intelektual semakin luas dan telah menampakkan hasilnya. Walau secara tradisional, IAIN/IAIN Syekh Nurjati tetap mengembangkan jaringan yang intens dengan kalangan intelektual Timum Tengah, namun pada saat ini jaringan internasional ke Barat juga mendapat perhatian serius di kalangan pengambil kebijakan dari sarjana IAIN.[2]

BACA JUGA:

Perbedaan Cara Pandang di PTAI

Tidak dapat dipungkin bahwa beragamnya pendekatan serta perbedaan cara pandang dalam studi agama di lembaga ini memberikan gambaran yang cukup jelas betapa beragam serta dinamisnya pemikiran keislaman di perguruan tinggi Islam di Indonesia. Di sinilah sesungguhnya peran penting yang dimainkan IAIN. Menjadi meeting pot dan melting pot tempat bermuaranya berbagai pandangan dan pendekatan studi Islam. Diharapkan pada gilirannya pertemuan berbagai pendekatan mampu memunculkan tradisi studi Islam yang khas di tanah air.[3]

Pada sisi lain, muncul kecenderungan dan orientasi yang sangat positif dalam studi Islam di Indonesia yang ditandai dengan maraknya lembaga-lembaga penelitian dan kajian di IAIN (dan juga IAIN Syekh Nurjati). Lembaga-lembaga ini memberikan tempat bagi lahirnya penelitian sosial yang melihat agama dan perubahannya dari kacamata ilmu sosial yang lebih luas. Tanpa disadari, sebagai konsekuensi yang tidak diduga (unintended consequence) dari maraknya penelitian sosial ini adalah para sarjana Islam lebih mewarnai opini publik Indonesia baik terutama yang menyangkut masalah agama yang berkaitan dengan  masalah-masalah sosial yang lebih luas. Lewat penelitian-penelitian sosial tersebut, tema-tema yang dijadikan obyek kajianpun juga semakin luas. Kajian-­kajian kontemporer seperti demokrasi, civil society, gender, lingkungan dan semacamnya menjadi wacana intelektual yang tersemai secara subur; yang padahal sebelumnya tradisi penelitian di lingkungan IAIN lebih banyak berkutat masalah teks-teks Islam. Tidak mengherankan jika banyak tokoh dari IAIN dan IAIN Syekh Nurjati kemudian terkenal sebagai ahli dalam kajian  kontemporer tersebut. Dan jika dicermati lebih mendalam, munculnya lembaga penelitian dan kajian dan juga melebarnya topik-topik yang dikaji, memberikan peluang yang lebih luas bagi kalangan IAIN untuk mengembangkan potensi yang lebih intens. Dengan kata lain, masalah kajian keagamaan dapat dikembangkan sesuai dengan kecenderungaan sosial yang berkembang. Memadukan antara kajian teks-teks klasik Islam dengan masalah kontemporer merupakan kekayaan tersendiri yang menjadi nilai lebih bagi pengembangan intelektual di perguruan tinggi Islam.[4]

Jaringan yang luas dengan kalangan yang beragam ini, bukan karena isu sesaat seperti kasus teroris yang sekarang ini ramai dibicarakan, menunjukkan bahwa PTAIN memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Lebih dari itu, bertambahnya keyakinan intelektual Muslim akan kemampuan mereka untuk bergaul dengan kalangan yang lebili luas. Hal itu dikarenakan kemampuan urnat Islam untuk dapat membicarakan masalah sosial, tidak rnelulu agama. Jaringan dengan lembaga dunia yang lebih luas ini akan semakin memperkaya dan memperkuat wacana keilmua IAIN (dan IAIN Syekh Nurjati) yang pada gilirannya nanti akan mencitrakan positif bagi perkembangan studi Islam di Indonesia.

SDM PTAI

Sejalan dengan orientasi baru studi Islam di IAIN, maka pertanyaan yang muncul adalah sejauhmana perubahan tersebut dapat memban tululusan IAIN untuk melakukan mobilitas sosial mereka? Data statistik di dua IAIN, Jakarta dan Yogyakarta, menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari mahasiswanya adalah datang dari desa, walaupun kedua IAIN tersebut berlokasi di kota. Kenyataan ini menunjukkan bahwa IAIN (dan IAIN Syekh Nurjati) menyerap banyak dari kalangan mereka yang tidak mampu. Jika ditelusuri lebih lanjut penyebaran alumni IAIN, ternyata kebanyakan dari mereka kembali ke pedesaan mengurus pendidikan semisal IAIN Syekh Nurjati dan madrasah atau menjadi juru dakwah.[5]

Di samping memerankan peran tradisional di atas, IAIN sebenarnya juga berfungsi sebagai batu loncatan mobilitas umat Islam Indonesia. Melengkapi keahlian alumni IAIN tidak saja dengan kecakapan dalam bidang agama, tetapi juga dengan kecakapan akademis dalam bidang sosial seperti penelitian clan penguasaan terhadap isu-isu kontemporer, memberikan kesempatan yang lebih besar untuk dapat berperan dalam masyarakat. Setidaknya mereka tidak harus “pulang kampung” untuk menjadi pekerja sosial Islam, tetapi dapat pula mengais rejeki di kota. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, tampilnya alumni IAIN di pentas nasional belakangan ini akibat dari perubahan orientasi akademik IAIN.

Mungkin saja berlebihan untuk mengatakan bahwa IAIN (dan IAIN Syekh Nurjati) di Indonesia memainkan peranan yang sangat penting dalam mengentaskan kemiskinan. Perhatian utama IAIN (dan IAIN Syekh Nurjati) untuk memberikan pendidikan bagi kalangan menengah ke bawah (seperti yang ditunjukkan dari profil mahasiswa di IAIN Syekh Nurjati Cirebon sesungguhnya adalah usaha yang sangat penting untuk memberikan akses bergaul yang lebih luas pada kalangan menengah ke bawah tersebut. Pilihan modernitas pemikiran keagamaan, seperti yang, diungkapkan oleh Harun Nasution maupun Mukti Ali, dimaksudkan untuk mengantar umat Islam Indonesia agar dapat berdialog dengan paham-paham dan wacana modern yang sedang berkembang.

Selama beberapa dasawarsa terakhir ini telah terjadi perubahan besar dalam tingkat dan keluasan pengetahuan umat Islam Indonesia pada umumnya. Perubahan ini terjadi sebagai akibat perkembangan pendidikan, perkembangan media massa serta perkembangan ekonomi, sains clan teknologi. Ini merupakan hasil nyata dari pembangunan nasional yang terencana dan terarah.

Perubahan yang telah, sedang berlangsung maupun yang akan terjadi berpengaruh pada kehidupan keagamaan masyarakat serta tuntutan yang diharapkan dapat dipenuhi oleh para ahli dalam bidang agama, termasuk para ahli agama Islam.[6]

Perkembangan pesat dalam pendidikan dapat dilihat bilamana kita bandingkan keadaan pendidikan di Indonesia menjelang akhir masa penjajahan Hindia Belanda, tahun 1940-an dengan keadaan pendidikan sekarang. Keadaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dinyatakan menjadi negara yang merdeka, pendidikan menjadi sangat berbeda. Tingkat pengetahuan umat Islam Indonesia telah menjadi sangat maju dibanding dengan tahun 1950-an, dibanding dengan masa jajahan Hindia Belanda, apalagi di zaman Orde Baru.

Perubahan besar dalam masyarakat Islam tentu saja tidak hanya dalam tingkat clan keluasan pengetahuan umum umat Islam Indonesia, terlebih lagi sejak perubahan Orde Lama menjadi Orde Baru. Perubahan besar  terjadi dalam bidang ekonomi, komunikasi, dan pola permukiman dan bangunan, lingkungan fisik dan sebagainya.[7]

Implikasinya pada Perubahan

Dengan sendirinya, perubahan-perubahan ini mengakibatkan terjadinya banyak pergeseran dalam masyarakat yang mengancam pedoman-pedoman moral. Kepercayaan, nilai, kebiasaan dan sentimen tradisional, yang menjadi dasar keyakinan dan rasa tanggung jawab melemah pada banyak golongan dalam masyarakat. Semakin banyak kepentingan perorangan lebih diutamakan daripada kepentingan bersama. Semakin banyak kepentingan perorangan tidak terkait dengan makna yang lebih mendalam.[8]

Peningkatan taraf pengetahuan umum umat Islam Indonesia mengakibatkan tuntutan saling keterkaitan antara ajaran agama dan kehidupan sehari-hari para anggota umat beragama tertentu, termasuk umat agama Islam, juga menjadi lebih rumit. Bilamana pada waktu pengetahuan umum para anggota masyarakat masih bertaraf rendah, ajaran agama dapat dijelaskan secara sederhana, bilamana pada waktu itu tidak ada tuntutan untuk memberikan penjelasan pada taraf kecanggihan berpikir yang berbeda, kini masyarakat yang berpengetahuan umum lebih mendalam. lebih luas, dan lebih beraneka ragam menuntut penjelasan sesuai dengan taraf berpikir dan cara ajaran agama yang juga sesuai berpikir yang beraneka ragam ini.[9]. Dr. H. Jhono, MA

[1] Azyumardi Azra. Mencetak Muslim Modern. Jakarta: Grafindo, 1999. hlm. 169-170.

[2] Ibid.

[3] Abuddin Nata. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Grafindo, 2003. hlm. 15.

[4] Fuad Jabali. IAIN dan Modernisasi di Indonesia. Jakarta: PPIM 1999. hlm. 67,

[5] Ibid

[6] Imron Abdullah. Modernisasi Pendidikan Islam Abad 21. Cirebon: STAIN Cirebon Press, 2007. hlm. 13

[7] Nurcholish Madjid. Islam, Kemoderenan dan Keindonesiaa. Bandung: Mizan, 1995. hlm. 67

[8] Deliar Noer. Perubahan, Pembaruan dan Kesadaran Menghadapi Abad ke-21. Jakarta: Dian Rakyat, 1993, Cetakan Kedua, hlm. 389.

[9] Ibid

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.