Beranda » Sastra Budaya » Budaya » Misteri Putri Cina Ong Tien Nio dalam Kisah Masyarakat Cirebon

Share This Post

Budaya

Misteri Putri Cina Ong Tien Nio dalam Kisah Masyarakat Cirebon

SIAPA Putri Ong Tien Nio yang dalam babad Cirebon menikah dengan Sunan Gunung Jati? Benarkah Ong Tien Nio adalah putri Kaisar Ming?. Dalam Kisah Masyarakat Cirebon yang ditulis Masduki Sarpin. “Sambil mengejek. Kaisar mengatakan sesungguhnya putri Ong Tien Nio tidaklah mengandung dan untuk membuktikannya kaisar membuka ikatan bokor kuningan di atas perut putrinya. Tetapi betapa kagetnya sang kaisar,  dengan kehendak Allah swt, sirnahing goro wujuding nyata, bokor yang dinadung itu hilang tanpa krana dan putri Ong Tien Nio benar-benar mengandung.”

Kutipan dari Pustaka Negara Krethabumi (1670)  di bawah ini cukup memberikan gambaran, siapa sesungguhnya Putri Ong Tien Nio.

cinaritakna susuhunan jati mastri lawan putri nira pangéran cakrabuwana yata nay pakungwati. Uga  susuhunan jati mastri lawan putri cina ong titin nio yata lia nyon tin ngaran nira wanéh. I pasang-gaman nira mānak jalu sasiki kang angemas[s]i ri kala hanyar miji-ling luragung dukuh. sang ayu manangis duka. Matangyan sang ayu mangarpakānak radén kumuning anakkira ki agheng luragung ikang hanyar mijil i sedhengira sang ayu maweh bokor kuningan ring ki agheng tumuli.

ika bokor gawānira sakéng cina nagari. hanata sinanggurit ing bokor ika sang nagabraja lawan ngaran hong gimaharaja nunggang jaran sira ming wangçanya. Satkan nira sang ayu ngejawa mahawan prahwa bantalléo wastanya lawan patang daça sakwéhira saparicaranya ikang dlāha saparwa mekul agama rasul kang saparwa agama budha. I ka sang ayu déni ringngaken déning sénapati li gwan cang lawan nakoda prahwa li gwan hin ngaran nira. kang a(nge) mas[s]i ing ghiri kumbang sira takcé asal[l]ing sang nakoda. Malah wwang pasanak[k]ira ki dampu saking cempa nagari asalira.

tumuluy kaulabala cina. kang huwus mekul agama rasul sira cina-nandhi ng ghiri ngamparan jati jéjér makabéhanya sabala nira. I ka prahwa bantalléo mandeg tekéng muhara jati mulih tumuli ring cinanagari mandeg i palembang. Raja cina kalengleng duka ring anakkira. māpan sang ayu ndatan mulih. Karana huwus atmutangan lawan syariph hidayat ing pasambangan dukuh. sang ayu kadoyan[n] ira ika pethis. makanimitta ika sinebut ratu pethis. Lawan putri cina kawala patang warça heneng[ng]aknang kathā sakareng. (Negara Krtabhumi, Wabgsakerta,1670).

(diceritakan Sunan Jati menikah dengan putrinya Pangeran Cakrabhuwana ialah Nay Pakungwati juga Sunan Jati menikah dengan Putri Cina Ong Tien Nio ialah Lia NyonTien namanya. Dari pernikahannya berputra seorang laki-laki yang meninggal pada waktu baru dilahirkan di Dukuh Luragung. Sang Ayu menangis sedih,  karena itu Sang Ayu mengangkat Raden Kemuning anak Ki Agheng Luragung yang baru lahir sebagai  anak, sedangkan Sang Ayu selanjutnya  memberi bokor kuningan kepada Ki Agheng.

Rekomendasi untuk anda !!   "Watu Celek"Ambisi Kekuasaan Datuk Pardun

Bokor itu dibawanya dari negeri Cina, ada pun yang membuat bokor itu sang nagabraja dengan nama Hong Gi, maharaja penunggang kuda dari Wangsa (dinasti) Ming. Datangnya Sang Ayu ke Pulau Jawa memakai perahu bernama Bantalleo dengan empatpuluh orang pengiring yang kelak sebagian memeluk agama Islam yang sebagian (tetap) agama Budha. Sang Ayu itu dibarengi oleh Senapati Li Gwan cang dan nahkoda Li Gwan Hin namanya yang meninggal di Gunung Kumbang.  Takce tersebut berasal dari Ling seorang nahkoda, sanak keluarganya Ki Dampu (Awang) dari Negeri Cempa asalnya.

Selanjutnya balatentara Cina yang telah memeluk agama Islam dimakamkan di Gunung Amparan Jati berjajar semua satu pasukan, (adapun) perahu Bantalleo itu tiba (dan)  berhenti di Muara Jati, selanjutnya kembali ke Negeri Cina berhenti di Palembang. Raja Cina teringat sedih kepada anaknya, sebab Sang Ayu tidak kembali, karena telah menikah dengan Syariph Hidayat di Dukuh Pasambangan. Sang Ayu kesukaannya itu pethis, oleh karena itu disebut Ratu Pethis, dengan Putri Cina (Susuhunan Jati) hanya empat tahun).

Dalam catatan Slamet Mulyana (LKiS) “Berita Tionghoa dari Klenteng Talang” menyebutkan pada tahun 1415, Laksamana Haji Kung Wu Ping, keturunan dari Kong Hu Chu (Konfisius) mendirikan menara mercu suar di atas bukit Gunung Jati.  Di dekat perkampungan tersebut dibentuk pula masyarakat Tionghoa Islam bermazhab Hanafi di Sembung,  Sarindil dan Talang. Masing-masing lengkap dengan masjid. Kampung Sarindil (diduga Desa Astana- saat ini).

Kampung Sarindil ditugaskan menghasilkan kayu jati untuk perbaikan kapal-kapal. Kampung Sembung ditugaskan merawat mercu suar. Kampung Talang ditugaskan merawat pelabuhan. Ketiga kampung-kampung Tionghoa Islam/Hanafi itu ditugaskan pula menyediakan bahan-bahan makanan untuk kapal-kapal Tiongkok (Dinasti Ming). Saat itu, daerah Cirebon masih kosong penduduk,  tetapi sangat subur karena terletak di kaki Gunung Ciremai.

Tentang Putri Cina, Klenteng itu memberitakan, pada tahun 1553, supaya ada permaisuri di Kesultanan Cirebon yang baru, maka Sultan Cirebon yang pertama – yang sudah lanjut usianya – menikahi dengan seorang putri dari Haji Tan Eng Hoat,  alias Maulanan Ifdil Hanafi. Dari Sembung ke keraton Cirebon, putri Cina itu diberangkatkan dengan upacara kebesaran,  seperti perkawinan kaisar-kaisar Tiongkok di masa Haji Sam Po Bo. Dikawal kemenakannya yang masih muda, Tan Sam Cai, yaitu Tan Sam Cai,orang yang dicar-cari dalam penyeilidikan Poortman.

Rekomendasi untuk anda !!   Hajatan Keluarga Miskin | Refleksi Sosial Part – 1

Penjelasan ini sejalan dengan pendapat sejarawan Tionghoa mendiang Iwan Satibi yang menyatakan, Putri Ong Tin Nio adalah anak seorang saudagar muslim kaya raya bermazhab Suni Hanafi.  Memang dalam Time line of history of China (Encarta, Reference Library, 2003) Kaisar dari Dinasti Ming yang berkuasa pada masa itu tidak mempunya seorang anak pun.

Sangat tidak mungkin, anak seorang kaisar berangkat bersama para prajurit untuk menyusul Syekh Syarif Hidayatullah, karena tradisi di Tiongkok saat itu tak memungkinkan seorang gadis pergi kel luar negeri. “Sangat pantang,” kata budayawan Tionghoa Jeremy Hwang. Pandangan ini pun banyak diperkuat tokoh-tokoh etnis Tionghoa lainnya.

Memang dalam kitab Pustaka Negarakrthebumi tidak menyebutkan, Potri Ong Tien Nio adalah putri kaisar dari Dinas Ming. Sangat mungkin, kisah itu merupakan dongeng untuk melahirkan citra sultan semata yang memberi makna Kaisar Cina pun bisa tunduk kepada Sultan Cirebon. Demikian juga bokor yang ditaruh di balik baju Ong Tien Nio,  sehingga seakan mengandung, menurut manuskrip tersebut.

sedhengira sang ayu maweh bokor kuningan ring ki agheng tumuli. I ka bokor gawānira sakéng cina nagari. Hanata sinanggurit ing bokor ika sang nagabraja lawan ngaran hong gimaharaja nunggang jaran sira ming wangçanya. Satkan nira sang ayu ngejawa mahawan prahwa bantalléo wastanya lawan patang daça sakwéhira saparicaranya ikang dlāha saparwa mekul agama rasul kang saparwa agama budha.

 “Sang Ayu menangis sedih. Karena itu Sang Ayu mengangkat Raden Kemuning anak Ki Agheng Luragung yang baru lahir sebagai  anak, sedangkan Sang Ayu selanjutnya  memberi bokor kuningan kepada Ki Agheng. Bokor itu dibawanya dari negeri Cina, ada pun yang membuat bokor itu sang nagabraja dengan nama Hong Gi. Maharaja penunggang kuda dari Wangsa Ming. Datangnya Sang Ayu ke Pulau Jawa memakai perahu bernama Bantalleo. Dengan empat puluh orang pengiring yang kelak sebagian memeluk agama Islam yang sebagian (tetap) agama Budha”. Wallahualam bishawab. *** Nurdin M.Noer pemerhati sejarah lokal.

Share This Post

Acep Lutvi
Kulit cokelat yang dimiliki anak muda ini, berbeda dengan pikirannya yang selalu cemerlang. Sosok yang lahir di kutub Selatan Jawa Barat pada tanggal 29 Agustus 1987 dari pasangan KH. Kholid dan Hj. Shalihah ini, telah menjadi keyword penting bagi lahir, bertumbuh dan berkembangnya lyceum dalam juntaan dunia. Ia pindah haluan dari manager keuangan Nusintama, menjadi Direktur Utama di lyceum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>