Dalam Sebuah Mihrab | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 2

Dalam Sebuah Mihrab | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 2
0 227

Apa yang kau rasa, sesungguhnya mungkin tak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Begitulah ungkapan Santi, ketika membaca tulisan Alberta dalam sebuah mihrab yang selalu dikunjunginya setiap hari. Mihrab ini, memang menjadi tempat mereka berdua untuk beradu kasih. Di Mihrab ini, baik Alberta maupun Santi, kadang suka meninggalkan pesan misterius akan suka cita dan cita-cita luhurnya dalam membangun cinta. Cinta ini, memang misterius, tetapi, memiliki relevansi unik yang sulit diterjemahkan.

Short film yang aku kirim kepadamu, sama sekali tidak kumaksudkan untuk memintamu pergi. Tetapi, film itu mengasosiasi pikiranku jika suatu waktu kau meninggalkan aku. Maka, aku pasti akan seperti wanita yang tampil dalam film itu. Hari-hariku hanya akan kuhabiskan dengan lelehan air mata, di mana semua gerak dan dinamika yang melingkupi aku, hanya akan melahirkan tetesan air mata dalam jutaan cendawan. Sejujurnya, itu yang tidak aku inginkan. Kau harus yakin bahwa betapa tulusnya aku mencintai kamu, bahkan mungkin sebelum kamu dapat mencintai aku.

Meski kalimat terakhir ini selalu kau bantah karena kau merasa lebih dulu jatuh cinta kepada aku, maka, mungkin paling tidak rasa itu datang secara serentak dalam waktu yang sama kepadaku dan kepadamu. Tuhan telah menggerakan hati dan jiwaku untuk bukan hanya sekedar mengidolakanmu, tetapi, mencintai atau bahkan berhasyrat ingin dimilikimu. Aku teringat bagaimana jemari tanganmu menyentuhku belasan tahun lalu, saat kau memegang tanganku ketika keyboard komputer itu, belum lincah kumainkan. Kau menjadi demikian indah dan sentuhan itu terasa sampai hari ini.

Bayangan Santi tentang Alberta

Berjam-jam Santi, membaca dan membaca tulisan Alberta. Ia kadang ingat bagaimana Alberta berkata kepada dirinya, bahwa misteri cinta mereka akan tetap dipertahankan sampai kapanpun, kecuali pada waktunya tiba. Tujuan Alberta memesteriuskan cintanya itu, agar cintanya ini tetap menjadi mutiara indah yang penuh hikmah. Tiba-tiba Santi bergumam bahwa, jiwa dan hatinya selalu bertakhta dalam rumah bathin terdalam dirinya. Ia bukan saja sulit melupakan dirinya, tetapi, bahkan terkadang dibuat putus asa akan segenap rasa yang dimilikinya.

Santi kemudian menulis lagi. Alberta kamu harus tahu, bahwa kau telah merampas hatiku, sehingga membuat aku mungkin telah menyimpan namamu dalam labirin-labirin jiwaku. Kau harus tahu, bahwa sesungguhnya, diri dan jiwamu telah menyatu dalam semua rumah bathinku. Rumah bathinku menjadi demikian sesak dan penuh oleh segenap nama yang mengornamen namamu

Lelehan air mata Santi terus mengalir. Tak terasa waktu malam mendatanginya dengan cepat. Sampai hampir larut malam, Santi masih saja memikirkan Alberta yang demikian dicintainya.  Tidurlah segera sayang! Biar aku saja yang terjaga dan menjaga alam ini dalam naluriku sebagai seorang wanita. Aku hanya berharap jiwamu tetap melayang menjemputku dalam mimpimu.  Temuilah aku dalam segenap kebahagiaan mimpimu.Mungkin karena aku begitu dalam rasa cintanya ini, kadang aku kehilangan apapun dari rangkaian kata yang ingin aku sampaikan.

Alberta, sejujurnya aku kehabisan kata untuk menyampaikan kata cinta, atau kata lain yang setara atau lebih maknanya dari hanya sekedar kata itu untuk dirimu. Kau telah membuat aku bukan saja hanyut tapi bahkan larut dalam segenap larutan cinta yang bukan dibuat dirimu. Bukan dibuai ucapan dan kalimat-kalimat saktimu. Sejujurnya, aku merasa bahwa cinta ini, menghadirkan segenap kebahagiaan yang sulit kulukiskan. Aku merasa bahwa betapa dirimu telah menyusup ke dalam sum-sum tulang dan jiwaku.

Sayang, sekali lagi tidurlah. Kukirimkan ucapan selamat tidur melalui semilir angin di malam ini. Istirahatlah bersama dengan cintaku. Yakinlah tidurmu akan diselimuti cukup rapat oleh segenap rasa cintaku. I love you, l miss you, I need You. Charly Siera

Komentar
Memuat...