Mistik dalam Perspektif Filsafat

Mistik dalam Perspektif Filsafat
0 438

Ilmu dan anak turunannya bernama teknologi, tidak pernah berdiri sendiri. Ia merupakan lanjutan dari satu fase ke fase lain. Dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Dari satu zaman ke zaman lain. Apa yang diperoleh dan didapatkan hari ini, ia tidak lebih kecuali merupakan lanjutan dari apa yang terjadi dan didapatkan ilmuan sebelumnya.(Mistik dalam Perspektif Filsafat)

Karena itu, saya suka heran jika ada seseorang yang membuat pertanyaan siapa yang menciptakan mobil, misalnya. Keheranan itu terletak karena jawaban atas pertanyaan dimaksud, bukan hanya sekedar sulit mencari siapa sesungguhnya yang menciptakan mobil, tetapi, juga karena jawaban yang muncul atasnya pasti cukup panjang dan menyulitkan siapapun yang harus menjawabnya.

Kita tahu bahwa sebuah mobil tercipta karena ia terdiri dari mesin, kabel, body, lampu, gas, rem dan bahkan ban. Semua memiliki hak paten sendiri karena masing-masing dicipta sendiri-sendiri. Hal ini tidak mungkin dijawab secara langsung oleh siapapun. Ilmu, karena itu, mengutif Thomas S. Kuhn (1997) selalu berkembang dari satu tumpukan informasi ke tumpukan informasi lain. Ia tidak berdiri sendiri dan tidak mungkin meninggalkan yang lain sekalipun sumbangan atasnya sangat kecil.

Untuk kepentingan dimaksud, bagian ini menjelaskan sejarah perkembangan ilmu pengatahuan mulai dari dunia mistik sampai dengan perkembangan ilmu temporer yang telah menyempitkan dunia yang global melalui kekuatan teknologi informasi.

Makna Mistik dalam Filsafat

Kata mistik tentu bukan barang baru dan tidak asing di telinga masyarakat. Semua masyarakat Indonesia, —terdidik atau awam— pasti mengenal apa itu mistik. Mistik bukan hanya menjadi pikiran, tetapi sering menjadi perilaku. Mistik sulit dipisahkan dari perilaku hidup sehari-hari masyarakat.

Di kalangan kaum akademik dan ilmuan temporer, mistik sering menjadi bahan kajian dalam forum-forum ilmiah yang cukup disegani. Mereka secara umum melihat bahwa mistik hidup di tengah masyarakat, meski kajian teoretiknya sangat sulit dilakukan. Karena itu, kajian teoretik atas apa yang disebut mistik, selalu menjadi bahan empuk kaum intelektual untuk menjadi bahan kajian.

Di kalangan masyarakat awam, mistik, meski mungkin tidak pernah dikaji secara ilmiah —sebagaimana dilakukan kaum akademik dan ilmuan pada umumnya— karenanya tidak dapat dipahami secara ilmiah, ternyata telah menjadi bagian dari perilaku mereka. Apa yang berbau mistik cenderung menjadi kegiatan rutin yang sulit dihindari.

Beberapa Contoh tentang Mistik dalam Filsafat

Contoh sederhana tentang mistik yang menjadi perilaku kaum awam itu terlihat ketika: hujan di musim kemarau turun, biasanya muncul pelangi. Warna yang terlihat dari pelangi tadi, tidak kurang dari tujuh jenis dan tujuh warna. Tujuh jenis dan warna dimaksud, dianggap sebagai jalan tujuh bidadari dari Syurga, dari kahiyangan, dari dunia maya yang ideal bergerak menuju bumi. Mereka sedang turun untuk mandi di bumi. Membersihkan diri dari “kotoran” Syurgawy dan upaya menengok bangsa bumi yang kotor. Karena itu, tidak sedikit di banyak kampung Republik ini, mengadakan kegiatan ritual tertentu jika pelangi ini muncul.

Hari dan Malam Jum’at

Setiap malam jum’at, banyak masyarakat menganggap bahwa; dewa, dedemit dan arwah turun menyapa manusia di bumi. Dedemit dimaksud cenderung menakuti manusia. Malam jum’at sering difahami sebagai malam keramat dan terindah bagi para dedemit untuk mengunjungi masyarakat bumi. Mereka dianggap meminta do’a kepada yang masih hidup akan kesengsaraan bathinnya ketika mereka berada di alam barzah. Mereka yang sudah mati dianggap berkunjung ke rumah duniawinya, dan meminta keluarganya untuk mendoakannya. Jika sudah didoakan mereka akhirnya kembali pulang ke alam barzahnya.

Di kampung-kampung, setiap malam Jum’at itu biasa sepi dan senyap. Banyak di antara warga masyarakat membaca surat-surat khusus dalam al Qur’an seperti surat Yasin. Tujuan yang mereka lakukan sama, yakni mengusir ruh jahat. Mengusir makhluk ghaib yang dianggap menakuti manusia dan manusia dapat terbebas dari keganasan dedemit dimaksud. Yang melihatnya dalam perspektif posisitif, malam dimaksud sering dijadikan sebagai alat untuk mendoakan arwah para leluhur. Karena itu, banyak anak kampung yang kemudian hafal membaca surat Yasin, karena surat ini, dianggap sangat efektif melakukan komunikasi dengan makhluk ghaib.

Mistik dalam Perspektif Filsafat. Makna mistik dalam Kajian filsafat, Mistik budaya irasional, dunia Teknikalisme, budaya kaum awam, contoh perilaku mistik

Ibu-ibu yang sedang hamil juga sama. Banyak di antara mereka yang menutup diri. Mereka menganggap dan dianggap sangat disenangi makhluk ghaib. Yang sedang hamil konon dianggap harum yang membuat para dedemit suka kepadanya.

Karena itu, banyak ibu hamil khususnya di waktu-waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu tidak dapat melakukan aktivitas secara bebas. Menjelang maghrib dan di waktu tengah hari, dianggap masyarakat sebagai waktu ideal turunnya dedemit. Karena itu, di waktu seperti itu, mereka umumnya mengambil sikap diam. Mereka cenderung komat kamit membaca bacaan-bacaan tertentu atau mantra-mantra tertentu.

Lokasi dan Mistik

Lokasi di daerah tertentu —yang dianggap sakral dan menakutkan— juga sama. Misalnya di bawah pohon besar, batu besar, sungai besar dan gunung besar. Di tempat-tempat seperti itu, dedemit dianggap dapat ditakuti dan hanya dapat dikalahkan bawang putih dan benda-benda tertentu yang dianggap keramat. Karena itu, banyak di antara ibu-ibu yang sedang hamil, jika harus melewati tempat semacam itu, harus rela menggunakan benda-benda dan barang-barang tertentu, kemanapun mereka pergi. Tujuannya sama yakni menakuti dan menghindari diri dari para dedemit dan bayi yang dikandung seorang ibu menjadi  selamat dari marabahaya yang berkemungkinan digoda dedemit tadi.

Semua perilaku di atas, tentu tidak rasional dan sulit memperoleh hasil terukurnya. Karena itu, perilaku di atas tidak dapat disebut ilmiah. Selain tentu perilaku tadi dianggap tidak empiris, sekaligus tidak dapat diukur. Padahal, rasionalitas, empiris dan terukur itu, syarat utama bagi sesuatu untuk disebut ilmiah. Kenyataan tadi, sekali lagi tidak memenuhi persyaratan ilmiah. Tidak memenuhi persyaratan ilmiah itulah yang disebut dengan mistik.

Mistik Berbasis pada Budaya Irasional

Jadi, mistik adalah keyakinan dan dorongan atas adanya kekuatan sesuatu yang sulit diukur, sulit diempiriskan dan sulit dirasionalkan manusia. Kemampuan manusia yang dibatasi oleh ruang-ruang dimaksud, akan mendorong dirinya untuk berkecenderungan mensakralkan sesuatu. Padahal yang sakral itu, sesungguhnya biasa.

Di waktu lalu, menurut beberapa catatan sejarah, dunia hanya dipenuhi keyakinan yang bersipat mistik. Keyakinan yang tidak didukung atas kenyataan empiris, rasional dan terukur. Karakter tadi, hilang atau tidak beriringan dengan kuatnya kecenderungan manusia pada sesuatu yang layak atau dapat dinisbatkan sebagai sesuatu yang bersipat mistik.

Mistik dengan demikian, mengutif De Kleine W.P. melalui Buku Encylopaedie (1950) yang saya sadur dari G.B.J. Hiltermann dan P. Van De Woestijne  menyebut bahwa, ia sesungguhnya berasal dari kata mystiek dan  mystikos yang mengandung arti rahasia (geheim). Makna lainnya adalah menutup mata (de ogen sluiten).

Makna dimaksud, jika dikembangkan lebih jauh akan memberi pemahaman akan adanya kepercayaan atas kemampuan sebagian manusia untuk dapat melakukan kontak langsung dengan Tuhan, atau menyatunya ruh manusia dengan Tuhan. Penyatukan itu digambarkan banyak kalangan mistikus bersipat mesra. Mistik dalam terminologi ini, dapat diterjemahkan dengan menyatunya manusia dengan hal-hal yang masih bersipat rahasia atau ghaib. Prof. Dr. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...