Home » Filsafat » Mite Menjadi Jembatan Tumbuhnya Kaum Filosof

Share This Post

Filsafat

Mite Menjadi Jembatan Tumbuhnya Kaum Filosof

Mite dan kaum filosof. — Yunani Kuna awalnya tumbuh sebagai negeri mitos. Mite sebagai kata dasar dari mitos, berkembang di Yunani Kuna. Melebihi perkembangan mite di belahan negeri dan benua manapun di dunia. Negeri ini antik, nyentrik sekaligus unik. Sebuah lokus khusus yang hampir tidak dimiliki negeri lain.

K. Bertens menyebut bahwa mite telah memberi pengaruh besar dan kuat atas lahirnya sejumlah filosuf dan karya filosofis di Yunani Kuna. Hal ini dapat dimafhumi, jika kita mengutif pikiran Nurcholish Madjid (1992). Yang menyatakan bahwa semakin banyak mite yang berkembang dalam suatu negeri atau suatu komunitas masyarakat, maka, semakin besar pula kemungkinan negara atau masyarakat dimaksud melahirkan sejumlah filosof dan karya filosofis tentu saja. Termasuk kemungkinan lahirnya ilmu pengetahuan.

Nurcholish Madjid dalam tulisan dimaksud, menganggap bahwa suatu legenda atau mite pada hakikatnya diperlukan. Untuk menunjang sistem nilai hidup manusia, khususnya ketika ilmu belum tumbuh subur didalamnya dan menjawab berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Mite memberi penjelasan sementara tentang eksistensi manusia dalam hubungannya dengan alam sekitar dan tentu dengan wujud yang abstrak. Mite dalam kasus tertentu bahkan dapat memberi kejelasan tentang bentuk hubungan yang baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan wujud yang Maha Tinggi, yang dalam literatur Islam disebut dengan Allah. Eksistensi wujud ini bersifat metafisik dan tidak kongkret. Aspek-aspek inderawi tidak mungkin menjangkau eksistensi Tuhan, kecuali didasari oleh keyakinan atau keimanan.

Rekomendasi untuk anda !!   Orientasi Etika: Bagaimana Manusia Harus Bertindak Dalam Kehidupan?

Pemikiran Nurcholish Madjid di atas, memperoleh pembenaran ketika kita harus menempatkan mitos dengan iman dalam konteks perilaku keseharian. Mite dan sistem “imani”, sama-sama mengakui eksistensi sesuatu di balik yang fisik. Dalam bahasa lain, imanitas dan mitologi –sekalipun bukan berada dalam kesatuan yang sejajar– dapat disebut memiliki objek sama, yakni adanya pengakuan terhadap eksistensi sesuatu yang berada di luar (beyond) kemampuan nalar manusia. Suatu eksistensi sangat kuat, realitasnya selalu berada di balik yang tampak namun harus diakui keberadaannya. Faktanya, memang tidak ada manusia yang sama sekali bebas dan mampu membebaskan diri dari aspek-aspek beyond dimaksud dalam relasinya dengan manusia.

Perkembangan Mite dan kaum Filosof

Dalam perkembangan berikut, mite tumbuh menjadi sebuah ideologi yang mengikat. Dalam term terakhir ini, mite sama dengan keimanan. Akan memandang bahwa dalam posisi tertentu harus ada yang dipercaya begitu saja, tanpa reserve sekalipun akan eksistensinya. Pengakuan semacam ini, hanya dapat dilakukan melalui pendekatan “imani” yang melahirkan sistem kepercayaan. Di sini dan dalam konteks inilah mite memperoleh pertaliannya dengan keimanan.

Nalar ini, mendorong kekuatan mistik akan utuhnya sistem kepercayaan manusia. Utuhnya sistem kepercayaan menghasilkan utuhnya sistem nilai hidup. Sistem nilai itu sendiri akan mampu memberi manusia suatu penjelasan tentang apa yang baik dan apa yang buruk (etika). Sehingga manusia memiliki nalar sederhana tentang apa yang dilakukannya. Melalui sistem ini pula, manusia dapat melakukan relasi dengan manusia lain, manusia dengan alam dan tentu manusia dengan Tuhan.

Rekomendasi untuk anda !!   Sejarah tentang Pentingnya Nilai dan Etika| Teori Nilai Part - 4

Mite dengan demikian, dalam kasus tertentu dapat menjadi dasar lahirnya peradaban. Dari sini dapat dimafhumi mengapa peradaban terbaik justru terlahir dari sikap masyarakat yang seimbang antara keyakinan adanya sesuatu berdasarkan fakta-fakta empiris-rasional dan adanya sesuatu di balik yang empiris-rasional dan menjadi penggerak utama pada segala sesuatu yang tampak. Keyakinan akan adanya sesuatu di balik yang fisik dan empiris ini, diyakini banyak ilmuan dikaji dalam suatu ilmu yang kemudian dikenal dengan nama mitologi.

Situasi ini terjadi di zaman Yunani Kuna. Karena itu, lahirnya Yunani Kuna sebagai pusat peradaban dunia di zamannya, sebenarnya dapat menjadi konsekwensi logis atas kekayaan mereka dalam budaya mistik tadi. Mistik pada akhirnya menjadi peletak dasar bagi penumbuhan budaya ilmiah, karena mite merangsang manusia untuk menelusuri lebih jauh tentang keyakinan-keyakinan yang dianutnya. Yunani Kuna mendeskripsikan situasi ini menjadi kekuatan ilmu pengetahuan, salah satunya melalui keterampilan pemikiran tiga tokoh filosof yang penjelasannya dapat dilihat bagian-bagian yang akan datang. Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

1 Comment

  1. Para fikosof dalam sejarah kebanyakan mengalami nasib yang tragis karena dianggap melawan penguasa pada zamannya.Namun pada akhirnya pemikiran para filosof tersebut diakui kebenarannya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>