Mitos Adam sebelum Adam lahir

Mitos Adam sebelum Adam lahir
0 116

SEKITAR 70.000 tahun setelah alam semesta sempurna, Allah ciptakan manusia yang disebut Adam. Tetapi patut diduga bukan Adam nenek moyang kita. Ia adalah Adam yang tinggal di bumi sebelum Adam kita lahir. Adam pertama punya banyak keturunan, tapi semuanya punah. Keturunan terakhir meninggal 10.000 tahun setelah Adam pertama, dan terus berulang hingga 10.000 Adam diciptakan.

Adam terakhir, yang ke 10.000, adalah Adam a.s., nenek moyang kita. Itulah, Adam sempurna, yang diciptakan Allah dalam sebaik-baik bentuk, (Insan Kamil). Semula tinggal di surga, tapi kemudian terlempar ke bumi karena tersandung kasus buah khuldi (Muhaimin, 2001).

Mitologi telah memengaruhi dan meresap pada seni di seluruh belahan dunia sejak awal. Di Amerika, orang menyatakan tema mitologi menggunakan bahan seperti pasir (dalam sandpaintings dari Navajo) dan batu (dalam topeng giok dari Olmec). Di Oceania, kayu adalah bahan pilihan, digunakan untuk patung dibuat dan masker. Masyarakat adat dari Amerika Tengah dan Selatan menggunakan keramik untuk guci penguburan dan patung dewa dan tokoh mitologis. Di Eropa kuno juga, tema mitologi dirawat di berbagai media, termasuk batu, kayu, dan logam.

Beberapa tradisi seni terkaya melibatkan mitologi ditemukan dalam budaya Afrika Barat. Sangat menonjol dalam patung adalah Nommo, kembar langit yang representasi dapat dipelajari baik dalam cara mereka telah berubah dari waktu ke waktu dan dalam cara mereka bervariasi di seluruh budaya. Meskipun nilai seni potongan terinspirasi oleh mitos, itu adalah menyesatkan untuk mengisolasi benda-benda seni budaya mitos-membuat dari konteks agama dan intelektual mereka. The patung dan topeng dari orang-orang Dogon, misalnya, tidak ada terutama untuk memenuhi dorongan estetika, melainkan untuk melayani sebagai instrumen dalam tindakan religious (ibid, Encarta).

Pandangan tentang mikrokosmos (manusia) sebagai refleksi makrokosmos (alam semesta) dipakai kalangan kraton untuk menjelaskan proses kejadian manusia. Dengan pola itu kejadian manusia mengikuti pola kejadian alam semesta, yaitu dalam format tajalli Tuhan yang juga melalui tujuh martabat. (Kartapraja, K. (1978), “Ngelmu Sejati Cirebon”, Dialog Departemen Agama, Jakarta, Edisi Khusus, Maret 1973. hal 91-107,  dalam Muhaimin)..

Jauh sebelum seorang manusia dilahirkan, ia berada di Alam Ahadiyat, alam pertama, alam tiada. Pada tahap ini eksistensi seseorang belum terbayangkan karena secara fisik memang tidak ada. Lalu datanglah tahap kedua, Alam Wahdah, tahap terjadinya perpaduan antara ovum yang dibuahi oleh sperma sehingga kemungkinan terjadinya manusia bisa terbayangkan. Tahap ketiga adalah Alam Wahidiyah.  Sel telur yang telah dibuahi membelah diri dan terus membelah lalu tumbuh menyatu menjadi seonggok carian kental, terus menjadi segumpal darah dan kemudian menjadi segumpal daging, masing-masing proses berlangsung selama 40 hari sehingga total durasi tahap ini adalah selama 120 hari atau empat bulan.

Dari sini masuk tahap ke-empat, Alam Arwah, yaitu saat segumpal daging tadi menunjukkan gerak, pertanda Allah telah meniupkan ruh ke dalamnya dan membuatnya hidup, berikut software yang memberi arah pada baik-buruknya nasib dan jalan hidup manusia baru kelak. Tahap ke lima, Alam Mitsal, saat segumpal daging yang sudah punya zat hidup (ruh) tadi berkembang menjadi embrio. Di sini bibit untuk tumbuhnya anggota tubuh mulai nampak.

Sampailah Alam Ajsam, tahap ke enam. Ketika dari embrio tumbuh berkembang ke arah terbentuknya bagian-bagian tubuh dan organ khusus anggota badan: sesuai dengan letak dan fungsi masing-masing: kepala, rambut, tubuh, tangan, kaki, jari, kuku. Berangsur-angsur sampailah ke tahap akhir, Alam Insan Kamil, saat kandungan berusia tujuh bulan. Tahap ini, manusia baru dengan segala kelengkapannya tercipta dengan sempurna, namun masih lemah. Ia perlu proses pematangan selama beberapa waktu (kira-kira 60 hari) agar manusia baru ini, si jabang bayi, siap keluar dari rahim ibu dan sang ibu juga secara mental dan fisik siap melahirkannya.

Asal-usul penghuni bumi

Dalam mitos Cirebon itu pula dinyatakan, sejak tersandung kasus buah khuldi di surga. Lalu menyesali “kecelakan” itu dan bertobat, Nabi Adam a.s. dikirim ke dunia, terdampar di puncak Gunung Surandil (Puncak Adam atau Adam’s Peak di Ceylon, sekarang Srilangka), sementara Siti Hawa terlempar di Jeddah. Setelah saling mencari sekian lama, mereka bertemu di Padang Arafah. Berbekal ampunan dan rahmat Allah swt, Nabi Adam a.s dan Siti Hawa memulai hidup baru di bumi, sekaligus mengawali karier sebagai kakek dan nenek-moyang umat manusia penghuni bumi. Tugas Adam a.s. lainnya adalah sebagai khalifah Allah, menegakkan hukum Ilahi di muka bumi. Mula-mula di kalangan hewan, kemudian di antara hewan dan manusia serta keturunannya.

Nabi Adam a.s. memperoleh keturunan pertama pada umur 130 tahun, saat Siti Hawa melahirkan anak kembar, laki-laki dan perempuan, Kabil dan Aklima. Selanjuynya Ibu Hawa melahirkan hingga 42 kali, semuanya pasangan kembar berbeda jenis, laki-laki dan perempuan. Sekali lahir pasangan tampan dan cantik, kali lain sepasang kembar tidak tampan dan tidak cantik. Yang tidak kembar adalah putra ke 6, seorang putra yang tidak lahir dari rahim Ibu Hawa yaitu Syis a.s. ; dan yang Lahir ke-41 Siti Hunun, yang hanya seorang putri. Dengan demikian keseluruhan keturunan langsung Nabi Adam a.s. dan Ibunda Hawa berjumlah 82 orang.

Saat Ibu Hawa melahirkan kelima kalinya, Nabi Adam a.s. Menetapkan peraturan perkawinan dua pasal: (1) seseorang tidak boleh menikahi saudara kembarnya; (2) anak laki-laki tampan harus menikah dengan anak perempuan yang tidak cantik, sedangkan anak perempuan yang cantik harus kawin dengan anak laki-laki tidak tampan; demikian sebaliknya. Maka setiap kali Ibu Hawa melahirkan pasangan kembar lelaki tampan dan perempuan cantik maupun yang sebaliknya (lelaki tak tampan dan perempuan tak cantik), peraturan ini diberlakukan tanpa pandang bulu.

Godaan Iblis terhadap Adam dan Hawa

Melihat situasi ini, Iblis yang kala di surga menjebak dengan buah khuldi. Melihat situasi kondisif di dunia lalu turun, siap dengan proyek barunya. Program pertama adalah mencoba menggoda Adam dan Hawa secara langsung dan terang-terangan untuk berbuat dosa, tapi gagal karena Adam dan Hawa sudah tahu betul siapa Iblis. Tapi bukan Iblis kalau tak licik. Dengan merasuk ke dalam darah dan hati Siti Hawa ia meneghembuskan benih penentangan supaya peraturan perkawinan ketetapan suaminya dicabut dan selanjutnya diberlakukan perkawinan bebas atas dasar cinta dan suka sama suka.

Implikasinya adalah yang tampan boleh mengambil yang cantik, dan yang cantik jangan dipaksa dapat yang jelek. Jadinya nanti, si tampan dengan si cantik, si jelek sama si jelek. Terjadilah cekcok antara Adam dan Hawa, masing-masing mengusung klaim hak atas anak. Masing-masing beralasan bahwa anak-anak itu berasal dari benihnya karena itu haknyalah untuk mengatur perkawinan mereka. Untunglah kedua pihak akhirnya sadar akan kemungkinan bermainnya Iblis dalam urusan ini. Mereka lalu bersepakat untuk memecahkan masalah secara damai. Caranya dengan menuangkan benih masing-masing ke dalam dua cupu terpisah lalu berdoa memohon petunjuk Allah swt.  (*)

Nurdin M. NoerPemerhati kebudayaan lokal.

Sumber pustaka :

  • G. Muhaimin, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon, Logos Wacana Ilmu, 2001.
  • Lansford, Tyler, Encarta Reference Library 2003).
Komentar
Memuat...