Mitos Eyang Prabu Siliwangi

2 792

Eyang Prabu Siliwangi, patut disebut sebagai mitos paling misterius sepanjang masa, unik, sekaligus sensitif dalam konteks tatar masyarakat Sunda. Mitos seorang pemimpin besar Nusantara yang padepokannya tidak jelas di mana rimbanya. Berbeda dengan bekas kerajaan raja Jawa lain, di mana bekas kerajaannya [Hindu atau Budha], selalu tersedia bekas kerajaannya.

Tersedianya bekas kerajaan besar dimaksud, sering disebut sebagai cara untuk mengawetkan pola budaya dan keyakinan [Hindu-Budha] tadi dalam hati masyarakat. Kemisterian lainnya terkait dengan di mana dia mati dan di mana kuburannya. Sampai detik inipun, belum bukti historis kongkret yang mampu menunjukkan di mana beliau dikuburkan.

Ketika Eyang masih hidup, ia juga sering diperdebatkan dalam soal keyakinannya. Apakah ia penganut Hidu-budha atau berubah menjadi Muslim. Dalam soal inipun, tetap misterius. Namun di luar semua itu, belakangan mulai muncul ramalan-ramalan jitunya tentang masa depan Nusantara. Tidak ada yang pasti dalam pembuktian historis soal ini. Karena itu, saya menulisnya dengan tema Mistos Eyang Prabu Siliwangi.

Eyang Prabu Siliwangi adalah Raja Padjajaran yang masyhur dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Pemilik Macan putih yang dikenal mistis dan dianggap pernah kewalahan mencabut tongkat Imam Ali bin Abi Thalib itu,  dikenal pemimpin besar yang jujur dan adil. Mampu menciptakan negara dalam kondisi yang Subur Makmur, Gemah Rifah, Loh Jinawi. Istilah dimaksud, dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. 

Eyang Parbu, lahir dari seorang Prabu [Raja] juga. Ayahnya bernama Anggalarang atau biasa dikenal dengan nama Prabu Dewa Niskala Raja. Dialah raja, pada Kerajaan Galuh, yang secara geografis, daerah dimaksud, saat ini, masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kabupaten Ciamis. Dididik dalam kultur kerajaan yang penuh eksotis [hijau dan teduh] dan penuh kedamaian.

Tugas Pemberantasan Gerakan Islam

Di waktu yang sama, saat kerajaan Galuh tumbuh dalam kegemahripahannya, di Muara Jati, justru banyak penduduk setempat yang memeluk Islam. Ulama asal Campa, Kambodia yang bernama Syeikh Qura, mampu mengajak masyarakat setempat memeluk Islam. Prinsip-prinsip ajaran Islam yang egaliter dan kesejajaran, telah membuat pengikut ajaran agama Hindu atau Budha, dengan mudah memeluk Islam.

Nama lengkap Syeikh Qura yang menjadi pemimpin pesantren itu adalah Quratul’ain atau Syeikh Mursyahadatillah atau Hasanudin. Ia diduga keturunan Rasul dari Hussein bin Ali bin Abi Thalib.

Mendengar dan melihat situasi seperti itu, ayahnya yang sedang berkuasa itu, akhirnya mengutus Eyang Prabu Siliwangi untuk menumpas gerakan Islamisasi di daerah dimaksud. Ayahnya khawatir masyarakat memeluk Islam dan meninggalkan ajaran leluhurnya. Ajaran agama yang berlandas pada Hndu dan Budha.

Eyang Prabu ketika masih muda, biasa dikenal Raden Pemanah Rasa, akhirnya malah berguru kepada Ki Gedeng Singdang Kasih. Seorang Panglima di Muara Jati. Muara Jati, hari ini dikenal dengan nama Cirebon. Kemampuan dan keterampilannya dalam dunia kesaktian, diperolehnya pertama kali dari guru ini.

Ketika berguru di Muara Jati ini, Eyang Prabu terpikat oleh salah seorang puteri gurunya. Kemudian akhirnya ia menikah dengan puteri gurunya dimaksud, bernama Nyi Ambet Kasih. Ki Gedeng Singdangkasih juga sangat senang, ketika puterinya itu benar-benar menjadi istri pemanah rasa.

Ayah Eyang Prabu, Prabu Dewa Niskala Raja, atau Anggalarang, dikenal berhasil memakmurkan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya luas. Membentang mulai dari Citarum, Kerawang sampai dengan Sungai Cipamali yang menjadi batas bagi kerajaan Majapahit.

Saat Eyang Prabu Siliwangi datang ke Muara Jati, pertama kali ia berkunjung ke pesantren Syeikh Qura yang rencananya akan ia hancurkan. tetapi, dii tempat itu, ia malah mendengar suara seseorang sedang mengaji.  Saat Eyang Prabu mendengar lantunan ayat suci al Qur’an yang dibaca salah seorang santri wanita di pesantren dimaksud, hatinya malah luruh. Emosinya untuk membubarkan pesantren menjadi hilang. Ia kehilangan hawa nafsurnya untuk membubarkan pesantren dimaksud, sebagaimana ayahnya, menyuruh dirinya.

Eyang Prabu Jatuh Cinta di Pesantren

Dalam suasana kebathinan yang galau seperti itu, Eyang Prabu Siliwangi akhirnya menemui Syeikh Qura yang rencananya mau dihabisi itu. Ketika bertemu dan berhadapan dengan Syeikh Qura, ia bertanya, siapa wanita yang memakai hijab dan membaca kalimat-kalimat tadi. Tentu Syeikh Qura menjelaskannya dengan baik dan cermat.

Entah bagaimana cara dan ceritanya, Eyang Prabu malah meminta Syeikh Qura agar dapat menikahinya dan membawanya ke Kerajaan di mana ayahnya berkuasa, yakni Galuh.

Syeikh Qura kemudian menyatakan bahwa gadis itu bernama Subanglarang. Ia tidak menjelaskan siapa yang menjadi orang tuanya. Karena itu, sedikit referensi yang menerangkan keterangan susunan keluarga Subanglarang.

Syeikh Qura sendiri, membolehkan perempuan dimaksud untuk dinikahinya, dengan tiga syarat. Jika ketiga syarat itu dipenuh, maka, ia diperkenankan untuk menikahinya. Ketiga syarat itu adalah sebagai berikut:

“Pertama. Meminta Eyang Prabu Siliwangi untuk membaca dua kalimah syahadat yang tidak hanya dibibir, tetapi harus meresap ke dalam jiwanya. Ia diminta bertawbat secara nasuha di hadapan bait Allah, yakni Ka’bah, Mekkah. Kedua. Mempunyai bintang Saketi dan belajar agama Islam secara tuntas. Jika suatu hari istri Prabu Siliwangi melahirkan anak, maka, hak asuh anaknya diberikan kepada istrinya, dan ketiga. Anak keturunan yang dilahirkan dari rahiem Subanglarang, mempunyai hak waris sebagai raja di kerajaan ayahnya.”

Terhadap ketiga persyaratan dimaksud, Eyang Prabu menyetujuinya setelah beberapa saat ia berdialog dengan Macan Putih. Inilah macan yang pernah menjadi musuh utama saat melakukan tempur hebat ketika bertapa di Curug Sawer Majalengka. Siliwangi mampu mengalahkannya, dan menjadikan maung putih ini sebagai pengikut setia. Macan ini, memiliki kemampuan berbicara dengan baik.

Hasil dari dialognya dengan Macan Putih itu, kesimpulannya, ia menerima tawaran Syeikh Qura. Prabu Siliwangi kemudian, berangkat haji dan ketika ia berada di Mekkah saat melaksanakan ibadah haji, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Abdullah. Setelah menikah, ia memiliki tiga anak, yaitu: Raden Walangsungsang atau Kian Santang [1423]; Nyi Mas Rarasantang [1426] dan Raja Sangara [1428]

Mengapa Disebut Siliwangi

Setelah menjadi Muslim, berarti Prabu Siliwangi memiliki tiga nama, yaitu: Pemanah Rasa, Muhammad Abdullah dan Eyang Prabu Siliwangi. Disebut pemanah rasa, berawal dari kebiasaannya yang suka mengembara dari satu daerah ke daerah lain. Ia tidak betah tinggal di istana kerajaan Galuh. Ia memilih melintasi satu daerah kumuh ke daerah kumuh lain.

Ia juga dikenal memiliki kemampuan bertapa dengan sejumlah guru yang banyak. Karena ia sering bertemu dengan masyarakat yang lemah, dan juga sering berpura-pura menjadi rakyat biasa yang papa dan miskin, maka, hatinya menjadi demikian lentur.

Ia tidak memiliki kuasa untuk tidak memberi pertolongan kepada mereka yang dianggap lemah. Siliwangi, dengan demikian, merupakan adagium dari ajarannya yang hendak membangun prinsip dasar kehidupan masyarakat yang harus selalu silih [berbagi dan memberi] wangi [harum, nyaman dan kebaikan lain].

Ia mengatakan bahwa, hanya dengan silih asih-lah, tatanan kehidupan bermasyarakat akan mampu ditunaikan dengan baik. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna <Dari Berbagai Sumber>

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Asmadi berkata

    Setuju dengam uraian artikel di atas, dan sejarah majalengka tak lepas dari deretan sejarah eyang Prabu Siliwangi, menurut sejarah majalengka, Ratu Sindangkasih, pernah di peristri oleh Eyang Prabu Siliwangi, yang menjdi penasaran, benarkah Syeh Quro adalah Jaka Tingkir, Jaka Tingkir mempunyai Nama Syeh Quro?. Dimohin Prof. Cecep, dapat mengulas atau membuat artikel tentang hla tersebut, terima kasih.

    1. Cecep Sumarna berkata

      Thank ….

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.