Mitos Penciptaan Manusia ala Cirebon

1 31

TAK ada manusia yang hidup tanpa mitos.  Sebuah mitos, begitu kata Lansford (2003),  dapat didefinisikan secara luas sebagai sebuah narasi melalui penceritaan kembali banyak hal yang telah diterima menjadi tradisi dalam masyarakat. Dengan definisi ini, mitologi mungkin termasuk semua cerita tradisional, dari cerita penciptaan Mesir kuno dengan kisah-kisah sastra Islandia dengan cerita rakyat Amerika Paul Bunyan.

Mitos bersifat universal, terjadi hampir pada semua budaya. Mitos  biasanya lahir sebelum mengenal tulisan, tanggal dari waktu. Mitos ditularkan melewati cerita lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mitos berurusan dengan pertanyaan dasar tentang sifat dunia dan pengalaman manusia, dan mencakup segala sifat mereka, mitos dapat menerangi banyak aspek budaya.

Begitu pun “Manusia Cirebon” tak bisa lepas begitu saja dari mitos dalam kehidupannya. Di lingkungan Kraton Cirebon, menurut antropolog Muhaimin A.G. (Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon, Logos Wacana Ilmu, 2001) khususnya di Pengguron Caruban Krapyak Kaprabanonan Cirebon yang (dulu) dipimpin oleh Rama Guru Pangeran Sulaeman Sulendraningrat (alm), berkembang sekumpulan cerita mitis dengan tema-tema menarik. (Baca: Menusa Cerbon, “Siapa Dia?”)

Muhaimin menyebutnya sebagai  kumpulan cerita tersebut sebagai “mitologi Islam” karena substansi cerita di dalamnya menyangkut pemikiran, ajaran, atau sesuatu yang disandarkan atas materi ke-Islaman Di antara cerita-cerita tersebut adalah tentang: (a) asal-usul alam semesta; (b) kejadian manusia; (c) asal-usul penghuni bumi (d) asal-usul penduduk Jawa (e) peralihan agama yang dianut orang Jawa dari tradisi Sang-Hyang kepada Islam serta berdirinya Kraton Cirebon.

Cerita tersebut termaktub dalam empat jilid tulisan Rama Guru (P.S. Suleman Sulendraningrat) yang diketik (tidak diterbitkan) pada kertas folio dengan format fonts 12 Times New Romans, bersampul karton manila berwarna coklat, masing-masing berjudul: (1) Ghaib (1982), 96 halaman; (2) Babarnya Jimat Kalimasada Prabu Yudistira Amartapua (tanpa tahun), 125 halaman; (3) Beralihnya Pulau Jawa dari Agama Sang-Hyang Kepada Agama Islam (1978), 51 halaman; (4) (Salinan?) Purwaka Caruban Nagari Pangeran Arya Carbon 1720 (1983), 87 halaman.

Pada bagian bawah sampul tertulis: “Pengguron Caruban Krapyak, Kaprabonan Cirebon”. Saya memperoleh keempat tulisan tersebut dari Martin van Bruinessen dengan memfoto kopinya pada tahun 1992. Secara amat singkat cerita-cerita tersebut dapat dinukil sbb:

Mitos penciptaan alam semesta

Konon, sebelum jagat raya terwujud, yang ada adalah alam awang-uwung, suwung wangwung (gho’ibul-ghuyub), alam hening hampa tanpa apa-apa, nirtepi, nirgaris, nirbatas, nirkawasan, nircahaya, nirsuara. Semuanya tiada, yang ada hanya Allah semata: Yang Maha Esa, Yang Maha Hidup dan Maha Berkehendak, tak berpermulaan dan tak ada akhir. Pada tahap ini, kekuasaan dan kehendak-Nya adalah la ta’yun: tidak berbentuk tidak berwujud. Inilah tahap paling awal, tahap pra-kreasi yang disebut Martabat Ahadiyah.

  • Martabat Wahdah

Setelah melewati masa yang tak terukur lamanya, masuklah tahap kedua, Martabat Wahdah. Di tahap ini Allah Yang Maha Tunggal mulai menunjukkan kekuasaan dan kehendak-Nya dengan hadirnya cahaya gemilang, Nur Allah atau cahaya Illahi yang kilau sinarnya jauh lebih terang dari seribu mentari. Inilah ta’yun awal, realitas pertama, tahap di mana kehendak-Nya untuk mencipta telah muncul.

  • Nur Muhammad SAW

Melalui rentang waktu yang juga tak terhingga lamanya, tibalah tahap berikutnya, dengan munculnya Nur Muhammad, cahaya teramat mulia dalam format sinar kuning kemilau keemasan dari dalam Nur Allah (sinar gemilang yang jauh lebih terang dari seribu mentari tadi) sehingga antara Nur Muhammad dan Nur Allah bagaikan kuning telur menggantung dalam putihnya. Inilah martabat Wahidiyah, tahap ta’yun-tsani, Kesatuan Akbar atau Perpaduan Agung. Kehadiran Nur Muhammad ini, yang juga disebut Ruh al-A’zhom (jiwa agung), adalah tahap realitas kedua, master plan penciptaan alam semesta. Nur Muhammad itulah embrio alam semesta, titik awal penciptaan jagat raya dan segala isinya.

  • Nur Arwah

Berikutnya adalah Alam Arwah: Nur Muhammad diam tak bergerak selama kira-kira 60.000 tahun. Akhirnya ia mendakwakan diri sebagai Tuhan, “Akulah Tuhan,“ gumamnya. Segera Allah berfirman: ”Bukan! engkau bukan Tuhan, Engkau adalah bibit alam semesta yang Aku ciptakan.” Teguran Allah itu, membuat Nur Muhammad gemetar, seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat.

Keringat Nur Muhammad bergumpal-gumpal menjadi Durratul Baidla, Mutiara Putih, sumber seluruh jiwa alam raya. Keringat di hidung menjadi ruh para malaikat; keringat di wajah menjadi ruh-ruh ‘Arsy, Laukh Mahfud, Qalam, dan Makhluk Surgawi lainnya.  Keringat di dada menjadi ruh para nabi, ulama, sarjana, dan manusia pilihan.  Keringat di punggung menjadi ruh-ruh Bait al-Ma’mur, Ka’bah, Bait al-Mukaddas dan seluruh rumah ibadah di bumi. 

Keringat alis menjadi ruh laki-laki dan perempuan beriman, keringat di telinga menjadi ruh orang-orang kafir, sedangkan keringat di kaki menjadi ruh alam semesta. Seluruh proses ini mengantarkan ke tahap Alam Mitsal, ketika Nur Muhammad sang abstraksi penciptaan berubah menjadi Ruh Idhofi, cetak biru yang nyata, serupa dengan cetak foto yang semula kabur berubah semakin jelas dan nyata. Inilah tahap penciptaan segala sesuatu menjadi mungkin tergantung pada apakah Allah Yang Maha Berkehendak menghendakinya jadi atau tidak jadi.

Alam Ajsam

Berikutnya adalah Alam Ajsam, tahap penciptaaan fisik jagat raya saat Allah membangun alam semesta beserta isinya. Keseluruhan bangunan ini selesai sempurna dalam enam hari, dari fajar hari Ahad hingga fajar hari Jumat. Satu hari kala itu kira-kira setara 50.000 tahun hari kita. Jadi enam hari saat itu sama dengan 300.000 tahun masa kini.

Pada dua hari pertama, bola bumi yang masih kosong tercipta; dua hari berikutnya, disempurnakan dengan susunan, bentuk, kelengkapan serta isinya berupa: gunung-gunung, perbukitan, sungai, danau, laut, samudra, flora, dan fauna. Dua hari terakhir, galaksi selesai tercipta, meliputi matahari, bulan, bintang, planet-planet, seluruh langit dan benda-benda langit lainnya.

Pada tahap ini Allah telah menciptakan antara lain 70.000 planet, masing-masing berukuran 70 kali bumi. Tiap planet memiliki 70.000 penghuni, berupa malaikat, jin, dan manusia. Mereka mengagungkan dan menyembah Allah, tapi kemudian mereka memberontak, ingkar kepada-Nya sehingga Allah memusnahkan mereka semua.

Allah ciptakan lagi lebih dari 80.000 planet lainnya, tapi lebih kecil dari 70.000 sebelumnya yaitu hanya 10 kali ukuran bumi. Ada beberapa jenis burung di planet-planet itu, yang akhirnya punah. Setelah itu Allah ciptakan 20.000 mahluk menyerupai manusia, tapi kemudian juga punah. Setelah jeda selama ± 70.000 tahun, Allah ciptakan Qalam, Laukh Mahfudz, ‘Arsy, malaikat, terakhir surga dan neraka. Rampung sudah penciptaan alam semesta beserta isinya.- Nurdin M. NoerPemerhati kebudayaan lokal.

Sumber pustaka :

  • G. Muhaimin, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon, Logos Wacana Ilmu, 2001.
  • Lansford, Tyler, Encarta Reference Library 2003).
  1. Muhamad Farhan berkata

    seperti apakah Mitos Penciptaan Manusia ala Cirebon?
    kenpa bisa dikatakan mitos?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.