Model dan Cara Kerja Logika dalam menarik kesimpulan

0 634

Cara kerja deduksi dan induksi sejak awal kelahirannya selalu melahirkan tesa dan antitesa. Di abad ke 17 terdapat tokoh Rene Descartes yang corak berpikir-nya deduktif deirgan Francis Bacon yang corak berpikirnya induktif. Descartes adalah penemu Kordinat Cartesian di mana orang dapat mendeskripsikan secara tepat letak sesuatu alam ini. Corak berpikirnya adalah matematik. la juga melukiskan bahwa seluruh alam semesta da pat di-matematika-kan. Alam dilukiskan sebagai mesin besar.

Manusia dianggap sebagai salah satu mesin kecil yang ada di alam ini. Sementara itu, Bacon berpendapat bahwa terdapat hubungan sebab akibat dari berbagai kondisi alamiah yang selama ini ada dan tampak di muka. la cenderung melihat data-data empiric semata. Karena itu Bacon lebih mengoptimalisasi teori statistika.

Di abad ke-18 atau sering disebut sebagai abad pencerahan (enlightenment), Barat sudah menemukan teori besar dengan keyakinannya pada otak manusia yang tidak terbatas. Di abad ini telah lahir ilmuwan seperti Isac Newton (peletak dasar ilmu sain), Adam Smith penemu teori ilmu-ilmu ekonomi, dan Montesquie Rousseau, sebagai peletak dasar ilmu ketatanegaraan dan yang paling penting peletak dasar teori deduksi. Saat ini, dunia Barat telah mencoba mengidolakan sains dan menempatkan Tuhan ke sudut pemikiran serta berusaha memindahkan “Surga dari akhirat ke bumi” melalui logika deduksi tadi.

Abad ke-18, dalam bidang filsafat telah muncul tokoh fenomenal seperti Immanuel Kant dan David Hume. Kant adalah pengagum cara kerja logika deduktif. Sementara itu, David Hume berpegang pada cara kerja induktif. Kant mengetahui apa yang disebut dengan a priori yang hasilnya disebut pengetahuan analitik.

Sedangkan Hum pemikir dengan cara a posteriori yang basil kerja berpikirnya disebut pengetahuan sintetik. Kant memunculkan teori sebab akibat, sementara I Lume bertolak pada fakta-fakta empirikal yang berserakan dan menuntut adanya suatu pertalian di antara fakta-fakta yang berserakan itu.

Di abad ke-19, pertentangan antara deduktif dan induktif beradadi tangan Whewell (deduktif) dan Jhon Stuart Mill (induktif). Pada abad ini, filsafat ilmu muncul dan mulai membangun paradigma tersendiri. Whewell mulai mencoba mencari hubungan antara konsep, ide-ide secara logis seperti teorinya tentang perjalanan cahaya pada garis lurus, panas, bentuk dari energi, aksi akan melahirkan reaksi.

Pada abad ke-20, para ahli filsafat mencoba memikirkan kompromi antara cara kerja deduktif dan induktif. Philips misalnya mencoba membuat kompromi dengan menyebutkan bahwa, cara berfikir manusia sebenarnya hanya satu, yaitu deduktif. Sedangkan induktif sebenarnya merupakan deduktif yang sebaliknya. Dalam pendapatnya disebutkan bahwa orang tidak dapat melepaskan diri dari pola pikir yang sudah dianutnya sebelum ia melakukan penelitian, Dalam penelitian yang kedua, pola pikir itu disatupadukan dalam.

Apa yang disebut logico, hypo the tico- veryficatio: diperlukan suatu teori atau pola untuk menerangkan dan sekaligus meramalkan fenomena-fenomena yang daripadanya dialirkan hipotesis-hipotesis yang selanjutnya akan diuji kebenarannya. Bila teruji, hipotesis diakui sebagai fakta. Dalam konteks ini, pertentangan antara deduktif dan induktif menjadi tidak relevan lagi.

Berbagai keterangan di atas menyimpulkan bahwa sarana berpikir ilmiah berlandas pada logika. Dengan kata lain, logika adalah cara penalaran dalam menarik kesimpulan. Untuk memperoleh cara berpikir yang lebih shahih, dalam praksisnya, serendahnya terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui cara kerja logika. Dua cara itu adalah: Induktif dan deduktif. Logika induktif diartikan sebagai penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan rasional.

Logika deduktif adalah, cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan. Dalam implementasinya, kedua cara penarikan kesimpulan ini memiliki implikasi yang sangat luas. Yang secara perlahan-lahan akan terurai melalui berbagai penjelasan di bab berikut buku ini.** Oleh: Prof. Dr. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.