Model dan Cara Kerja Logika | Epistemology Part – 13

0 101

Herman Soewandi [2000] mengakui bahwa cara kerja deduksi dan induksi, sejak awal, selalu melahirkan konflik yang cukup tajam. Pertarungan di antara keduanya, tidak hanya terjadi pada abad ke 16-17, seperti Rene Descartes [deduktif] versus Francis Bacon [induktif], tetapi bahkan sejak Plato dan Aristoteles di Yunani Kuna. Descartes penemu kordinat Cartesian, berlandas pada corak matematik.Ai??Rene Descartes, rasionalis murni yang menganggap diri manusia, tentu melalui akalnya, harus menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.

Rene Descartes [1596-1650 M] berpendapat bahwa kemampuan berpikir manusia, sesungguhnya dapat menghasilkan ilmu yang luar biasa.Ai?? Sejak manusia dilahirkan, manusia sudah dapat berpikir, meski mungkin dipengaruhi cara berpikir orang lain. Proses berpikir dimaksud, ditanmankan dalam bentuk pendidikan baik di dalam maupun di luar keluarga.

Melalui teorinya, manusia dapat mendeskripsikan secara tepat letak sesuatu di alam ini. Corak berpikir Descartes yang matematik ini, pada akhirnya mampu melukiskan bahwa seluruh alam semesta dapat di-matematika-kan. Alam dilukiskan sebagai mesin besar. Manusia dianggap sebagai salah satu mesin kecil yang ada di alam ini.

Sementara itu, Francis Bacon [1561-1626 M] berpendapat bahwa selalu terdapat hubungan sebab akibat dari berbagai kondisi alamiah yang selama ini ada dan tampak di muka. la cenderung melihat data-data empirik semata. Karena itu Bacon lebih mengoptimalisasi teori statistika.

Francis Bacon menyebut bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman empiris. Ia menyatakan bahwa ilmu harus dihasilkan dari fenomena alam. Panca Indera adalah instrument penting ilmu pengetahuan. Pancaindera adalah observable and measurable. Karena itu, menurut Bacon, ilmu pada hakikatnya diperoleh melalui alam, di ambil dari alam dan menggunakan hukum-hukum alam (a posteriori).

Pikiran Bacon yang seperti inilah, yang menyebabkan dia harus disebut induksionis, yang memperkuat pada basis observasi dan eksperimentasi atas fakta, didata dalam tabel positif dan negatif, kualitatif terukur, dan kemudian memunculkan hypotesis, baru diverivikasi, kemudian generalisasi untuk penetapan teori pengetahuan.

Dampak Deduktif dan Induktif

Di abad ke-’18 atau sering disebut sebagai abad pencerahan (enlightenment).Ai??Barat sudah menemukan teori besar dengan keyakinannya pada otak manusia yang tidak terbatas. Di abad ke 18, telah lahir ilmuwan seperti Isac Newton (peletak dasar ilmu sain), Adam Smith penemu teori ilmu-ilmu ekonomi, dan Montesquie Rousseau, sebagai peletak dasar ilmu ketatanegaraan dan yang paling penting peletak dasar teori deduksi. Saat ini, dunia Barat telah mencoba mengidolakan sains dan menempatkan Tuhan ke sudut pemikiran serta berusaha memindahkan “Surga dari akhirat ke bumi” melalui logika deduksi tadi.

Abad ke-18, dalam bidang filsafat telah muncul tokoh fenomenal seperti Immanuel Kant dan David Hume. Kant adalah pengagum cara kerja logika deduktif. Sementara itu, David Hume berpegang pada cara kerja induktif. Kant mengetahui apa yang disebut dengan a priori yang hasilnya disebut pengetahuan analitik. Sedangkan Hum pemikir dengan cara a posteriori yang basil kerja berpikirnya disebut pengetahuan sintetik. Kant memunculkan teori sebab akibat, sementara I lume bertolak pada fakta-fakta empirikal yang berserakan dan menuntut adanya suatu pertalian di antara fakta-fakta yang berserakan itu.

Di abad ke-19, pertentangan antara deduktif dan induktif beradadi tangan Whewell (deduktif) dan Jhon Stuart Mill (induktif). Pada abad ini, filsafat ilmu muncul dan mulai membangun paradigma tersendiri. Whewell mulai mencoba mencari hubungan antara konsep, ide-ide secara logis seperti teorinya tentang perjalanan cahaya pada garis lurus, panas, bentuk dari energi, aksi akan melahirkan reaksi.

Upaya Melakukan Kompromi

Pada abad ke-20, para ahli filsafat mencoba memikirkan kompromi antara cara kerja deduktif dan induktif. Philips misalnya mencoba membuat kompromi dengan menyebutkan bahwa cara berfikir manusia sebenarnya hanya satu, yaitu deduktif, Sedangkan induktif sebenarnya merupakan deduktif yang sebaliknya.

Dalam pendapatnya disebutkan bahwa orang tidak dapat melepaskan diri dari pola pikir yang sudah dianutnya sebelum ia melakukan penelitian. Dalam penelitian yang kedua, pola pikir itu disatupadukan dalam. apa yang disebut logico, hypo the tico- veryficatio: diperlukan suatu teori atau pola untuk menerangkan dan sekaligus meramalkan fenomena-fenomena yang daripadanya dialirkan hipotesis-hipotesis yang selanjutnya akan diuji kebenarannya. Bila teruji, hipotesis diakui sebagai fakta. Dalam konteks ini, pertentangan antara deduktif dan induktif menjadi tidak relevan lagi,

Berbagai keterangan di atas menyimpulkan bahwa sarana berpikir ilmiah berlandas pada logika. Dengan kata lain, logika adalah cara penalaran dalam menarik kesimpulan, untuk memperoleh cara berpikir yang lebih shahih.

Dalam praksisnya, serendahnya terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui cara kei*ja logika. Dua cara itu adalah: Induktif dan deduktif. Logika induktif diartikan sebagai penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan rasional.

Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan. Dalam implementasinya, kedua cara penarikan kesimpulan ini memiliki implikasi yang arnat luas, yang secara perlahan-lahan akan terurai melalui berbagai penjelasan di bab berikut buku ini. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.