Pelaksanaan Model Pembelajaran Cooverative Learning

0 365

Dr. Hj. Ety Tisnawati: Proses pembelajaran yang disampaikan guru, diharap mampu  memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Pemilihan model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran cooverative learning, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru.

Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama di antara peserta didik. [1]  Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

Sintaks Model Pembelajaran

Model-model pembelajaran dapat diklasifikasi berdasarkan tujuan, sintaks  (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajar siswa. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.

Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama.

Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses kegiatan yang dilaksanakan guru. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pembelajaran,  didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan siswa, tentu dengan bimbingan guru.

setiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif (coverative learning) memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.

Pada model (coverative learning) siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di sekolah, tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). Jadi, pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi atau bahan ajar kepada para siswanya.

Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Menurut penemuan para ahli, (coverative learning) dipandang paling tepat di antara model pembelajaran yang lain. Untuk menyikapi hal di atas, maka perlu disepakati hal-hal sebagai berikut :

  1. Peserta didik pada tingkat Dasar dan menengah, banyak yang masih berada dalam tahap berpikir konkret. Model dan metode apapun yang diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep yang disajikan.
  2. Pendidik tidak perlu “mendewakan” atau mengunggulkan salah satu model pembelajaran yang ada. Sebab setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatannya masing-masing.
  3. Pendidik dapat memilih salah satu model pembelajaran yang patut dianggap sesuai dengan materi pembelajaran yang disampaikan. Jika diperlukan pendidik dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran yang dikuasai. Guru dapat menggunakan model pembelajaran yang lebih variatif.
  4. Model apa pun yang diterapkan pendidik, jika kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa, maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif. Karena itu, penggunaan model pembelajaran, membutuhkan komitmen dan kecakapan guru dalam menguasai materi pembelajaran. Dengan demikian, guru atau pendidik memerlukan komitmen sebagai berikut: 1). Pendidik perlu menguasai materi yang diajarkan, dapat mengajarkannya, dan terampil dalam menggunakan alat peraga. 2). Pendidik berniat untuk memberikan segala yang dipunyai kepada para siswa dengan sepenuh hati, hangat, ramah, antusias dan bertanggung jawab, dan; 3). Menjaga agar para siswa “mencintai” pendidik, menyenangi materi yang diajarkan dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa pendidik. Sebagai seorang guru, ia dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Anggaplah pendidik dimaksud sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

MODEL PEMBELAJARAN COOVERATIVE

Model pembelajaran yang dapat diterapkan guru beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai dengan hasil yang lebih  baik. Implementasi model kooperatif, dapat diilustrasi sebagai berikut:

Pelaksanaan model pembelajaran koperatif, dapat dikelompokkan ke dalam tipe-tipe pembelajaran sebagai berikut:

Model Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw, dilakukan guru dengan cara sebagai berikut:

  • Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok (disebut kelompok asal 4 – 5 orang dengan kemampuan heterogen). Setiap aanggota kelompok memilih materi yang telah disiapkan oleh guru
  • Di kelompok asal, setelah masing-masing siswa menentukan pilihannya, mereka langsung membentuk kelompok ahli berdasarkan materi yang dipilih
  • Setelah kelompok ahli mempelajari (berdiskusi) tentangmaterinya masing-masing, setiap anggota kelompok ahli kembali lagi ke kelompok asal untuk menjelaskan /menularkan apa-apa yang telah mereka pelajari /diskusikan di kelompok ahli.
  • Dalam tipe ini peran guru lebih banyak sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi agar pelaksanaan kegiatan diskusi dalam kelompok ahli maupun penularan dalam kelompok asal berjalan secara efektif dan optimal
  • Setelah masing-masing anggota dalam kelompok asal selesai menyampaikan apa yang dipelajari sewaktu dalam kelompok ahli, guru memberikan soal/kuis secara individu kepada seluruh siswa
  • Nilai dari pengerjaan kuis individual digunakan sebagai dasar pemberian nilai penghargaan untuk masing-masing kelompok.

Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair and Share

Model pembelajaran kooperatif Tipe Think Pair and Share dilakukan guru dengan cara sebagai berikut:

  • Guru mengajarkan materi seperti biasa, alat peraga disiapkan. Dapat pula dilakukan melalui in focus yang mensyaratkan setiap kelas memiliki perangkat lunak dan keras untuk kepentingan pembelajaran.
  • Dengan melakukan tanya jawab yang bersipat linier, cair dan jauh dari sipat instruktif, setelah sebelumnya guru memberikan contoh soal.
  • Guru membrikan soal yangg dikerjakan siswa berdasar persyaratan soal sebagai problem.
  • Guru melakukan panduan kepada siswa dalam menyelesaikan soal yang diberikannya.
  • Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
  • Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa yang diakhiri dengan memberi kesimpulan yang dilakukan guru

Model Pembelajaran Kooperatif Type Missouri Mathematics Project

Model pembelajaran kooperatif Tipe Missouri Mathematics Project, dilakukan guru dengan cara sebagai berikut:

  • Guru meminta siswa untuk melakukan Review terhadap mata pelajaran yang disampaikan. Langkah yang ditempuh guru adalah sebagai berikut: a) Dengan cara mengulang ulang mata pelajaran yang lalu; b) membahas tugas yang diberikan /pekerjaan rumah.
  • Guru melakukan pengembangan terhadap konten pembelajaran. Langkahnya dilakukan dengan cara: a) penyajian ide baru atau perluasan konsep yang  sebelumnya telah disampaikan; b) penjelasan tentang diskusi, demonstrasi, dengan contoh kongkret yang sifatnya piktoral dan simbolik.
  • Guru meminta siswa melakukan Latihan yang bersipat Langkahnya adalah sebagai berikut: a) siswa merespon soal; b) guru mengamati; c) belajarnya bersipat kooperatif.
  • Guru melakukan seatwork dengan langkah sebagai berikut: siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep.
  • Pekerjaan Rumah:Tugas membuat pekerjaan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Penemuan Terbimbing

Langkah yang ditempuh oleh guru dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

  • Merumuskan masalah yang diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusan harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang di tempuh siswa tidak salah.
  • Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang di perlukan. Bimbingan sebaiknya mengarah siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau lembar kerja siswa (work sheet).
  • Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasi analisis yang dilakukan
  • Konjektur yang telah dibuat siswa, diperiksa oleh guru. Hal ini digunakan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
  • Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur teresbut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan kepada siswa untuk menyusunnya.
  • Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan.

Model Pembelajaran Kooperatif Type Problem Posing

Model pembelajaran Problem Posing pada prinsipnya mengahruskan siswa untuk mengajukan persoalannya sendiri.  Jenis model ini dapat juga diterjemahkan dengan pembelajaran mandiri yang sintaknya adalah sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan materi pelajaran, alat peraga disarankan untuk ada;
  2. Memberikn latihan soal secukupnya;
  3. Siswa mengajukan soal yang menantang, dan dapat diselesaikan oleh mereka. Model pembelajaran ini dapat dilakukan secara kelompok yang langkahnya adalah:
  1. pertemuan berikutnya, guru menyuruh siswa menyajikan soal temuan di depan kelas;
  2. guru memberikan tugas rumah secara individual.

Model Pembelajaran Kooperatif Type TGT

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran kooperatif Type TGT adalah sebagai berikut :

  1. Guru memberikan informasi secara klasikal kepada seluruh siswa yang menjadi asuhannya
  2. Guru membentuk kelompok beranggotakan 4-5 siswa (kemampuan siswa heterogen)
  3. Guru meminta siswa melakukan diskusi kelompok untuk penguatan pemahaman materi yang dikaitkan dengan kuis/latihan yang telah diberikan (mempelajari kembali)
  4. Permainan/turnamen (dalam setiap kelompok diwakili satu orang)
  5. Guru memberikan soal untuk dilombakan di antara siswa
  6. Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang wakilnya dapat maju terus sampai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Problem Solving

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran dengan menggunakan tipe Problem Solving adalah sebagai berikut:

  1. Guru mesti membuat klasifikasi siswa bahwa mereka memiliki prasyarat untuk mngrjakan soal yang diberikan
  2. Guru mesti memperhatikan bahwa masalah yang dihadapi siswa tersebut belum tahu cara pemecahan masalah
  3. Guru membuat soal yang memungkinkan dapat dijangkau oleh peserta didik
  4. Siswa mau dan berkehendak untuk menyelesaikan masalah yang diusulkan oleh guru

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kontekstual

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran dengan menggunakan Tipe Kontekstual adalah sebagai berikut:

  1. Konstruktivisme, yakni upaya guru untuk: a) Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal; b) Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
  2. Inquiri (menemukan) yakni upaya guru untuk: a) Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman;b) Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis.
  3. Questioning (bertanya) yakni upaya guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
  4. Learning Community (masyarakat belajar): a) Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar; b) Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri; c) Tukar pengalaman; d) Berbagi ide.
  5. Modeling (pemodelan): a) Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar; b) Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya.
  6. Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya): a) Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa; b) Penilaian produk (kinerja); c) Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
  7. Reflection (refleksi): a) Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari; b) Mencatat apa yang telah dipelajari; c. Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example Non Example

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran dengan menggunakan Tipe Example Non Example adalah sebagai berikut:

  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP. Dapat juga dilakukan melalui in focus
  3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
  6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan ini diakhiri dengan membuat kesimpulan yang disampaikan guru

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Role Playing

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran dengan menggunakan Tipe Role Playing adalah sebagai berikut:

  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum, lalu mengevaluasi dan menutup kegiatan diskusi

Model Kooperatif Tipe Group Investigation

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran dengan menggunakan Tipe Group Investigation adalah sebagai berikut:

  1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
  2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
  3. Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
  4. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
  5. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
  6. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
  7. Evaluasi
  8. Penutup

Model Integrated Reading and Composition (CIRC)

Langkah yang ditempuh  guru dalam pembelajaran dengan menggunakan Tipe Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah sebagai berikut:

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
  4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama

Manfaat Penggunaan Model Pembelajaran Koperatif

Para ahli pendidikan dan ahli psikologi perkembangan, telah banyak menemukan bahwa kualitas proses pembelajaran, mengalami peningkatan ketika peserta didik memperoleh kesempatan yang luas untuk bertanya, berdiskusi dan menggunakan secara aktif pengetahuan baru yang diperoleh. Peserta didik berfungsi selain sebagai objek didik juga berfungsi sebagai subjek pendidikan. Untuk itu, terdapat banyak cara, metode dan teknik yang dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan  demikian, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar. Dua bagian ini dapat dilihat dalam bentuk piramida pembelajaran sebagai berikut:

Gambar di atas menunjukkan bahwa terdapat dua kelompok model pembelajaran, yaitu model pembelajaran Pasif dan model Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat peserta didik mengingat lebih lama (retention rate of knowledge) terhadap materi pembelajaran yang diajarkan. Engineering model pembelajaran aktif ini, merupakan salah satu alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan ingin diperbaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Cooperative Learning Model’s  dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan penting dalam proses pembelajaran. Ketiga tujuan itu adalah: hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial. Menurut Slavin pembelajaran kooperatif, merupakan model pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen.

Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada model pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Eggen dan Kauchak, mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling membantu dalam mempelajari sesuatu. Ada empat macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan Arends dalam Loree M. Ray,[3] yaitu;

  1. Student Teams Achievement Division (STAD);
  2. Group Investigation;
  3. Jigsaw, dan;
  4. Structural Approach.

Model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan.[4] Struktur tugas mengacu pada cara pengaturan pembelajaran dan jenis kegiatan siswa dalam kelas. Struktur tujuan, yaitu sejumlah kebutuhan yang ingin dicapai oleh siswa dan guru pada akhir pembelajaran atau saat siswa menyelesaikan pekerjaannya. Ada tiga macam struktur tujuan, yaitu: a) Struktur tujuan individualistik; b) Struktur tujuan kompetitif; c) Struktur tujuan kooperatif; d) Struktur penghargaan kooperatif, yaitu penghargaan yang diberikan pada kelompok jika keberhasilan kelompok sebagai akibat keberhasilan bersama anggota kelompok.

Ciri dan Tahapan Model Pembelajaran Kooperatif

Arends,[5] menyebut bahwa, pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar,
  • Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah,
  • Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda,
  • Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
  • Pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran.
  2. Menyampaikan informasi: a) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar; b) Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok; c) Evaluasi atau memberikan umpan balik; d) Memberikan penghargaan.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak­tidaknya tiga tujuan pembelajaran menurut Jack R. Fraenkel,[6] adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.
  • Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain.
  • Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.

Melalui model ini diharapkan tidak cuma kemampuan akademik yang dimiliki siswa tetapi juga ketrampilan yang lain. Keterampilan-keterampilan itu, menurut Jack R. Fraenkel,[7] antara lain:

  1. Keterampilan-keterampilan Sosial;
  2. Keterampilan Berbagi;
  3. Keterampilan Berperan Serta;
  4. Keterampilan-keterampilan Komunikasi;
  5. Pembangunan Tim, dan;
  6. Keterampilan-keterampilan Kelompok.

Pembelajaran dengan demikian adalah kombinasi yang tersusun dalam suatu kegiatan tertentu yang meliputi dimensi manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan sebagai suatu proses interaksi antara guru dan siswa di mana guru dapat menguasai pengetahuannya, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diberikan.

Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif

Penggunaan model cooperative learning dalam proses pembelajaran memiliki arti penting. Banyak keuntungan psikologis-pedagogis yang dapat diraih dengan menggunakan model tersebut. Di antara keuntungan itu antara lain:

  1. Situasi belajar anak akan menjadi lebih aktif dan dapat meningkatkan semangat siswa dan tentu siswa akan memiliki kesan mendalam.
  2. Anak didik belajar berfikir kritis, ilmiah dan sistematis.
  3. Menumbuhkan rasa percaya diri terhadap penguasaan materi sehingga akan bersikap objektif.
  4. Menumbuhkan keberanian, kesungguhan dan tanggung jawab terhadap segenap tanggungjawab yang dibebankan kepada siswa.
  5. Dapat menumbuhkan sikap dan jiwa demokratis di kalangan peserta didik

Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif

Adapun kekurangan penggunaan model cooperative learning, sejauh yang mampu peneliti kaji adalah sebagai berikut:

  1. Terkadang guru kesulitan mengevaluasi secara tepat.
  2. Bagi anak yang kurang mampu akan menjadi rendah diri dan cenderung minder bahkan putus asa.
  3. Bila anak didik kurang menguasai masalah, maka sulit bagi guru untuk mengatur waktu, sehubungan waktu kurang memadai.

Namun demikian, kelemahan-kelemahan tadi, dalam banyak hal justru dapat menjadi salah satu solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi peserta didik. Anak yang sebelumnya berkecenderungan minder dapat didorong untuk memiliki self esteem yang tinggi dan anak yang dianggap kurang menguasai masalah, pada akhirnya akan dianggap memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah. Pendidikan sebagai sebuah proses pendewasaan justru akan terjamin apabila model pembelajaran ini dapat dilakukan.

Jadi, pembelajaran adalah proses interaksi antara manusia dalam usaha transfer ilmu dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak biasa menjadi biasa. Proses ini berlangsung bukan hanya dari pendidik kepada peserta didik saja, tetapi juga sebaliknya pendidik bisa mengambil pelajaran dari peserta didiknya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu usaha atau cara seorang guru (pendidik) dalam menyampaikan materi pembelajaran dengan harapan agar tujuan dari proses pembelajaran tersebut dapat tercapai. Dengan kata lain, metode pembelajaran adalah segala usaha atau cara yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran, baik bersifat formal, informal, maupun non formal.

Menurut Nana Sujana,[8]  metode yang digunakan dalam pembelajaran umumnya dicirikan dengan jenis: Metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas atau resitasi, kerja kelompok, demonstrasi dan eksperimen, sosio drama, problem solving, sistem regu, latihan, karyawisata, survey masyarakat dan simulasi. Sesuai dengan judul penelitian, peneliti hanya akan menjelaskan lebih rinci mengenai model cooperative Learning (belajar dalam prinsip yang koperatif) yang meliputi pengertian, faktor-faktor yang menjadi pendorong untuk dilaksanakannya model ini, kelebihan dan kelemahan penggunaan metode ini.

Model cooperative learning adalah salah satu pola mengajar dengan jalan melatih siswa dalam menghadapi masalah. Setiap siswa dilatih untuk memecahkan masalah baik sendiri maupun bersama-sama, dengan cara mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam bentuk pikiran, kemauan, perasaan serta semangat untuk mengetahui pemecahannya sampai pada suatu kesimpulan yang diharapkan.[9]  Cooperative learning dengan bahasa lain, adalah suatu model pembelajaran siswa yang meletakkan siswa sebagai subjek pendidikan dalam memecahkan masalah.

Model cooperative learning, adalah bagian dari model inteactive learning yang menghimpun kekuatan dan potensi yang dimiliki setiap peserta didik untuk turut serta menganalisis berbagai keadaan yang terjadi baik di dalam maupun di luar kelas. Model ini dianggap cocok untuk mendidikan peserta didik yang dalam kasus tertentu patut dianggap dewasa, atau sebagai melakukan proses pendewasaan. Hal ini berarti sesuai dengan tujuan pendidikan yang salah satunya bertujuan untuk mendewasakan peserta didik dari waktu sebelumnya yang dianggap belum dewasa.[10]

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa model cooperative learning adalah suatu cara yang menempatkan seorang guru atau pendidik sebagai subjek di satu sisi, namun ia berdiri sebagai objek di sisi yang lainnya. Begitu juga dengan siswa. Ia dapat diletakkan sebagai objek sekaligus subjek dalam pendidikan.

Model cooperative learning diwujudkan dalam teknis pembelajaran yang secara dilakukan dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung masalah bagi peserta didik. Sesuatu yang dianggap sebagai masalah tadi, minta disampaikan kepada peserta didik atau minta peserta didik untuk menyampaikan masalah yang dia miliki. Kemudian masalah tersebut diselesaikan secara bersama, dengan mengakomodir setiap kemungkinan perbedaan yang terjadi di lingkungan mereka. Tujuan diterapkannya model ini, agar ilmu atau keterampilan yang disampaikan lebih bermakna dan lebih kuat tersimpan dalam ingatan masing-masing siswa. Hal ini sesuai dengan teori pendidikan moderen yang menyebut bahwa apa yang didengar, pasti diingat tetapi tidak lama kemudian, hal itu menjadi lupa. Tetapi apa yang dilakukan, dimengerti dan sekaligus diingat selamanya. [11]  Untuk melaksanakan model cooperative learning yang baik dan efektif, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Model tersebut harus dianggap paling tepat untuk pembelajaran tertentu yang berlangsung dalam kegiatan pembelajaran. Dan ini, menurut peneliti cukup cocok untuk dilakukan, khususnya untuk mengkaji soal keagamaan dan sikap keberagamaan yang syarat kemungkinan terjadinya diskusi di dalam kelas.
  • Guru harus meng’itikadi bahwa model tersebut digunakan dengan maksud untuk melatih siswa berfikir kritis dan dinamis, sehingga setiap pembelajaran dengan model ini dapat meningkatkan perkembangan intelegensi, apeksi dan konasi peserta didik. Dalam kaitan ini, model cooperative learning digunakan untuk membincangkan sikap keberagamaan, agar hasil diperoleh siswa dapat lebih meningkatkan karakter keberagamaan dimaksud.
  • Guru harus meng’itikadi bahwa model tersebut digunakan dengan maksud untuk melatih siswa agar memiliki kearifan hidup secara bersama di tengah segenap perbedaan yang terjadi. Artinya di dalam kelas harus mencerminkan yang mendorong agar berjiwa demokratis dan berlapang dada menerima setiap perbedaan yang ada di lingkungan siswa.
  • Bentuk model ini dapat bervariasi artinya dapat berbentuk pertanyaan, dapat pula dalam bentuk tugas atau pernyataan tertentu yang memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran yang dilangsungkan.
  • Seluruh siswa harus mendapat tugas, sehingga tidak ada kesempatan untuk meniru, menyontek atau menyuruh orang lain. Siswa memperoleh kesempatan dan waktu yang sama untuk menyampaikan gagasannya, sekalipun gagasan dimaksud dianggap sangat jauh dari nilai yang dimiliki seorang guru.
  • Memungkinkan bertanya atau tugas berbeda antara satu dengan yang lain sehingga tidak ada kerjasama.
  • Persoalan atau tugas harus jelas, singkat agar tidak menimbulkan keragu-raguan dan kekeliruan pada siswa.

 

[1] Bonwell C.C. Active Learning: Creating Excitement in The Classroom: Center for Teaching and Learning. USA: Louis College of Pharmacy, 1995. h. 27

[2] Slavin. loc. cit.

[3] Loree M. Ray.Psychology of Education. Second Edition. New York: The Ronald Press Company, 1997, h. 110-111

[4] ibid

[5] Jack R. FraenkelHow to Teach abbaut Values: An Analytic Aproach. USA: Pentice Hall, h. 7

[6] ibid

[7] Jack R. FraenkelHow to Teach abbaut Values: An Analytic Aproach. USA: Pentice Hall, h. 7

[8] Nana Sudjana. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru, 1988. h. 77-89

[9] Joyce & Weil.Models of Teaching. New York: Appleton Century Coff, 1980. h. 41

[10] Malcom S. Knowles. The Modern Practice of Adult Education: From Pedagogy to Andragogy. New York: Cambridge, 1980. h. 57

[11] Paul R. Pintrich dan Dale H. Schunk. Motivation in Education: Theory Research and aplication. New Jersey: Prentice Hall, 1996. h. 41

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.