Model Pendekatan dalam Perencanaan Manajemen Pesantren

0 296

Sistem pendekatan dalam perencanaan memiliki kedudukan yang sangat penting. Sebab  model pendekatan dalam perencanaan manajemen pesantren merupakan pilihan tentang falsafah dan strategi perencanaan. Pada gilirannya akan memberi warna terhadap segala pikiran dan perbuatan dalam kegiatan perencanaan. Bertahun-tahun dan berbagai negara berusaha mengembangkan berbagai pendekatan bagi perencanaan keagamaan. Pada dasarnya hasil usaha itu dapat dikategorikan kepada lima model, yaitu:

Intra Educational- Extrapolation Model

Konsepnya relatif sederhana dan terbuka (straightforward). Namun teknisnya cukup menantang dan kompleks, terlebih manakala terlibat ke dalamnya berbagai pilihan perubahan dari satu kelain bagian. Cara kerjanya menghitung implikasi kuantitatif dari karakter yang jadi target kegiatan Pesantren. Bila ingin mencapai target tertentu pada tahun tertentu, maka perencana kegiatan Pesantren harus mengektrapolasi dari angka-angka yang ditargetkan tersebut kepada angka lain seperti suplai pengelola Pesantren, pembangunan gedung baru, pencetakan buku ajar, serta schedule waktu dari setiap item target. Dalam kaitan ni statistik merupakan instrument penting, supaya analisis tentang capaian, target dari satu bagian ke bagian daerah lain dapat diurai dengan tepat dan baik.

The Demographic Projection Model

The demographic projection model merupakan pendekatan yang secara imajinatif bersifat menyeluruh. Model ini menyiapkan parameter pokok dalam menghitung jumlah penduduk (variable tingkat kelahiran yang dikaitkan dengan cohort besaran usia) terkait dengan sistem Kegiatan Pesantren masa depan yang harus dipersiapkan.dari sini diproyeksikan kepada unsur-unsur lain kegiatan Pesantren seperti komposisi dan jumlah anak didik pada usia tertentu pada tahun-tahun tertentu, kemudian implikasinya terhadap besaran, distribusi pelayanan, tingkat-tingkat kegiatan Pesantren, maupun tahun-tahun yang ditargetkan, sesuai dengan “the size of the age cohort” anak didik.

Cara inilah yang pernah dilakukan Negara-negara di eropa Barat dan Amerika Utara setelah perang dunia kedua termasuk dalam kebijakan pendidikan. Dari “the size of the age cohort” juga dihitung pada tahun-tahun mana perencana harus mempersiapkan jenis dan jenjang kegiatan Pesantren tertentu, sebab di antara banyak kesalahan perencana dalam kaitan ini adalah kurang mempersiapkan pilihan-pilhan tertentu dari jenis kegiatan Pesantren. Pendekatan juga ini akan menghasilakn peta pesantren yang didalamnya tergambarkan unsur-unsur yang terkait pada kependudukan, dan malah meluas pada variable lain pada sampai menentukan lokasi tempat pesantren yang harus dibangun, terkait dengaan demografi, geografi, keadaan masyarakat, jenis transportasi serta lokasi pesantren yang harus punya akses maksimal terhadap keberadaan penduduk.

Tujuan Internal – Eksternal Pesantren

Kegiatan Pesantren yang berbasis pada sistem perencanaan dengan manajemen di atas, secara konseptual hakikatnya berbeda dilihat dari prediksi terhadap “ekternal demands” yang harus direspon Pesantren. Mengutip hasil survey OECD (1980) Fakry Gaffar (1987: 23) menegaskan bahwa: Hingga saat ini terdapat proses evolusi berfikir tentang perencanaan dari satu tahap ke tahap yang lainnya. Hal ini terjadi, baik pada perencanaan kegiatan Pesantren yang tujuannya bersifat eksternal maupun internal.

Tujuan kegiatan Pesantren yang sifatnya internal berpangkal rumus “growth and well being”. Sementara tujuan Kegiatan Pesantren yang sifatnya eksternal, pemenuhan ketenaga-kerjaan yang kemudian melahirakn perencanaan melalui: Pertama, pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach), kedua memenuhi kepentingan masyarakat yang kemudian melahirkan pendekatan tuntutan sosial (social demand approach), dan katiga, pemenuhan pengembalian biaya yang dipakai kegiatan Pesantren (rate of return) yang kemudian melahirkan pendekatan yang bercorak ekonomi yang disebut Pendekatan Analisis Biaya dan Keuntungan (cost benefit analysis) yang di dalamnya sangat kuat penekanannya pada Efektivitas Biaya (cost effectiveness).

The Man Power Model

Model-model ini tidak sepenuhnya merancang target seluruh kegiatan yang bersandar pada model kebutuhan tenaga kerja (The manpower model) bagi pertumbuhan ekonomi, akan tetapi memerlukan ekstrapolasi dari berbagai komponen sistem kegiatan termasuk kegiatan pendidikan di pondok Pesantren, yang dengan demikian berakibat pada target-target tertentu pada bagian-bagian tertentu pula di Pesantren.

Pada pendekatan “manpower model”, inti persoalannya terletak pada estimasi kebutuhan ekonomi nasional (atau bagiannya) terhadap sumber daya terlatih. Estimasi ini tidak hanya sekedar dimaknai aggregate (aggregate term) terhadap sumber daya terlatih namun juga term pada level tertentu dari kualifikasi dan periode tertentu, sehingga kegiatan kegiatan Pesantren dapat memenuhi kebutuhan nasional dalam hal tenaga kerja. Dalam kaitan ini para perencana kegiatan Pesantren harus fokus pada hasil survey tenaga kerja pada setiap objek yang dibidangi tiap departemen. Kesukaran yang dihadapi dalam model perencanaan demikian adalah menetapkan hubungan antara kualifikasi kegiatan Pesantren dengan keterampilan yang dibutuhankan, kecerdasan, dan perilaku dari jenis-jenis pekerjaan tertentu.

Apalagi jika dikaitkan dengan perubahan kegiatan ekonomi yang berjalan cepat, memerlukan sumber daya yang juga cepat, sementara lulusan kegiatan Pesantren memerlukan waktu yang cukup lama, baik dalam proses kegiatan Pesantren, ataupun dalam beradaptasi dengan lingkungan dan tempat kerja. Berdasarkan alasan dan juga pikiran-pikiran lainnya “three has been a marked decline in the degree to which manpower models” digunakan sebagai strategi perencanaan kegiatan Pesantren.

Prinsip utama Kegiatan Pesantren Sebagai “Industri” Tenaga Kerja

Prinsip utamanya adalah adanya lulusan sistem kegiatan Pesantren dengan tuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai bidang pembangunan. Seperti bidang industri, ekonomi, pertanian, perdagangan dan bidang kegiatan Pesantren. Visi demikian terhadap dunia kegiatan Pesantren melahirkan misi khusus. Yakni kesejahteraan atau peningkatan kualitas hidup individu serta kegiatan Pesantren dan masyarakat tempat individu terdidik tersebut berkarya. Tantangan yang dihadapi para perencanaan kegiatan Pesantren dalam pendekatan ini adalah bagaimana memprediksi jenis dan bidang-bidang pekerjaan masa yang akan datang saat si terdidik selesai mengikuti proses kegiatan Pesantren.

Banyaknya sarjana ilmu-ilmu sosial khususnya sarjana ilmu kegiatan Pesantren yang menganggur pada akhir dekade 1970-an, menunjukkan ketidak sinkronan antara perencanaan kegiatan Pesantren dengan perkembangan dunia kerja. Hal ini disebabkan pertama, melesetnya prediksi kebutuhan tenaga kerja yang berbasis pada kemampuan keterampilan. Kedua, kecepatan perkembangan perubahan dunia kerja sementara proses kegiatan pesantren memerlukan waktu yang cukup panjang untuk melakukan adaftasi baru. Ketiga, kuatnya dukungan birokrasi terhadap alumni lembaga pendidikan persekolahan. Keempat, kesulitan para penyelenggara Kegiatan Pesantren untuk menyiapkan fasilitas program kegiatan Pesantren yang dibutuhkan masyarakat lantaran visi dan keterampilan menajemen kegiatan Pesantren yang cenderung lemah.

Implikasi Praktis Manpower Approach

Implikasi praktis dari manpower approach ini adalah tuntutan kecanggihan rekayasa kurikulum. Kurikulum harus menyiapkan lulusan yang siap pakai di pasaran kerja. Untuk itu kurikulum harus berisi berbagai hal yang berkaitan dengan persyaratan kerja; jenis dan tingkat pekerjaan, dan tingkat keterampilan, cara model dan mobilitas kerja. Sedemikian rupa sehingga para lulusan Kegiatan Pesantren cocok dengan karakteristik dunia kerja yang akan dihadapi.

Di bawah ini akan dikemukakan bagaimana karakeristik Kegiatan Pesantren mengalami perubahan paradigma yang sangat kuat khususnya pada satu dekade terakhir ini. Kondisi ini, akan mempengaruhi penyusunan kurikulum pesantren dan manajeman yang akan dan harus dikembangkan di Pesantren. Pada saat yang sama perlu ada penekanan khusus tentang gaya kepemimpinan paradigma baru. Dengan begitu, diharapkan mampu memberikan peluang keberhasilan lebih baik. Hal ini dilakukan berdasarkan karakteristik masyarakat yang telah berubah sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi. Perkembangan dimaksud memiliki pengaruh besar terhadap perubahan mental, harga diri serta tinjauan terhadap martabat hidup sebagai manusia.

The Rate of Return Model

Model ini bagaimanapun memiliki premis-premis, prosedur berpikir dan sejumlah metodologi. Pemenuhan tenaga kerja pada umumnya merupakan prioritas kegiatan termasuk di Pesantren yang memberi tekanan terhadap perkembangan ekonomi. Asumsinya bahwa perkembangan ekonomi tidak mungkin dilaksanakan tanpa dukungan tenaga kerja yang terampil (berpikir ilmiah, bertindak profesional, serta etis dalam hubungan sosial).

Pemerataan kesempatan Kegiatan Pesantren merupakan tuntutan bangsa yang berdemokrasi dan berorientasi kerakyatan. Karena itu sifatnya lebih politis. Bentuk aslinya adalah kewajiban belajar. Pendekatan effektivitas menegaskan pentingnya efisiensi dalam pemanfaatan dana. Sehingga kemampuan budget pemerintah atau suatu negara termanfaatkan secara cermat dan optimal.

The Social Demand Model

Model ini sebagai bentuk yang menggambarkan kebijakan Kegiatan Pesantren dengan kecenderungan dipengaruhi oleh ekspresi kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang ada. Karena itu dari sudut yang berbeda, model ini dianggap keluar dari analisis ekonomi. Model ini tidak terkalkulasi baik oleh manpower model atau rate of ruturn models.

Model ini sangat strategis manakala perencanaan kegiatan Pesantren diorientasikan kepada pencapaian tujuan masyarakat secara umum. Seperti kesamaan hak asasi,penekanan pada otensitas budaya, dan upaya melegitimasi distribusi kekuatan politik. Atau model ini diorientasikan kepada kebutuhan sebagian masyarakat seperti regional tertentu dan kelompok bahasa tertentu. Pada hakikatnya-kadangkala-berupa tantangan dari kepentingan seorang kuat warga masyarakat. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa pada dasarnya hampir dapat dikatakan tidak ada perencanaan yang tidak terkait dengan “the social demand model”. Walau bentuk dan sistematisasi konsepnya dalam pengembangan konteks perencanaan, berubah dari waktu ke waktu.***H. Edeng Z.A

Bahan  Bacaan

E. Mulyasa Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya, 2004.

HAR. Tilaar. Manajemen Pendidikan Nasional: Kajian Pendidikan Masa Depan. Bandung: Rosdakarya, 1992.

HAR. Tilaar. Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Missi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997.

W.L. French. Human Resource Management. USA: Houghton Mifflen, 1986.

Henry M. Levin and Hans G. Schutze. Financing Recurrent Education: Strategies for Increasing Employment, Job Opportunies and Productivity. California: SAGE Publication, 1982.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.