Home » Pendidikan » Moralitas Peserta Didik Indonesia Sangat Memperihatinkan

Share This Post

Pendidikan

Moralitas Peserta Didik Indonesia Sangat Memperihatinkan

MORALITAS Peserta Didik Indonesia Sangat Memperihatinkan. Harus diakui bahwa banyak di antara peserta didik kita yang berprestasi, kompetitif dan komparatif . Ada yang juara olimpiade, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Tetapi di sisi lain juga ada yang memprihatinkan, kasus pembunuhan disertai kekerasan dengan berbau asmara dan hubungan seksual yang dilakukan oleh anak yang masih SMP di Tangerang. Pemerkosaan disertai dengan pembunuhan sadis terhadap Yuyun, kasus di Surabaya serta kasus-kasus lain adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan bahwa ada something wrong dalam perkembangan moralitas—dan lebih luas—pada pendidikan anak.

Penelitian-penelitian terdahulu juga memberikan indikasi tentang kehawatiran perkembangan anak dari sisi moralitas. Tatkala sebagian besar anak dan remaja kita telah mengklaim sebagai remaja modern, distorsi perilaku dan pelanggaran moral belum lagi surut (akumulasi dari problematika yang dialami anak dan remaja). Penggambaran gaya hidup anak dan  remaja yang kontra moralitas kerap kita temui. Dan bahkan dipandang sebagai kewajaran pada sebuah masyarakat yang tengah mengalami ‘kesakitan’. Hasil penelitian Universitas Atmajaya Jakarta bulan Oktober 1994 di beberapa SMP, SMA dan SMK di Jakarta dinyatakan bahwa 9,9% dari 558 siswa yang menjadi responden mengaku telah berhubungan seks dengan teman sebaya setelah menonton film porno.

Rekomendasi untuk anda !!   Pengurangan Quota SNMPTN 2017 menjadi 30% Inilah Peluangnya

Hasil penelitian Sulistya Eka, pelajar SMPP 10 Yogyakarta menyebutkan bahwa dari 461 pelajar yang mengisi angket, sebanyak 31.6% melakukan ciuman pada waktu pacaran, 21,6%. Meraba-raba organ tertentu milik pacarnya dan 12,7% mengaku pernah bersenggama dengan pacarnya. Sementara itu Jawa Pos edisi 25 Mei 2003 mencatat sebuah polling dari 1.522 siswa SMA/SMK di Jakarta dan Surabaya bahwa rata-rata 10,4% pernah berhubungan seks di luar nikah dan 45% pernah wet kissing (ciuman basah).

Survey terhadap 190 siswa SMA/SMK di Bandung. Tentang alasan melakukan hubungan seks di luar nikah adalah 26%. Menyalurkan dorongan seks, 17% ungkapan cinta, 17% untuk kesenangan, 13% dipaksa pacar, 10% agar dianggap modern, 8% uji kemampuan / keperawanan / perjaka, 5% mendapat imbalan, dan 3% mengatasi stress.

Rekomendasi untuk anda !!   Teori Nilai-nilai Multikultural Menurut Para Tokoh

Survei Komnas Anak, (2007) terhadap 4500 anak dari 12 kota, 97%. Anak menonton film porno, 3,7%. Ciuman, petting dan oral seks, 62,7%. Remaja SMP/SMA tidak perjaka/perawan lagi dan 21,3% remaja SMP/SMA pernah melakukan aborsi.

Pendidikan Agama (Islam), itulah Solusinya

Dari hal di atas maka pendidikan (agama) sejatinya merupakan proses pembentukan moral masyarakat. Termasuk anak dan remaja beradab, yang tampil dengan wajah kemanusiaan yang normal. Kata lainnya, pendidikan (agama) adalah moralisasi masyarakat, terutama anak dan remaja. Pendidikan (agama) yang dimaksudkan di sini lebih dari sekedar sekolah (not only as schooling) melainkan pendidikan sebagai jaring-jaring kemasyarakatan (as community networks).  ** (Dr. H. Masduki Duryat, M. Pd.I)

Read More:

Peran Dan Tugas Mulia Guru Di Era Temporer

Peran Guru dalam Pembentukan Moral Peserta Didik

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>