Motivasi Menghidupkan Namun Dapat Membunuh

0 29

Motivasi yang Menghidupkan dan Motivasi yang Membunuh. Ditengah hujannya malam minggu, saya, rekan dan kedua senior menemui Prof. Dr. H Cecep Sumarna dalam acara yang beliau sebut “anak muda royal”. Karena mengajaknya bertemu untuk sekedar makan-makan. Tentu bukan sembarang pertemuan. tujuannya untuk memberikan naskah buku dengan genre pengembangan diri yang akan diterbitkan, penulisnya senior sekaligus atasan saya di kampus, Pak Nanan Abdul Manan.

Suasana yang hangat namun penuh keilmuan pun dirasakan. Tentu, aktor utamanya adalah pemilik Lyceum Indonesia Prof. Dr. CecepSumarna. Saya teringat salah satu ucapannya senior saya yang lain yang hadir, Pak Dudung Abdu Salam. Beliau menceritakan seseorang yang enggan pulang ketika sudah dua tahun belum pulang ke kampung halamannya, yang barang tentu ada keluarganya disana atas permintaan orang tua, dengan kalimat “Saya tidak akan pernah pulang selama belum sukses”.

Kalimat di atas mengingatkan saya pada perubahan pola pikir motivasi akan sukses beberapa bulan yang lalu setelah memperoleh konsep motivasi dari tim kubik leadership. Pemikiran melalui ucapan seseorang di atas hanya akan membuat masyarakat kaget ketika memang kesuksesan individu diperoleh, mereka tidak menikmati kesukesan individu tersebut secara bertahap, layaknya hujan turun yang sampai setetes demi setetes alih-alih secara langsung. Mana yang lebih nikmat?

Motivasi yang Membunuh

Tim kubik leadership, perusahaan dalam jasa pengembangan diri, menjelaskan bahwa manusia banyak yang salah dalam memperoleh sumber motivasi. Sumber motivasi bisa dikategorikan menjadi adanya dua arus besar. Pertama to have, yaitu keinginan untuk memiliki, memperoleh, mempunyai, dan adanya to be, keinginan untuk menjadi.

To have menekankan seseorang berbuat sesuatu, karena dorongan ingin memiliki, misalnya ingin memiliki mobil mewah, rumah luas, memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya, mempunyai jabatan tinggi di pemerintahan maupun di perusahaan. Pada dasarnya to have ini motivasi akan sesuatu yang nyata, yang berupa material.

Pada titik ini, saya pernah memasang gambar-gambar kendaraan dan rumah di kamar sebagai visualisasi motivasi, yah itulah contoh to haveTo have ini saya sebut sebagai motivasi yang membunuh, karena dengan dorongan memiliki yang tinggi, seseorang bisa melakukan apa saja untuk memperolehnya. Pragmatis dan berpikiran pendek menjadi cirinya. Padahal to have ini akan hanya menjadi bonus dari arus motivasi yang lain, yaitu to be.

Motivasi yang Membunuh, Motivasi yang Menghidupkan,

Motivasi yang Menghidupkan

Setelah saya memahami arus motivasi to have dan to be, saya copot visualisasi motivasi di kamar saya yang berhubungan dengan to haveTo be, dorongan untuk menjadi dan untuk bisa, menekankan seseorang berbuat sesuatu untuk sesuatu seperti menjadi pembicara internasional, menjadi menteri pendidikan, menjadi guru besar, menjadi ketua PSSI, menciptakan banyak profesor, bisa membangun sekolah, bisa membangun rumah perubahan, dll. Pada dasarnya to be ini motivasi akan sesuatu yang intangible.

To be ini saya sebut sebagai motivasi yang menghidupkan, karena dorongan ini akan membuat anda bergerak untuk mendapat keterampilan, dan keterampilan adalah alat untuk melakukan apa saja yang anda mau. Dan anda pun tahu, ketika kita sudah memiliki keterampilan, memiliki materi hanyalah sebuah bonus.

Keambiguan Dua Motivasi

Jika anda berpikir lebih kritis, anda akan menemukan irisan pada arus motivasi diatas. Seseorang yang ingin menjadi menteri, bisa saja karena to have atau karena to be. To have ketika ia ingin menjadi menteri untuk mendapat fasilitas negara, popularitas, kekayaan. Bisa juga karena to be ketika ia ingin menginspirasi banyak orang, mengabdi, menepati salah satu janji kemerdekaan –mencerdaskan bangsa-. To have dan to be berpijak pada bagaimana anda memandang tujuan anda, apakah untuk sesuatu yang tangible –bernilai dan terlihat- atau intangible ­­–tidak ternilai dan soft-.

Saran dari Anak Muda

Setelah memahami dua arus motivasi, saya ingin ajak kaum muda untuk fokus memperoleh dan melatih keterampilan –kabisa-, seperti keterampilan berkomunikasi, manajerial, menjalin relasi, self driving, berpikir dan memecahkan masalah, membuat keputusan, berbaur dengan masyarakat, dll. Percayalah, apa yang ingin dimiliki berupa material, akan mengikuti. To be adalah ilmu, to have adalah harta. Dengan ilmu, semua kebahagiaan dunia, akhirat bahkan keduanya dapat diperoleh.

Teringat juga ucapan atasan saya, penulis buku “Membentuk jati diri, membangun masa depan” yang akan launching pada 22 oktober 2016. Dalam bekerja di bidang inovasi layanan akademik kampus berbasis IT. Beliau menyarankan untuk setahap demi setahap melakukan inovasi dengan tujuan supaya terlihat progress-nya. Dalam hal ini juga saya menyaksikan seseorang yang berkata pada pengemis “nanti saja setelah kaya, kau kuberi uang satu juta”.

Padahal tidak perlu menunggu kaya untuk memberi. Tidak perlu menunggu sukses untuk pulang kampung. Biarkan mereka mencicipi proses kesuksesan anda, bukan hanya mencicipi hasil kesuksesan anda, biarkan mereka melihat progress kesuksesan anda. Dan andapun tahu meminum kopi itu sedikit demi sedikit, bukan dihabiskan dalam satu nafas.


Motivasi yang Menghidupkan
Sofhian Fazrin

Penulis sedang menempuh magister teknologi informasi di Universitas Gadjah Mada dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di STKIP Muhammadiyah Kuningan. Beredar di dunia maya dengan akun twitter @sofhianfn.

Komentar
Memuat...