Mudik dan Urbanisasi dalam Fenomena Ekonomi Negara

0 38

Mudik dan Urbanisasi dalam Fenomena Ekonomi Negara. Baguskah suatu negara jika warga masyarakatnya banyak melakukan urbanisasi? Pantaskah jika suatu negara, selalu menyaksikan atraksi tahunan dalam duyunan kendaraan yang sulit dihitung? Haruskah kita mempertahankan suatu tradisi di mana setiap tahun, minimal dua bulan sebelum datangnya lebaran, negara segera mempersiapkan segala kepentingan untuk keperluan mereka yang mudik tahunan?

Adakah contoh negara lain, yang memiliki tradisi mudik seperti apa yang diperagakan masyarakat Indonesia? Haruskah suatu kota di sebuah negara mengalami massa keheningan yang hampir lumpuh karena ditinggal penduduknya untuk mengikuti rutinitas tahunan?

Inilah pertanyaan yang jawabannya tidak selesai dalam jumlah hitungan jari rim kertas. Tetapi, inilah masalah sosial, masalah politik dan masalah ekonomi khas Indonesia.

Urbanisasi dan Persoalan Politik Ekonomi Indonesia

Ketika dulu mengikuti pendidikan di sekolah dasar, urbanisasi adalah persoalan sosial ekonomi yang buruk. Urbanisasi telah menjadi lambang di mana pemerataan ekonomi negara tidak terjadi. Urbanisasi menjadi makna di mana Desa dianggap tidak lagi strategis untuk mengembangkan karier dan ekonomi umat.

Sawah dengan hasil biji padi tidak lagi dianggap bermakna. Perkebunan mulai dari pisang, jagung, buah-buahan, tembakau dan tebu tidak lagi dianggap sebagai sektor ekonomi umat. Masyarakat malah banyak pergi ke kota-kota Besar. Mereka datang ke kota-kota dimaksud, meski hanya mengambil profesi sebagai Pembantu Rumah atau tukang kebun di sebuah perumahan mewah seseorang.

Dengan nalar seperti ini, semakin tinggi dan semakin banyak tingkat urbanisasi yang datang ke kota-kota besar, berarti desa belum diurus dengan baik. Desa belum menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan.

[ARTIKEL TERKAIT : Kita Layak Berdo’a Untuk Para Pemudik ]

Kondisi ini tentu sangat kontras dengan negara-negara yang sudah maju. Misalnya, suatu hari saya pernah berada di Eropa tepatnya di Ibu Kota Suitzerland, Hari itu persis dalam pergantian tahun Masehi. Suatu hari di mana hari itu dianggap sakral oleh mereka yang menganut ajaran agama Kristen.

Saya semula membayangkan bagaimana pesta pergantian tahun dihelat atau digelar di lingkungan mereka. Saya dengan penuh antusias hendak menyaksikan bagaimana detik per detik pergantian itu terjadi. Di sana ternyata, buka saja iring-iringan mobil tidak terlihat, bahkan hanya sekedar menyalakan  menyalakan lampu pijar atau terompet, tidak terdengar. Mereka kebanyakan justru berada di rumah-rumah mereka sambil menyalakan lilin. Hal ini tentu sangat kontras dengan apa yang terjadi di negara kita Indonesia.

Dari sini pula saya menyimpulkan, bahwa ternyata kultur sosial, ekonomi yang dipengaruhi oleh kebijakan politik negara Indonesia belum menyentuh aspek substantif dari negara ideal. [Prof. Dr. H. Cecep Sumarna]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.