Inspirasi Tanpa Batas

Muhasabah Kabupaten Tasikmalaya

Muhasabah Kabupaten Tasikmalaya
0 21

Muhasabah Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya perlu segera melakukan muhasabah. Mengapa? Sebab banyak Negara yang dipimpin tokoh-tokoh Muslim tentu dengan basis partai politik Islam, justru berhasil mengembangkan negaranya bukan hanya sebagai pusat kajian keilmuan dunia, tetapi, pusat budaya karena mereka berhasil memakmurkan negerinya. Sebut salah satunya Turky dan Iran. Mereka tampil dengan Partai Politik Islam, dalam kedigjayaannya sendiri dan memupus secara perlahan asumsi publik non Muslim atau mereka yang benci terhadap Islam yang menyatakan bahwa Islam pasti harus terbelakang.

Partai Politik Islam di Kabupaten Tasikmalaya

Di Kabupaten Tasikmalaya, empat periode setelah reformasi bergulir, setiap pemilihan Bupati, selalu dimenangkan Partai Politik Islam, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Secara historis, akar Partai ini sebenarnya sudah ada, sejak Indonesia merdeka. Partai ini sejajar dengan PDIP karena ia menjadi partai politik tertua dalam kontelasi politik nasional.

Inilah partai yang ditampilkan sebagai basis pejuang Islam struktural politik melalui fusi beberapa partai ke dalam Majelis Syura Muslim Indonesia (Masyumi) di masa Orde lama. Namun karena partai ini dibubarkan rezim ini dan kemudian dihalangi kemunculannya lagi di rezim Orde Baru, maka, partai ini kemudian menjadi rumah bersama para intelektual Muslim untuk berjuang menegakkan prinsip dasar Negara yang mampu mengkonstruk Negara yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Dalam istilah lain, konsep ini semakna dengan gemah rifah loh jinawi yang diridla’i Allah swt.

Reformasi yang muncul sejak tahun 1998, seharusnya membawa angin segar akan uji dan telenta kepemimpinan yang membawa kemakmuran rakyat. Reformasi juga seharusnya mampu menunjukkan bahwa masyarakat Muslim –yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia—seharusnya mampu menampilkan gaya kepemimpinan ala masyarakat Muslim yang bukan hanya tertib secara administrative, tetapi, juga amanah dan cerdas dalam membangun dan mensejahterakan rakyat. Ia harus mampu berbeda dengan parta lain dalam konstelasi politik nasional, khususnya dalam pembelaannya terhadap rakyat kecil. Mengapa? Karena partai ini lahir dari rahiem rakyat sekaligus cita-cita rakyat. Fakta di lapangan ternyata berbeda dan hal ini sulit terjadi.

Tasikmalaya: Kabupaten Religius

Kembali ke persoalan Kabupaten Tasikmalaya, yang sudah empat kali dipimpin kaum religious, seharusnya ia dapat menampilkan model dan gaya kepemimpinan baru yang jauh lebih Islami dengan mengedepankan prinsip dasar pathonah, amanah, tablig dan shidiq seperti biasa rasulullah Muhammad melaksanakannya. Pembangunan harus dilakukan dalam konteks sifat ini. Ia menjadi pewaris para nabi yang melaksanakan setiap program pembangunan atas dasar kejujuran dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Karena itu, hasil yang diperoleh semestinya mampu menampilkan gaya yang lebih progresif dan menunjukkan jati diri kemusliman yang selalu trend setter dalam segala tindakan. Jadi agak aneh saja, jika visi-missi yang dibawa berada dalam mainstream Muslim, tetapi, karakter yang dibangun secara empiric masih memiliki jarak signifikan dengan apa yang disebut dengan kemusliman itu sendiri.

Kabupaten Tasikmalaya Perlu Belajar

Tulisan ini sengaja disusun bukan dalam konteks bagaimana situasi di daerah ricuh, hanya, penting mengingatkan bahwa Tasikmalaya adalah wilayah religious. Karena ia menampilkan diri sebagai wilayah religious, maka, seharusnya, pembelaan itu lebih ril membantu rakyat kecil. Di sisi ini, tidak salah jika beberapa tokoh penting di Kabupaten Tasikmalaya, belajar ke daerah lain, bagaimana mereka membangun daerahnya.

Sejalan dengan pikiran di atas, jika para pemangku kebijakan di Tasikmalaya mau belajar tentang bagaimana sebuah daerah harus dibangun, sebenarnya akan memperoleh resonansi khusus dengan kebijakan pemerintahan Jokowi yang membawa angin baru dalam konteks pembangunan daerah, khususnya daerah pedesaan.

Kebijakan penting pemerintahan Jokowi itu, khususnya terkait dengan pembangunan desa.  Apa yang harus dibangun di desa? Ya … segala hal yang dibutuhkan masyarakat desa. Misalnya, inpra struktur berupa jalan, irigasi, pasar-pasar tradisional dan fasilitas perbankan untuk kepentingan usaha mikro. Pembangunan titik tolaknya memang sebaiknya bergerak dari pedesaan.

Hal ini bukan saja karena desa menjadi tempat di mana populasi penduduk terbanyak berada didalamnya, tetapi, juga karena berbagai produksi yang dibutuhkan hajat hidup manusia; kota atau yang lain, berada di desa. Jika desa berhasil dibangun, maka, bukan saja tingkat urbanisasi akan tertekan, tetapi juga pendapatan masyarakat akan meningkat, keamanan akan lebih terjamin dan ketertiban soal akan lebih aman. Al hasil pembangunan menjadi merata dan kesempatan untuk berusaha terbuka lebar dalam berbagai segmen hidup.

Untuk dan karena kepentingan seperti ini, tidak haram jika jalan-jalan berhotmix itu masuk bukan saja ke jalan utama desa, tetapi, bila perlu masuk ke tengah-tengah sawah dan perkebunan masyarakat. Di Tasikmalaya, soal ini, sekali lagi harus kami katakan masih jauh dari harapan. Kami malah bertemu dengan jalan raya utamapun, di tengah jalan ditanami pohon pisang.

Melihat Kabupaten Tetangga

Dalam soal ini, masyarakat Kabupaten Tasikmalaya mestinya belajar bagaimana misalnya Majalengka, Kuningan atau bahkan Kabupaten Cirebon –di sebelah Utara Jawa Barat—atau bahkan mungkin ke Kabupaten Pangandaran di Selatan Jawa Barat. Mereka telah ke luar dari krisis eksistensial kepentingan masyarakatnya. Mereka berhasil membangun jalan raya, irigasi pertanian, membuat jalan-jalan baru berhotmix, dan terus menerus mempertahankan jalan-jalan tetap baik sampai ke tingkat desa dan RT.

Jika hal ini mampu dilakukan, maka, bahan-bahan produksi bukan saja gampang masuk, tetapi, sekaligus memudahkan para petani, tukang kebun dan pedagang-pedagang lokal bisa masuk ke dalamnya. Akhirnya distribusi menjadi mudah dan lancar. Hal ini sebenarnya sesuai dengan sabda Nabi yang mengisyaratkan bahwa kemiskinan itu terjadi lebih karena faktor distribusi tidak berjalan baik. Dan agar distribusi ini berjalan baik, maka, bangunlah masyarakatnya. Membangun desa adalah perintah agama dan itu mengisyaratkan bahwa kita sedang belajar dan berusaha melakukan distribusi. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...