MUI Mengeluarkan Fatwa Kontroversial, “Larang Natal” Bagi Umat Islam

0 28

Ma’ruf Amin. Nama yang pendek, sependek singkatan Organisasi Massa Islam (MUI) yang dipimpinnya. Pendek nama dirinya dan organisasi yang dipimpinnya, ternyata tidak sependek gagasan yang dilahirkan tentu dengan dampak yang demikian besar, terhadap tatanan agama, social, budaya dan politik kebangsaan Indonesia dalam akhir tahun 2016 ini.

Nalar MUI tentang Perayaan Natal

Setelah beberapa bulan lalu, MUI mengeluarkan fatwa penistaan agama kepada Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. –tentu ditandatangan dirinya–, belakangan ia kembali mengeluarkan fatwa yang cukup mencengangkan juga, yakni larangan Perayaan Natal bagi masyarakat Muslim Indonesia. Fatwa yang cukup mengagetkan dan memiliki dampak luas terhadap mereka yang pro maupun kontra kepada dirinya.

Dalam nalar fatwa MUI ini, meskipun tujuan perayaan Natal dimaksudkan untuk menghormati kelahiran Nabi Isa as. Akan tetapi, Natal tidak dapat dipisahkan dari soal-soal akidah keagamaan masing-masing pemeluk agama. Karena itu, mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. Fatwa ini, dikeluarkan –sebagaimana dapat dibaca dalam fatwa dimaksud–agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT. Umat Islam, dalam fatwa dimaksud, tidak dianjurkan untuk mengikuti kegiatan natal di dalam gereja.

Larangan Nash Mengikuti Natal

Dalam penjelasan lebih lanjut, Islam mengajarkan ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan larangan Allah SWT. Hal ini didasarkan atas keterangan ayat-ayat al Qur’an –sebagaimana dimaksud dalam fatwa dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Al Qur’an Surat al Hujarat [49]: 13 yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
  2. Al Qur’an Surat [31]: 15 yang artinya: “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang ini, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada Ku-lah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepada-mu apa yang telah kamu kerjakan”.
  3. Al Qur’an Surat surat Mumtahanah [60]: 8 yang artinya: “Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Larangan Mencampuradukan Agama

  1. Al Qur’an Surat Al – Kafirun [109]: 1 – 6 yang artinya: “Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, dan; Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.
  2. Al Qur’an Surat Al – Baqarah [2]: 42 yang artinya: “”Janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahuinya”.
  3. Al Qur’an Surat Maryam [19]: 30 – 32: yang artinya: “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberikan Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibuku (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
  4. Al Qur’an Surat Al – Baqarah [2]: 285 yang artinya: “Rasul (Muhammad) telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya dan mereka mengatakan: Kami mendengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.

Tuhan lebih dari Satu itu Musyrik

  1. Al Qur’an Surat Al – Maidah [5]: 72 – 73 yang artinya: “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah Almasih putera Maryam. Pada hal Almasih sendiri berkata: Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya sorga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zalim itu seorang penolong pun”. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), pada hal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih”.
  2. Al Qur’an Surat At – Taubah [9]: 30 yang artinya: “Orang-orang Yahudi berkata” Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Almasih itu anak Allah. Demikian itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling”.

Pertanyaan Allah kepada Isa

  1. Al Qur’an Surat Al – Maidah [5]: 116 – 118 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah? Isa menjawab: Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu: Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku. Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engka mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
  2. Al Qur’an Surat Al – Ikhlas [112]: 1 – 5 yang artinya: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak seorang pun/sesuatu pun yang setara dengan Dia”.

Natal dilarang Bagi Umat Islam

Didasari atas nash dimaksud dan semangat untuk menjaga akidah umat, maka kaidah ushul fiqihnya adalah: “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan mushalihnya tidak dihasilkan)”. Dengan nalar inilah, MUI mengeluarkan fatwa Perayaan Natal dilarang untuk umat Islam. Lyceum.id

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.