My Endless Love | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 5

My Endless Love | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 5
0 164

Edisi My Endless Love: Alberta terhenyak. Terkuak sudah jiwa dan bathin Santi yang lama ingin diketahuinya. Alberta bangga. Akhirnya, kekhawatirannya selama ini terjawab. Santi tidak melupakan dirinya, meski ia hanyut dalam cita-citanya untuk kembali hidup dalam keinginannya yang normal. Ia yang sebelumnya terus menerus melamun dan memikirkan Santi, merasa sedikit lega. Alberta yang sebelumnya merasa bersalah mengapa ia menulis suatu ungkapan bathin dalam kertas yang dia tulis lalu menyimpannya dalam File di Mihrab Cinta mereka, kini telah terjawab.

Alberta Mengenang

Alberta terus duduk bersila. Mengenang Santi saat memeluknya. Pelukan itu selalu Santi lakukan dari belakang tubuhnya. Banyak moment di mana pelukan itu dilakukan Santi kepadanya. Ia ingat saat berdiri di taman Kota, Santi datang dan memeluknya dengan erat.

Dalam pelukan itu, Santi berkata: “Alberta, jujur aku sangat mencintai kamu. Kata tidak mungkin mewakili seluruh nafas dan jiwa yang dilumuri cinta ini. Kalimah sakti tak mungkin mewakili akan apa yang terdapat dalam bathinku. Kata yang berfungsi mengungkapkan perasaan cintaku kepadamu, ternyata tak mewakili rasaku. Kau sosok yang manis dan indah ditatap. Kau tampak bijak dan memiliki akar kuat untuk disebut sebagai laki-laki agung. Keagungan yang layak dipuja siapapun, terlebih tentu aku”

Saat Alberta membaca kalimat dimaksud, ia terperanjat dan bangga. Suasana bahagia membuat dirinya membahana. Inilah suasana kegembiraan yang tumbuh saat itu secara mendadak. Ia berguman, Santi, mulianya engkau. Aku makin bangga sama kami.

Alberta senyum sendiri. Saat itu, ia merasa sedang berada dalam suasana masa lalu yang penuh kebahagiaan bersama Santi. Hanya Diana dan beberapa junior-juniornya yang menyaksikan polahnya. Mereka memperhatikan dinamika seniornya bernama Alberta itu. Tetapi, Alberta tetap tak peduli. Ia terus melamun memikirkan masa-masa bahagianya bersama Santi.

“Dalam lamunan itu, Alberta berkata: “Saat itu, aku, kata Alberta, berpaling ke belakang. Berpadulah dadaku dengan dadanya. Terasa bagaimana degup jantung Santi menyatu dengan degup jantung dirinya. Tinggi tubuh mereka yang sejajar, telah membuat mereka leluasa memadukan wajah cantik, anggun dan mempesona itu, menyatu dalam detak nafas yang sama. Lalu, aku bathin Alberta berkata, memeluknya dengan erat. Membelai rambutnya yang terurai angin landai yang menyibak tubuhnya. Warna rambut yang ke kuning-kuningan, tak mampu kulupakan. Aku mencumbunya dengan hangat. Rambut kekuning-kuningan sebagai hasil semiran dan rebonding karena sebelumnya agak ikal itu, telah menambah keindahan sosok wanita yang layak dipuja siapapun. Tentu aku didalamnya yang tak pernah lupa untuk melihatnya saat bertemu. Ia seperti magnet raksasa yang menyedot apapun yang ada di sekitar dirinya”

Alberta terus menerus mengkhayal, bagaimana pada akhirnya iapun mencumbunya dengan hangat dan terus memeluknya. Mereka tampil seperti pasangan abadi yang tak mungkin tergantikan. Seonggok pasangan muda yang saling mencintai. Cinta dengan segenap ketulusan yang dibatasi tembok raksasa yang sulit disatukan.

Menyesalkan Takdir

Dalam lamunan itu, ia juga ingat bagaimana mereka harus tetap berlari mencari suasana sepi. Kadang mereka bertemu di tengah sawah, di ladang, di gunung dan di pinggir lautan. Kini dan mungkin untuk selamanya, Santi telah dimiliki laki-laki lain. Ia mempertanyakan, mengapa takdir tidak berpihak kepada dirinya. Tentu mengapa ia tidak dapat bersatu dengan Santi.

Kebiasaan mereka yang suka menyanyi bersama di tempat yang sangat jauh dari hingar bingar manusia. Menyanyi di tempat yang jauh dari rumah mereka. Mereka, biasanya menyanyikan lagu-lagu indah dan penuh kenangan. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang sudah belasan kali diaransemen para musisi kelas dunia. Mereka senang berduet bersama, mendapatkan tepuk tangan dari para penonton dan kadang ikut syahdu akan liukan suara yang dibawa Alberta dan Santi. Terlebih ketika Alberta menyanyikan My Endless Love yang pernah dinyanyikan Mariah Carry.

Tetapi, kini kau milik siapa Santi. Kau memang sering mengatakan bahwa ragaku di mana dan jiwaku di mana. Hampir aku sulit menyatukan jiwa dan ragaku dalam waktu yang sama. Jiwaku hanya diisi dengan jiwamu Alberta. Percayalah … kaulah sosok yang menjadi impianku. Apapun yang kau minta, di manapun dan kapanpun dan dalam bentuk apapun, aku sanggup memberikannya untukmu.Termasuk jika kau membutuhkan sesuatu yang sangat prinsip dalam hidup atau bahkan sangat terlarang dalam agama yang kita anut.

Aku akan Setia Menantimu

Masih dalam saat-saat indah itu, Alberta memeluknya dengan hangat dan penuh ghairah asmara. Betapa ia sangat bahagia. Namun tiba-tiba, Alberta tersadarkan dan kemudian berkata: Cinta adalah suci dan pemiliknya adalah mereka yang juga suci. Cinta mengabdi kepada kesucian dan tak mungkin kita harus mengotori sesuatu yang suci. Itulah ungkapanmu Santi. Aku mengingatnya dengan baik ungkapanmu itu. Ungkapan itu telah kau lontarkan beberapa tahun yang lalu. Kau harus tahu ya .. setiap kata bahkan setiap hurup yang kau katakan, pasti aku menginganya. Mengapa? Karena setiap kata yang kau ungkapkan selalu kusimpan dalam hati. Bukan dalam memori otak-ku.

Santi … Aku mencintai kamu karena nalar cintaku harus mengatakannya. Sejujurnya, kau juga adalah impian dan cita-citaku. Biarlah waktu yang mengurus secara natural akan kehendak cinta ini. Aku akan tetap menanti kamu sampai kapanpun.

Santi, percayalah aku akan tetap menantimu pun jika ternyata, kau baru aku miliki setelah kau beruban dan sudah disebut sebagai seorang nenek untuk sejumlah cucu yang kelak kau miliki. Saat itu, kamu akan tetap mendapati aku sebagai sosok yang tetap tulus mencinta kamu. Jika-pun ternyata, di bumi ini, kita tak pernah menabur benih cinta tulus yang kita miliki, yakinlah, bahwa kelak di akhirat, kau akan tetap bernyanyi bersamaku di Syurga. Kau-lah satu-satunya permaisuriku di Syurga. Sisanya sebanyak enam, biarlah diberikan Tuhan dan aku tidak memilihnya di dunia ini.

Sambil terisak, Santi memegang bahu Alberta yang tidak terlalu bidang. Alberta, hanya kaulah yang menggairahkan aku. Karena kau-lah aku merasa bahwa aku harus bergerak menuju sebuah keagungan cinta. Didekapnya tubuh Santi, lalu dia menuntunnya untuk pulang. Ia mengecup kening Santi berulang-ulang. Alberta berkata … Damailah Santi.

Alberta lalu diajak pulang oleh Diana dan kawan-kawan. Ia ketawa sendiri dan mengatakan … kau mengganggu dan membangunkan aku dalam impian indahku. Eiit … sorry ka. Aku tak tahu dan tak sengaja. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...