Nadran di Laut Utara: Pertemuan Budug Basu dan Dewi Sri

0 183

 

PERTENGAHAN Oktober 2016 (sabtu siang), berbarengan dengan berakhirnya musim kemarau, laut utara mulai menunjukkan ketenangannya. Pada musim peralihan itu, penduduk setempat biasa menyebutnya dengan istilah “mapag rendeng”. Musim peralihan dari kemarau ke hujan lembab. Laut saat itu memang lebih menunjukkan sikapnya yang bersahabat. Jutaan ikan bermacam jenis menepi ke bibir laut. Sebuah surga bagi para nelayan dan pemancing ikan terbentang tak terhingga dari berbagai sudut.

Berbeda dengan sebulan sebelumnya, angin kencang dari arah timur ke barat pada akhir musim kemarau sering membawa badai kecil yang sesekali menyapu perahu-perahu nelayan yang lalai terhadap prakiraan cuaca. “Musim barat” perangai laut memang luarbiasa perkasa. Seperti terluka ia selalu menunjukkan amarahnya dengan menghabiskan apa saja yang ada di sekitarnya. Angin kencang yang membangun gulungan ombak besar memaksa para pencari ikan untuk sementara harus berteduh di rumah. Masa-masa paceklik dirasakan benar kepahitannya oleh seluruh nelayan kecil yang melaut hanya dengan mengandalkan perahu motor tempel berukuran kecil.

Dipimpin seorang tokoh nelayan, upacara nadran pun merambat menuju puncaknya. Sang gegedug memberikan aba-aba agar segala peralatan perhelatan dimasukkan ke dalam puluhan perahu kecil. Seluruh awak perahu pun menuruti apa yang diperintahkan pimpinannya. Lalu perahu-perahu tiruan pun dalam tempo cepat telah terisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa dan kue-kue. Dengan mengucapkan bismillahhirrahmannirrahiim, pelahan perahu-perahu tiruan itu diluncurkan ke tengah laut.

Byuurrrr……puluhan anak muda bertelanjang dada mendadak menerjunkan dirinya ke laut. Cipratan air membasahkan seluruh badan perahu mini tersebut. Mereka kemudian berebut perahu-perahu berisi sesajen laut. Sebuah pesta tahunan yang meriah. Tak ada kesempatan yang lebih baik ketimbang saat ini.

Seorang pemuda berotot kekar mendapatkan sebuah kepala kerbau setelah berebut mati-matian dengan pemuda-pemuda lainnya. Ia membawanya ke sebuah perahu yang telah disiapkan sebelumnya. Sedangkan mereka yang bertubuh kecil cukup memperoleh sisa dari perebutan itu. Namun lumayan, meski hanya berupa beberapa gelintir kue dan pecahan bunga warna-warni.

Apa itu Nadran.?

NADRAN adalah sebuah ekspresi keindahan. Sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam yang telah memberikan limpahan rejeki di lautan lepas yang tak terhingga jumlahnya. Saat para nelayan kecil mengeluh akan perilaku yang tak adil dari nelayan besar yang mengeruk habis kekayaan laut. Justru para nelayan kecil di jalur itu memilih cara kreatif untuk mengembangbiakkan kerang hijau. Mereka bersyukur, Tuhan melalui alam ciptaanNya masih mau melimpahkan rejeki dalam bentuk lain.

Hampir di tiap perkampungan nelayan di jalur Pantura, upacara tradisional nadran merupakan bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Biasanya mereka berpseta di sekitar halaman Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dari mulai subuh hingga subuh berikutnya. Hanya rasa guyublah yang membuat mereka mau menyelenggarakan pesta tahunan seperti itu. Mereka pantang mengingkari kemurahan alam.  

Sebagai ungkapan rasa syukur, mereka selalu mengingatkan akan pentingnya peranan alam dalam kehidupan manusia. Tanpa tanah dan laut berarti tak ada kehidupan. Cara pengingatan itu mereka lakukan melalui pergeralaran wayang kulit dengan lakon Budug Basu yang digelar siang dan malam. Tak sembarang dalang bisa memainkan lakon ini. Sebab untuk melakonkan kisah tersebut haruslah dari kalangan dalang sepuh yang memiliki banyak pengalaman dalam penyelenggaraan upacara-upacara ritual adat.

Apa itu Budug Busu.?

Dalam kisah yang dituturkan budayawan Made Casta, Budug Basu adalah seorang ksatria sakti yang mencintai Dewi Sri. Namun cinta itu ditolak sang dewi lantaran sang ksatria seluruh tubuhnya dipenuhi koreng-koreng yang berbau busuk yang disebut budug. Sang dewi tak mengetahui, jika ksatria yang mencintainya itu sesungguhnya adalah seorang pemuda yang tampan. Namun karena mendapat kutukan para dewa, ia dijangkiti penyakit koreng pada seluruh tubuhnya.

Budug Basu adalah lambang tanah yang kotor, tetapi dari kekotorannya itu justru banyak memberikan rejeki kepada jutaan orang. Ia adalah seorang ksatria yang bijak, penyabar dan murah hati. Sedangkan Dewi Sri merupakan lambang kemakmuran. Ia disimbolkan dalam bentuk padi yang menjadi makanan pokok masyarakat. Pertemuan Budug Basu dan Dewi Sri dianggap sebagai idiom dari penyatuan antara tanah dan benih. Masyarakat agraris tradisional memang masih begitu kental dengan lambang-lambang alamiah seperti itu, kata H. Made Casta.

Simbol-simbol rupanya masih diperlukan dalam kehidupan mereka. Lewat simbol, setiap orang bisa menafsirkan sesuatu dengan tingkat kearifan yang dimilikinya. Tanah, air, laut dan tumbuhan adalah bentuk kearifan yang harus pula diperlakukan secara arif.*** Nurdin M. NoerPemerhati kebudayaan lokal.

Komentar
Memuat...