Inspirasi Tanpa Batas

Nalar dalam Konsep Shîrat al Mustaqîem

0 2

Konten Sponsor

Nalar dalam Konsep Shîrat al Mustaqîem. Shîrat al Mustaqîem [jalan lurus], sebetulnya megandung makna filosofi yang sangat dalam.  Frase dari kata Shîrat al Mustaqîem, setidaknya terdapat dalam al Qur’an Surat al Fatihah [1]: 6-7 yang artinya:  Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri Nikmat.  Bukan jalan yang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Banyak masyarakat Muslim Indonesia yang yakin kalau Shîrat al Mustaqîem itu di akhirat. Masyarakat Muslim yang menganut teologi Sunni Indonesia ini, banyak yang telah membaca kitab Sulam Munajat karangan Syeikh Imam Nawawi bin Umar al Bantani. Dalam kitab ini disebutkan bahwa Shîrat al Mustaqîem itu adalah jambatan/titian yang membentang di atas neraka Jahanam. Ia sangat licin karena besarnya hanya  sepertujuh dari besaran rambut. Selain kecil, jembatan ini juga diyakini sangat tajam meski ia disebut memiliki kait, cakar dan duri yang kuat.

Dalam kitab dimaksud disebutkan bahwa jembatan ini membentang dari Padang Mahsyar [berkumpulnya semua manusia] sebelum mendapat pengadilan sampai ke pintu Syurga. Di Bawahnya bergolak api yang sangat panas. Mereka yang memiliki dosa akan dijatuhkan ke dalam neraka dimaksud. Tetapi bagi yang mensekutukan Allah sampai matinya, ia akan abadi didalamnya.

[irp posts=”11415″ name=”Konsepsi Dakwah Di Tengah Derasnya Arus Prularisme”]

Manusia-manusia yang beriman, masih dalam kitab dimaksud, akan melintasi jembatan ini, dengan kecepatan sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Manusia pertama yang akan melewati jembatan ini, disebutkan adalah  Nabi Muhammad. Ia berdiri di tepi Shîrat al Mustaqîem seraya berkata: “Ya Allah pemelihara seluruh alam, selamatkan, selamatkanlah umatku!” Penjelasan dalam kitab dimaksud, merujuk kepada salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. Meski para kritikus hadits, meragukan keshahihan hadits ini. Tetapi, ia tetap dipakai guna mendorong manusia agar takut bermaksiat kepada Allah.

Nalar Filsafat tentang Shîrat al Mustaqîem

Nalar filsafat, mungkin agak sedikit berbeda. Meski tidak bermaksud menolak hypotesa kebanyakan umat yang selama ini mapan, tetapi, sejatinya Shîrat al Mustaqîem itu ada dalam konteks dunia. Karena itu, dalam nalar ini, keberadaan Shîrat al Mustaqîem bukan di akhirat atau di alam mahsyar. Tetapi di dunia yang fana’ ini.

Shîrat al Mustaqîem mengajarkan manusia akan pentingnya hidup di dunia dengan segenap keseimbangan yang total. Terlalu menginjak pijakan, bukan saja akan membuat kita tidak mampu, tetapi juga akan mendorong diri kita jatuh. Jika terlalu ke kanan jatuh, maka, apalagi ke kiri. Pilihan hidup itu selalu harus di tengah. Khair al umur awsatuha [sebaik-baik perkara selalu berada di tengah].

Shîrat al Mustaqîem mengajarkan kita bahwa hidup hanya akan benar-benar hidup, jika kita tidak ekstrem atasnya. Bagaimana agar kita hidup dalam ekstremitas. Jika kita mengutif ayat al Qur’an surat al Maidah [5]: 16 di situ dijelaskan bahwa dengan Al Qur’an Allah telah menunjukkan jalan keselamatan serta kesejahteraan bagi yang mengikutinya. Dan (dengannya), Tuhan keluarkan mereka dari gelap-gelita (kufur) kepada cahaya (iman) yang terang-benderang. Dengan izinNya; Tuhan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus” By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar