Nalar Ibnu Sina tentang Jiwa dalam Sosok Intelektual Muslim Part-5

0 62

Dalam teori tentang jiwa, Ibnu Sina tampaknya sama dengan Plato yang dualistik. Ia menyebut jiwa manusia dapat dibagi ke dalam dua irisan yang berbeda satu sama lain. Namun meskipun berbeda, keduanya, menurut Ibnu Sina tidak dapat dipisahkan. Ia persis seperti dua sisi mata uang yang berbeda, namun tidak dapat dipisahkan. Kedua jiwa dalam definisi Ibnu Sina itu adalah jiwa dalam seginya yang Fisik dan Segi lainnya yang Metafisis.

Jiwa Manusia yang Fisika

Jiwa dalam konteks fisika, dalam anggapan Ibnu Sina, akan membicarakan tentang jiwa fisik manusia yang dalam kasus tertentu sebenarnya dimiliki jenis makhluk Tuhan lain seperti jiwa tumbuhan, jiwa binatang dan tentu jiwa manusia. Inilah kajian yang dapat dilakukan ilmuan terhadap jiwa fisik manusia yang secara esensial memiliki prinsip dasar kebaikan melalui kemampuan panca indra tadi.

Di sisi ini, Ibnu Sina membuat suatu rumusan bahwa dalam kasus tertentu, manusia sebenarnya memiliki karakter atau jiwa yang sama dengan tumbuh-tumbuhan (nabatiyah) seperti: Makan (nutrition), tumbuh (growth) dan berkembang biak atau memiliki keturunan (reproduction). Karakter kejiwaan semacam ini, bukan hanya milik manusia, tetapi juga dimiliki makhluk Tuhan seperti tumbuh-tumbuhan. Dalam analisanya, jika manusia hanya tumbuh dalam pengertian ini, maka, sekalipun ia berwujud manusia, tetapi, secara kejiwaan, ia tidak memenuhi persyaratan untuk disebut manusia. Ia malah lebih tepat atau mirip untuk disebuttumbuh-tumbuhan.

Dalam tarap tertentu, manusia juga belum tentu disebut manusia jika jiwanya menyerupai binatang. Jiwa ini dalam analisa Ibnu Sina sering disebut dengan jiwa hayawaniyat. Karakter kejiwaan manusia yang seperti ini akan terlihat dengan ciri sebagai berikut: Bergerak (locomotion), kemampuan menangkap (perception) baik dari dalam panca indra maupun di luar panca indra manusia itu sendiri. Kita tahu bahwa binatang memiliki insting yang sangat kuat bahkan lebih kuat dibandingkan dengan binatang.

Selain itu, ciri kebinatangan juga akan terlihat dari kemampuan dirinya dalam representasi yang menyimpan segala apa yang diterima indera bersama, kemampuan imaginasi yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi, kemampuan estimasi, yakni menangkap sesuatu yang abstrak dan terlepas dari dimensi material sesuatu dan terakhir kemampuan merekoleksi yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh estimasi.

Dalam analisa Ibnu Sina, jika manusia hanya memiliki kemampuan semacam itu, ia juga tidak dapat disebut sebagai manusia. Manusia yang sesungguhnya akan bergerak jauh di atas prinsip dasar yang tadi. Mengapa? Karena manusia bukan tumbuhan dan juga bukan binatang. Lalu bagaimana manusia harus ditempatkan dalam konteks kejiwaan? Inilah penjelasannya.

Jiwa Manusia itu Metafisik

Dalam tuturan Ibnu Sina, manusia hanya diperkenan memiliki jiwa metafisik. Suatu jiwa yang mengkombinasikan jiwa tumbuhan dan jiwa kebinatangan. Jiwa itu kemudian disimplikasinya dengan nama Jiwa metafisika. Jiwa metafisika, selain hanya dua jiwa di atas, ia juga dituntut membicarakan hakikat akan keberadaan sebuah jiwa itu sendiri yang memiliki pertalian dengan badan dan keabadian jiwa itu sendiri. Dalam soal ini, Ibnu Sina secara praktis menyebut jiwa semacam ini, dianggap memiliki hubungan dengan hal-hal yang bersipat teoretik.

Dalam segi ini, jiwa menurut Ibnu Sina, jiwa dibagi ke dalam bentuk: a). Akal materiil, yaitu suatu potensi dasar manusia yang memiliki kegunaan untuk berpikir walau belum dilatih sama sekali; b).  Akal/jiwa yang terlatih atau Intelectual in habits, yaitu  suatu jiwa yang telah dilatih berfikir akan sesuatu yang abstrak sekalipun; c). Akal actual atau jiwa di mana dia yang karena telah dilatih itu, mampu berpikir pada hal-hal yang tidak kongkret, dan d). Akal mustafad, yaitu suatu potensi kejiwaan manusia yang memiliki kesanggupan untuk berpikir pada hal-hal yang abstrak dan potensi itu, tidak lagi diperlukan menggunakan pendekatan atau pelatihan. Kita semua, masuk dalam jiwa yang mana. Anda pilih sendiri. ** Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.