Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Ruh Manusia dalam al Qur’an Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

23 340

Konten Sponsor

Ruh Manusia dalam al Qur’an Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Terdapat banyak ayat dalam al Qur’an yang menerangkan tentang ruh banyak. Ayat-ayat dimaksud tidak sulit untuk didapatkan. Berrdasarkan pengamatan dan pelacakan yang mampu penulis lakukan, setidaknya terdapat 16 ayat al Qur’an yang menerangkan secara khusus tentang konsep ruh.

Sejauh yang mampu penulis kaji, masing masing ayat dimaksud juga ternyata memiliki variasi kontek yang sangat berbeda dalam pemahaman terhadapkata ruh dimaksud. Untuk itu, dibagian ini penulis mencoba menerangkan 16 ayat tersebut dan penafsirannya yang dilakukan para mufasir al Qur’an. Ayat-ayat dimaksud adalah sebagai berikut:

Q.S Al Hijr ayat 29

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kep[adanya dengan bersujud.”

Ibn Kasir (Jilid IV: 517-518) berpendapat bahwa ayat ini menggambarkan tentang perintah Tuhan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam. Perintah dimaksud, tentu setelah penciptaan Adam disempurnakan Tuhan. Proses penyempurnaan penciptaan Adam ini adalah ketika Adam selesai dibentuk dalam wujud fisiknya, kemudian Tuhan meniupkan ruhNya.

Atas perintahnya ini, Malaikat semuanya bersujud kecuali syeitan. Syeitan menganggap bahwa diirinya adalah wujud yang paling sempurna dan paling mulia karena ia diciptakan dari api. Sementara itu, manusia tercipta dari tanah.

Q.S As Sajdah: 9

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” Ayat ini memiliki relevansi dengan ayat lain, yakni Q.S Shad: 72 yang artinya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Q.S Al Mujadalah: 22

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Ibn Kasir mengartikan kata biruhim minhu pada ayat diatas sebagai jiwa yang berasal dari Tuhan. Menurut Ibn Kasir (Juz VIII: 72) ayat ini turun berkaitan dengan sikap orang orang musyrik yang selalu menentang dan menolak ajaran Allah dan Rasulullah. keimanan dan kekufuran adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah dengan jiwa dan ruh Tuhan. Orang-orang itulah yang akan dimasukan kedalam syurga yang didalamnya mengalir sungai-sungai dan kekal di dalamnya.

Karena manusia berasal dari dua karakter yng berbeda, maka secara potensial, manusia juga memiliki dua potensi yang juga ganda dan diametral (kebaikan vs kejahatan). Namun demikian, perlu dicatatkan bahwa kebaikan manusia adalah ciri dasar, yang dalam leksikon teologis sering disebut fitrah.

Karena itu, tidak salah juga jika kalangan teosofi muslim menyebut pendidikan sebagai milik manusia karena hanya memang manuia satu-satunya jenis mahluk Tuhan yang dapat dididik. Dengan kata lain, pendidikan berfungsi untuk mempertahankan fungsi kefitrahan manusia.

Dan cita-cita itu, jika dikaitkan dengan diundangkannya UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, telah memiliki relevansinya yang sangat penting untuk menjadikan manusia sebagai pusat kajian dalam pelaksanaan pendidikan. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. Dahlia berkata

    Dahlia
    Assalammu’alaikum…..
    manusia terdiri dari jasad dan ruh. Namun kenyataannya manusia lebih memperhatikan kebutuhan jasadnya .misalkan seseorang sakit gigi, maka di periksakannyalah giginya ke dokter. sedangkan seseorang yang masih bernafas dan bergerak maka orang tersebut masih ada ruh nya. kata nafas dan ruh dalam bahasa indonesia diterjemahkan sebagai nyawa, dalam surat (Al-Qadr 1-5) yang artinya “sesungguhnya kami telah menurunkanya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turunlah para malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Allah.

  2. Suyana berkata

    asalamua’alaikum
    Ruh adalah sesuatu yang mutlak jadi milik manusia sebagai anugrah yang di berikan kepada manusia sejak nabi adam di ciptakan allah meniupkan ruh kepadanya lalu hiduplah adam sesuai dengan firman allah dalam suratQ.S Al Hijr ayat 29 yang artinya

    “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kep[adanya dengan bersujud.”
    adapun sekarang ruh yang di tiupkan allah sejak kita dalam kandungan ibu kita saat berumur 4 bulan yang menentukan nasib kita di dunia yang di antaranya kelahiran dan kematian kita sudah allah tentukan kemudian sekarang kita yang sudah terlahir harus tetap belajar supaya tetap menjadi manusia yang ber akhlakul karimah karena sesuai fitrah manusia sejak lahir terlahir adalah baik maka kita harus menjadi manusia yang baik dan yang menentukan kita jadi kurang baik adalah kitanya sendiri yang terpengaruh oleh beberapa lingkungan atau suasana yang negatif

  3. akhmadafifudin berkata

    Assalamualaikum.
    Dalam tulisan bapak sangat manarik dan sangat bagus, membuat pembaca lebih memiliki wawasan yang banyak. banyak orang yang berfikiran tentang pertanyaan yang kritis salah satunya ” allah menciptakan antara roh dengan badan atau jasad duluan mana ? “. Allah berfirmaan dlam alqura’an ” dan mreka bertanya kepadamu (muhammad) tentang ruh, katakanlah ‘ruh itu termasuk urusanku. Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit “(al isra:85) .
    Dengan dasar qur’an diatas, perlu sekiranya manusia tidak memikirkan untuk apa manusia diciptakan dll, ada dua pendapat yang berkembang dikalangan manusia tentang masalah pertanyaan diatas, sperti dikisahkan syaikhul islam dan lain lainya. Diantara orang yang mngatakan lebih dahulu penciptaan roh ialah muhammad bin nashr al marwazi dan abu muhammad bin hazm. Orang orang yang berpendapat dalam bahwa roh lebih dahulu diciptakan dari pada badan, berhujah dengan firman allah : ” sesungguhnya kami telah menciptakan kalian,
    Lalu kmi bentuk tubuh kaliab, kemudian kami katakan kepada para malaikat, ‘bersujud lah kalian kepada adam, maka mereka pun bersujud”(al a’raf:11).
    Dasar alqur’an diatas memang kalau dilihat atau dipandang dengan segi ilmu keagamaan, Akan tetapi dasar diatas jika dilihat dari ilmu kesehatan atau ilmu kedekoteran bahwasanya antara jiwa dan roh ciptakan duluan badan, hal ini terlihat ketika perkembangan janin ketika berumur 4 bulan dan allah telah meniupkan ruh. Dalam kaitanya dengan pendidikan bahwasanya pendidikan merupakan suatu proses kedewasaan seseorang.
    Terima kasib

  4. akhmadafifudin berkata

    Assalamualaikum.
    Dalam tulisan bapak sangat manarik dan sangat bagus, membuat pembaca lebih memiliki wawasan yang banyak. banyak orang yang berfikiran tentang pertanyaan yang kritis salah satunya ” allah menciptakan antara roh dengan badan atau jasad duluan mana ? “. Allah berfirmaan dlam alqura’an ” dan mreka bertanya kepadamu (muhammad) tentang ruh, katakanlah ‘ruh itu termasuk urusanku. Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit “(al isra:85) .
    Dengan dasar qur’an diatas, perlu sekiranya manusia tidak memikirkan untuk apa manusia diciptakan dll, ada dua pendapat yang berkembang dikalangan manusia tentang masalah pertanyaan diatas, sperti dikisahkan syaikhul islam dan lain lainya. Diantara orang yang mngatakan lebih dahulu penciptaan roh ialah muhammad bin nashr al marwazi dan abu muhammad bin hazm. Orang orang yang berpendapat dalam bahwa roh lebih dahulu diciptakan dari pada badan, berhujah dengan firman allah : ” sesungguhnya kami telah menciptakan kalian,
    Lalu kmi bentuk tubuh kalian, kemudian kami katakan kepada para malaikat, ‘bersujud lah kalian kepada adam, maka mereka pun bersujud”(al a’raf:11).
    Dasar alqur’an diatas memang kalau dilihat atau dipandang dengan segi ilmu keagamaan, Akan tetapi dasar diatas jika dilihat dari ilmu kesehatan atau ilmu kedekoteran bahwasanya antara jiwa dan roh ciptakan duluan badan, hal ini terlihat ketika perkembangan janin ketika berumur 4 bulan dan allah telah meniupkan ruh. Dalam kaitanya dengan pendidikan bahwasanya pendidikan merupakan suatu proses kedewasaan seseorang.
    Terima kasib

  5. Evi selviyana puspitasari berkata

    Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa dan ruh dimana antara keduanya itu saling berkaitan, jiwa dan ruh pun sangat penting menerima pendidikan baik agama yang berpacu atau berpedoman paa alqur’an dan alhadits dan juga pendidikan umum yang beredokan pada ilmu2 sosial dan lainnya.

  6. M.fatkhurizqo berkata

    Assalamualaikum.
    Jadi manusia itu harus memiliki pendidikan yang berbasis agama karena di zaman sekarang banyak org pintar tapi kurang ahlaknya akhirya korupsi maka manusia itu harus berpedoman di al qur’an karena tidak manusia mempunyai jiwa yang sempurna sebagai petunjuk,

  7. Musfiq amrullah berkata

    Assalumalaikum
    Setelah saya membaca tulisan dari bapak saya dapat mengetahui beberapa ayat Al -qur’an seperti Qur’an. Ayat-ayat dimaksud adalah sebagai berikut:

    Q.S Al Hijr ayat 29

    “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kep[adanya dengan bersujud.”
    Dan ditafsirkan

    Ibn Kasir (Jilid IV: 517-518) berpendapat bahwa ayat ini menggambarkan tentang perintah Tuhan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam. Perintah dimaksud, tentu setelah penciptaan Adam disempurnakan Tuhan. Proses penyempurnaan penciptaan Adam ini adalah ketika Adam selesai dibentuk dalam wujud fisiknya, kemudian Tuhan meniupkan ruhNya.
    Kemudian dari ayat di atas dan tafsir ayat di atas ketika Allah swt meniupkan ruh berarti dalam hal ini ruh dapat diyakini sebagai zat yang menjadikan seseorang masih tetap hidup

  8. Rismawati berkata

    Bismilah..
    Menurut syekh Abdul Qadir Al Jailani Allah SWT pertama kali menjadikan cahaya atau nur yang disebut Nur Muhammad SAW, dari sifat jamalnya (keindahanNya). Rasulullah bersabda: bahwa yang mula” diciptakan oleh Allah adalah ruh Muhammad, ia diciptakan dari cahaya ketuhanan, dan selanjutnya diciptakan pertama kali adalah Qalam (pena) dan akal.
    Ruh adalah unsur non-materi yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan. Dan pada persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana di sebutkan dalam (QS. Al A’raf:172).
    Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia dianggap sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan ajaran yang lurus.

  9. uun unesih berkata

    bismillah..
    sesuai dengan tema yakni tentang ruh manusia dalam al-qur’an bahwasanya banyak sekali ayat ayat yang menerangkan tentang ruh manusia dalam al-qur’an terutama dalam bacaan ini. seperti ayat al- qur’an yang telah dijelaskan dalam Q.S As- sajdah: 9 bahwasanya Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” Ayat ini memiliki relevansi dengan ayat lain, yakni Q.S Shad: 72 yang artinya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”
    ayat ini mengatakan bahwasanya setelah diciptakannya ruh manusia. intinya manusia makhluk paling sempurna dan manusia harus tunduk kepada manusia serta manusia juga harus selalu bersyukur atas nikmat allah yang telah diberikan.
    membicarakan tentang pendidikan, pendidikan memang sangat penting, karena manusia hidup di dunia harus di didik dan pendidik. dengan adanya pendidikan, seperti yang diungkapkan oleh daoed joesoef yakni pendidikan merupakan segala bidang penghidupan dalam memilih dan membina hidup yang baik yang sesuai dengan martabat manusia. dalam hal ini bahwasanya pendidikan sangat penting bagi kehidupan kita dan pendidikan yakni hal yang tidak lepas dari kehidupan. terima kasih

  10. Reza Fawziyyah berkata

    Dalam bahasa arab ruh berasal dari al-qur’an yang bermakna pancaran zat kehidupan yang menggerakkan suatu makhluk ciptaan-Nya menjadi hidup, yang berasal dari zat kemana hidup-Nya. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan kata “ROH” yang berarti “NYAWA”. Al-qur’an sudah banyak menjelaskan Q.S Shad ayat 71-72 “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah, maka apabila telah ku sempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepada-Nya roh (ciptaan) ku. Maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya”.
    Ayat tersebut sudah jelas menjelaskan bagaimana Allah SWT menciptakan makhluk nya dengan sepenuh hati, maka kita sebagai makhluk Allah harus selalu bersyukur tentang apa yang sudah diberikan oleh Allah.

  11. Nur iqrima Diniyatin Hidayah berkata

    Bismillah….
    Aristoteles (384-322 SM) berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari 3 dimensi yaitu tubuh, jiwa dan ruh. Yang mana tubuh dan jiwa akan hidup jika adanya ruh. Dan ruh akan ada jika tubuh dab jiwa memerlukannya. “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” nah, disini sangat di jelaskan bahwa Allah telah meniupkan ruh kedalam tubuh manusia. Bahwa ruh manusia di ciptakan untuk bersyukur dan sebagai manusia terdidik. Manusia adalah manusia yang tinggi derajatnya daripada, yang makhkuknya. Kenapa? Karena manusia di ciptkakan dengan sangat mulia. Manusia juga membutuhkan yang namamnya pendidikan, pendidikan adalah suatu kebutuhan manusia. Yang mana, Dengan adanya pendidikan dalam jiwa manusia, manusia tersebut akan menjaga ruhnya dan menjaga manusia dalam keadaan fitrahnya. Maka dari itu, dengan adanya pendidikan yang akan mengisi akal manusia supaya dapat berfikir kreatif dan tetap menjaga nya manusia dalam kefitrahannya.

    1. Lisna_Fitrianti berkata

      Saya sependapat dengan Iqrima,
      Bahwasanya manusia yang telah dikaruniai ruh oleh Allah Subhannahuwata’ala untuk tetap dijaga kefitrahannya dengan pendidikan.
      Karena dengan pendidikan manusia bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel diatas, bahwa manusia terdiri dari dua karakter yang brlawanan (kebaikan vs kejahatan). Oleh sebab itu peran pendidikan sangat mempengaruhi karakter dalam diri manusia tersebut.

  12. Dede Chrismaylindra berkata

    Dalam Q.S As Sajdah: 9 di jelaskan bahwa “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” Ayat ini memiliki relevansi dengan ayat lain, yakni Q.S Shad: 72 yang artinya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”
    Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa setelah ditiupkannya roh kepada jiwa manusia, maka manusia merupakan makhluk Allah swt. yang paling suci dan yang paling mulia.
    Maka dengan itu semua makhluk ciptaan Allah haruslah tunduk terhadap manusia, begitu juga manusia sebagai makhluk ciptaan Allah haruslah terus bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia karena yang sebagimana kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara semua makhluk ciptaan Allah, seperti yang telah di sebutkan pada surah al hajj : 9 diatas.
    Maka kita sebagai manusia senantiasa terus bersujud dan bersyukur kepada Allah swt. Atas karunia yang telah Dia berikan kepada kita.

  13. Siti Hayyun berkata

    sesungguhnya manusia itu memiliki dua unsur pokok yakni gumpalan tanah (materi/badan) seperti yang di jelaskan pada surat Al-Hajj ayat 5 : ” Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya “.
    dan disempurnakan oleh ruh seperti ayat yang telah dijelaskan diatas tadi.
    kedua unsur pokok tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, ruh menjadi faktor utama dalam kehidupan manusia selama ada dimuka bumi, tanpa ruh manusia/badan tidak akan mampu berfikir dan merasa.
    dari penciptaan manusia yang berasal dari segumpal tanah dan disempurnakan oleh Allah dengan ruh ini bukan serta merta Allah menjadikanya tanpa tujuan. Allah menyempurnakan manusia dengan diberikanya ruh adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi dan menjadi hamba Allah yang taat

  14. dedehidayatulloh berkata

    bahwa ruh yang kita miliki adalah suatu hak bagi manusia.
    pada ayat yang dijelaskan di atas tentang penciptaan manusia yang pertama yaitu nabi Adam as. bahwa yang dijelaskan dalam (Q.S Al-Hijr ayat 29)”maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu (kepada)Nya dengan bersujud”. Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna karna di berikan akal dan fikiran sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. maka, soal peniupan roh kepada manusia itu dijelaskan dalam hadist Arba’in Nawawi “Sesungguhnya telah disempurnakan penciptaan salah seorang dari kalian dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk sperma, kemudian dia menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat, kemudian ditiupkan ruh kepadanya, lalu malaikat tersebut diperintahkan untuk menulis empat perkara; untuk menulis rizkinya, ajalnya dan amalannya dan nasibnya (setelah mati) apakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya. Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya. (HR Bukhari dan Muslim) maka, manusia pun wajib bersyukur karena telah ditetapkan nya nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah SWT pada saat janin berumur 4 bulan di dalam kandungan seorang ibu. diantaranya rizkinya, ajalnya dan amalannya dan nasibnya. kenapa hal tersebut? karena itu akan menumbuhkan rasa bersyukur kepada Allah SWT, sehinggga akan mengingatkan kita kepada hal-hal yang baik. Allah pun, di dalam Q.S Al-Baqarah ayat 34, yang artinya Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. lantas apa yang dimaksud sujud nya yang diperinthkan allah di atas? itu adalah sebagai penghormatan kepada ciptaan Allah yang mulia lantas kita harus bersyukur karena manusia memiliki derajat yang paling tinggi di antara makhluk yang lain. Adapun kesombongan iblis tidak mau bersujud kepada Adam itu merupakan kesombongan karena perintah Allah SWT saja tidak dilakukan. Maka sebagai manusia jangan sampai mengikuti perbuatan syetan itu. jadi peran pendidikan sendiri untuk manusia adalah untuk mempertahankan kefitrahan manusia. karena manusia adalah makhluk Allah yang diberikan akal sehat dan nafsu, oleh karena nya pendidikan sendiri berperan sebagai tolak ukur atau pedoman yang membedakan antara yang benar dengan yang salah. Wallahu alam bii sawab…

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Wach semakin mantap nich pengetahuan saudara. Saya sangat senang membaca barasi ini

    2. ELOK ALFAIN LUTHFIE/ kel.4 berkata

      Assalamu’alaikum
      Manusia terdiri dari ruh dan jasad, karenanya Allah swt menundukkan keduanya secara keseluruhan. Ruh yaitu kehidupan atau kenyataan yang ada di dalam hati kita, ketika ruh manusia di yakini sebagai dzat yang menjadikan seseorang itu masih hidup. Ruh muncul melalui syaraf dari jantung ke otak lalu dari otak ke seluruh anggota tubuh.
      Inilah yang menjadi dasar terwujudnya semua aksi anggota badan. Terimakasih

    3. dhini apriliani berkata

      asalamualaikum
      ruh manusia ditiupkan oleh allah pada usia kandungan berusia 4bulan, ruh dan jasad itu saling berkaitan. manusia merupakan mahluk yang paling sempurna dan tinggi derajatnya yang di ciptakan oleh allah swt, yang si maksud sempurna yaitu manusia di ciptakan oleh allah secara lengkap seperti di beri akal dan fikiran untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, di beri mulut untuk berbicara, di beri kaki untuk berjalan dll. karena itu kalangan teosofi muslim menyebut pendidikan sebagai milik manusia karena memang hanya manusia satu-satunya mahluk yang di ciptakan allah yang dapat di didik manusia sendiri di didik untuk mempertahankan fungsi ke fitrahan manusia

  15. Lisna_Fitrianti berkata

    Bismillah..
    Ketika berbicara mengenai ruh, banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan lebih rinci. Ruh diciptakan sebagai wujud adanya kehidupan dalam diri manusia. Seperti yang telah dijelaskan pada artikel diatas bahwasanya manusia disempurnakan melalui ruh yang ditiupkan oleh Allah, oleh karenanya manusia dapat melihat, mendengar, serta hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
    Dengan di tiupkannya ruh, khususnya qolbu manusia dapat merasakan kehalusan dan kelembutan yang ada dalam jiwa manusia, tentu saja ini ada maksud dan tujuannya. Diantaranya adalah hati yang dapat merasa, berinteraksi dan berpikir. Sifat hati inilah yang mengajak manusia pada jalan yang lurus, mencari kebenaran sejati, mengajak pada kebajikan. Meskipun tidak semua hati manusia selalu berjalan lurus, karena begitu mudahnya hati manusia berguncang sehingga ia sangat mudah tersentuh pada hal-hal yang bersifat sensitif. Oleh karenanya manusia di perintahkan untuk selalu berdzikir membersihkan hati agar selalu terjaga kefitrahannya.

    1. Nur iqrima Diniyatin Hidayah berkata

      Saya sependapat dengan lisna,
      Manusia di ciptakan oleh Allah untuk terus beriman dan mencari keridhoan an Allah. Maka dari itu, setiap insan manusia di muka bumi ini, terus mencari keridhoan allah dan tak henti hentinya bersyukur atas apa yang Allah telah ciptakan untuk kita kita di muka bumi ini. Maka dari itu, manusia hati dan akal harus berjalan beriringan untuk tetap menjaga kefitrahan manusia sebagai manusia. Hati yang terus berdzikir kepada Nya dan akal untuk menerima pendidikan yang masuk. Sehingga nantinya, akal yang akan mengolah dan hati yang akan merasakan. Sehingga jika akal dan hati dapat berintegrasi baik, maka manusia tersebut dapat sesuai dengan fitrahnya manusia.

    2. Lisna_Fitrianti berkata

      Benar apa yang dikatakan lisna bahwasannya Manusia disempurnakan oleh ruh yang ditiupkan oleh Allah. Dan khususnya qolbu manusia dapat merasakan kehalusan dan kelembutan yang ada dalam jiwa manusia. Disamping itu juga manusia butuh pendidikan dan pengetahuan untuk bagaimana menjaga qolbu atau hati agar tetap fitrah dan tetap bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan kita. Karena tanpa pendidikan jiwa kita lemah.

  16. ikbal pauji berkata

    Sebagai makhluk yang diametral, maka manusia harus diberi pendidikan. Pendidikan yang mampu meningkatkan potensi kebaikan yang ada dalam diri masing2 manusia, dan dilain sisi mampu meredam potensi kejahatan yang ada. Pendidikan tsbut harus mampu menyentuh atau mencapai sifat ilahiyat yang ada pada Ruh manusia (Rohani) sebagai dasar kefitrahan manusia sehingga nilai dari suatu pendidikan trsbut dapat tercerminkan/ terinternalisasikan dalam sikap dan prilakunya secara nyata.
    Senada dengan hal tersebut, saya kira ketika manusia itu dididik dengan benar, dengan baik, bahkan Rohani (Ruh)-nya terdidik dengan optimal maka akan dapat dipastikan kemungkinan besar prosentase kecerdasan spiritualnya (SQ) pun akan baik pula.
    Bila diibaratkan pendidikan itu adalah jasad, maka yang menjadi ruhnya adalah tujuan pendidikan yang sesuai dengan fitrah atau potensi setiap manusia yang lahir.
    Menurut saya, ini yang kemudian menjadi problem besar (fenomena negatif) bagi kondisi ‘pendidikan’ sekarang. Karena seharusnya pendidikan (khususnya pendidikan islam) itu mampu mewujudkan beberapa goal mendasar, seperti terwujudnya pribadi-pribadi insan kamil/manusia seutuhnya; sehat jasmani dan rohani, dapat hidup serta berkembang secara wajar dan normal kemudian bertaqwa kepada Allah SWT. Akan tetapi nyatanya hal tersebut belum sepenuhnya terwujud (bahkan masih sangat jauh untuk dikatakan berhasil). Ironis sekali.
    Saat ini orientasi dari pendidikan masih berkutat ( atau lebih berorientasi) pada ‘selembar bukti tanda pendidikan’ (ijazah) semata dalam rangka kualifikasi pekerjaan dan juga gaji. Asumsi tersebut bisa dibilang sangat kental dalam pikiran masyarakat sehingga lambatlaun mempengaruhi cara pandangan mereka mengenai pendidikan. Dengan demikian pemenuhan pendidikannya pun hanya sebatas demikian (ijazah-pekerjaan-gaji) dan berimbas pada orientasi serta asumsi masyarakat ttg pendidikan yang tidak sesuai dengan fitrah.
    Hal tersebut juga akan memicu lunturnya esensi serta eksistensi dari pendidikan yang berfungsi mempertahankan fungsi kefitrahan manusia.

  17. ikbal pauji berkata

    Secara tematik (Maudhu’i) dalam Al-Qur’an serta kitab-kitab tafsir yang mashur, ternyata kata Ar-Ruh ini mempunyai makna yang banyak (tidak hanya mengarah pada satu arti). Berdasarkan QS As-Sajdah ayat 9 (sebagaimana tertulis diatas) kita tahu bahwa telinga bisa berfungsi sebagai alat pendengaran, mata bisa difungsikan untuk melihat, serta hati sebagai alat untuk memahami. semua terjadi apabila Ruh telah ditiupkan oleh Allah Swt. Dengan Ruh ini pula-lah kiranya Allah memuliakan manusia. Sehingga dapat dipahami betapa pentingnya ruh bagi jasad kita serta terhadap sikap perbuatan kita (baik atau jahat).
    Ruh ini pun bersifat lathifah (lembut) sehingga kita sebagai manusia akan sulit untuk mendeskripsikan ruh itu sendiri, dengan demikian kita tidak tahu ruh itu seperti apa. Maka yang tahu tentang hakikat Ruh adalah Allah swt. sebagaimana tertuang dalam QS Al Isra’ 17: 85.
    Selain dengan pendidikan, cara untuk tetap mempertahankan eksistensi ruh supaya manusia tetap dalam ranah kefitrahan yaitu dengan memberi ruh kita makanan yang bersifat ilahiyat. Ternyata ruh pun butuh makan seperti halnya jasad, makanan ruh itu salah satunya dengan dzikir. Ketika porsi dzikir kita telah Balance dengan kebutuhan makanan si Ruh itu sendiri, otomatis ruh tersebut akan lebih mengarahkan jasad untuk berbuat hal yang baik dan me-nafi-kan keburukan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar