Take a fresh look at your lifestyle.

Ruh Manusia dalam al Qur’an Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

26 802

Konten Sponsor

Ruh Manusia dalam al Qur’an Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Terdapat banyak ayat dalam al Qur’an yang menerangkan tentang ruh banyak. Ayat-ayat dimaksud tidak sulit untuk didapatkan. Berrdasarkan pengamatan dan pelacakan yang mampu penulis lakukan, setidaknya terdapat 16 ayat al Qur’an yang menerangkan secara khusus tentang konsep ruh.

Sejauh yang mampu penulis kaji, masing masing ayat dimaksud juga ternyata memiliki variasi kontek yang sangat berbeda dalam pemahaman terhadapkata ruh dimaksud. Untuk itu, dibagian ini penulis mencoba menerangkan 16 ayat tersebut dan penafsirannya yang dilakukan para mufasir al Qur’an. Ayat-ayat dimaksud adalah sebagai berikut:

Q.S Al Hijr ayat 29

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kep[adanya dengan bersujud.”

Ibn Kasir (Jilid IV: 517-518) berpendapat bahwa ayat ini menggambarkan tentang perintah Tuhan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam. Perintah dimaksud, tentu setelah penciptaan Adam disempurnakan Tuhan. Proses penyempurnaan penciptaan Adam ini adalah ketika Adam selesai dibentuk dalam wujud fisiknya, kemudian Tuhan meniupkan ruhNya.

Atas perintahnya ini, Malaikat semuanya bersujud kecuali syeitan. Syeitan menganggap bahwa diirinya adalah wujud yang paling sempurna dan paling mulia karena ia diciptakan dari api. Sementara itu, manusia tercipta dari tanah.

Q.S As Sajdah: 9

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” Ayat ini memiliki relevansi dengan ayat lain, yakni Q.S Shad: 72 yang artinya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Q.S Al Mujadalah: 22

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Ibn Kasir mengartikan kata biruhim minhu pada ayat diatas sebagai jiwa yang berasal dari Tuhan. Menurut Ibn Kasir (Juz VIII: 72) ayat ini turun berkaitan dengan sikap orang orang musyrik yang selalu menentang dan menolak ajaran Allah dan Rasulullah. keimanan dan kekufuran adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah dengan jiwa dan ruh Tuhan. Orang-orang itulah yang akan dimasukan kedalam syurga yang didalamnya mengalir sungai-sungai dan kekal di dalamnya.

Karena manusia berasal dari dua karakter yng berbeda, maka secara potensial, manusia juga memiliki dua potensi yang juga ganda dan diametral (kebaikan vs kejahatan). Namun demikian, perlu dicatatkan bahwa kebaikan manusia adalah ciri dasar, yang dalam leksikon teologis sering disebut fitrah.

Karena itu, tidak salah juga jika kalangan teosofi muslim menyebut pendidikan sebagai milik manusia karena hanya memang manuia satu-satunya jenis mahluk Tuhan yang dapat dididik. Dengan kata lain, pendidikan berfungsi untuk mempertahankan fungsi kefitrahan manusia.

Dan cita-cita itu, jika dikaitkan dengan diundangkannya UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, telah memiliki relevansinya yang sangat penting untuk menjadikan manusia sebagai pusat kajian dalam pelaksanaan pendidikan. By. Prof. Cecep Sumarna