Nasib Naskah-Naskah Wangsakerta yang Terlantar

0 254

Lyceum.id – KALANGAN budayawan Cirebon dan Indramayu pernah dihebohkan dengan temuan buku kuno pada deretan pedagang loak di Kota Cirebon dan Indramayu. “Ternyata buku itu tak lain berupa puluhan kitab karya Pangeran Wangsakerta,” (Naskah-Naskah Wangsakerta) kata filolog Oppan Raffan Hasyim yang turut mengalih basakan dan mentransliterasikan naskah- naskah Wangsakerta.

Para penemu itu di antaranya Ading dan Moh. Asikin.  Mengenaskan,  kitab-kitab tersebut ditemukan di antara pedagang loakan di daerah Indramayu pada 1971. Segera buku- buku tersebut dikumpulkan dan diteliti, ternyata merupakan kitab- kitab berharga yang ditulis pada abad ke-17. Pangeran Wangsakerta yang memimpin pertemuan agung (Gotra Sawala) di Keraton Kasepuhan. Kini, buku- buku tersebut, kata Oppan,  disimpan rapi di museum Sri Baduga Jl. Peta Bandung.

“Sekira seribu tujuh ratusan kitab  yang ditulis Pangeran Wangsakerta dari hasil pertemuan yang berlangsung sekira duapuluh satu tahun,” ujar filolog yang konsisten memerhatikan naskah- naskah kuno, Oppan Raffan Hasyim. Meski demikian, dari kitab yang ditulisnya itu baru sebagian kecil yang ditemukan. Sedangkan kitab Pustaka Nagara Kretabhumi merupakan “buku babon” yang dikutip Pangeran Arya Carbon (1720) dalam penulisan kitab Purwaka Caruban Nagari, yang selama ini dianggap sebagai sumber utama lahirnya Cirebon pada 1 Muharram 811 Hijriah.

Mengutip  Prof. Atja, seperti dikatakan Oppan Raffan Hasyim, dalam naskah – naskah Wangsakerta (2008), petunjuk akan adanya naskah-naskah penting di Cirebon berasal dari keterangan lisan Prof. Dr.  Purbatjaraka pada awal tahun 1960-an. Pada waktu itu Atja bekerja sebagai kurator di Bagian Naskah Museum Nasional (waktu itu Museum Pusat) Jakarta. Ia sedang mengerjakan kegiatan di bawah bimbingan beliau.

Sedangkan petunjuk adanya naskah-naskah Wangsakerta. Didapatkan pada naskah Cerita  Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang disusun oleh Arya Carbon pada tahun 1720 yang naskahnya ditemukan di Indramayu. Naskah CPCN tersebut dijual oleh pemiliknya pada tahun 1972 karena menderita sakit (Atja, 1975; 1986; Ekadjati dkk., 1988 : 6).

Sejak tahun 1974 satu demi satu secara berangsur-angsur naskah-naskah karya tim pimpinan Pangeran Wangsakerta (selanjutnya disebut naskah-naskah Wangsakerta) itu ditemukan kembali melalui jaringan hubungan kekeluargaan keturunan keluarga Keraton Cirebon. Ternyata tempat penemuan kembali naskah-naskah Wangsakerta itu tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Seperti Cirebon, Banten, Jawa Timur, Medan, Palembang, Sumatera Barat, Jambi, Banjarmasin, Kalimantan Timur dan Jakarta. Naskah-naskah Wangsakerta yang ditemukan kembali itu oleh penemunya (antara lain Ading dan Moh. Asikin di Cirebon diserahkan kepada Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga di Bandung melalui transaksi penjualan. Kini di Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga itu telah terkumpul sebanyak 49 buah naskah Wangsakerta (Atja & Ayatrohaedi, 1986 : 2; Ekadjati dkk., 1988 : 167-181).

Lima Kelompok Naskah – Naskah Wangsakerta

Berdasarkan judul karangannya, kata Oppan lagi,  naskah-naskah Wangsakerta dapat diklasifikasikan atas lima kelompok naskah masing-masing merupakan seri karangan. Tiap kelompok naskah atau seri karangan terdiri atas beberapa naskah (buku) yang berlainan. Kelima kelompok naskah karangan dimaksud adalah (1) Pustaka Negarakertabhumi, (2) Pustaka Dwipantaraparwa, (3) Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, (4) Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, dan (5) Carita Parahyangan.

Pustaka Negarakertabhumi (PN)

Sesungguhnya Pustaka Negarakertabhumi (PN) terdiri atas 12 naskah, yang dikelompokkan atas tiga parwa. Parwa ke-1 terdiri atas 5 sargah atau 5 naskah, parwa ke-2 meliputi 4 sarga atau 4 naskah, dan  parwa ke-3 meliputi 3 sargah atau 3 naskah. Dari 12 naskah PN itu baru ditemukan kembali 5 naskah, seluruhnya dari parwa kesatu, sedangkan yang lainnya (7 naskah) belum ditemukan lagi. Kelima naskah PN yang sudah disimpan di Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga itu (nomor koleksi : 70.871, 76.975, 76.976, 76.977, dan 42.720). ditemukan antara tanggal 28 Desember 1977 sampai 30 Mei 1978. PN Parwa 1 sargah telah dikerjakan secara filologis (Atja & Ayatrohaedi, 1986).

Pustaka Dwipantaraparwa (PD)

Pustaka Dwipantaraparwa (PD) paling tidak berjumlah 10 naskah. Tetapi, yang kini sudah ditemukan kembali dan menjadi koleksi Museum Negeri Jawa Barat hanya 9 naskah. Mengapa? karena naskah sargah pertama belum ditemukan lagi. Naskah yang kini ada ialah PD sargah ke-2 hingga sargah ke-10. naskah-naskah ini (9 buah) diterima oleh museum Negeri Jawa Barat Sri baduga pada tahun 1984-1988 dan ditemukan di beberapa daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Utara, (Ekadjati dkk. 1988 : 171-172).

Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa (PPBJ)

Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa (PPBJ) baru ditemukan empat buah naskah. Keempat naskah dimaksud adalah naskah-naskah : (1) parwa 1 sargah 1, (2) parwa 1 sargah 2, (3) parwa 1 sargah 3, dan (4) panyangkep. Naskah tersebut kedua terakhir dikumpulkan dari Kalimantan Timur pada tahun 1972-1977. Sedangkan naskah tersebut terakhir dikumpulkan dari Palembang, Serang (Banten), dan Jambi pada tahun 1926-1931 serta dijilid tahun 1978 (Ekadjati dkk., 1988 : 173, 179).

Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara (PRBN)

Seperti dikatakan budayawan Dermayu, Supali Kasim, sebenarnya Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara (PRBN) berjumlah 25 sargah. Ia terdiri atas lima parwa dan setiap parwa terdiri atas lima sargah. Namun jumlah naskah ini yang telah tersimpan di Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga ada 25 buah naskah, karena parwa ke-5 (sargah terakhir) ditemukan dua naskah. Menurut keterangan penyusun di dalam naskahnya, bahwa parwa ke-5 itu memang dibuat dua naskah. Satu buah disimpan di perpustakaan Sultan Kasepuhan dan sebuah lagi disimpan Pangeran Wangsakerta.

Isi sargah terakhir ini disebut pula panyangkep (pelengkap) parwa ke-5 dan tebalnya 212 halaman. Ia merupakan daftar naskah yang disimpan pada perpustakaan Sultan Kasepuhan Cirebon. Menurut isinya, naskah ini selesai disusun pada tanggal 8 Kresnapaksa, Maghamasa, tahun 1620 Saka yang jatuh pada tahun 1698 Masehi (Atja dan Ayatrohaedi, 1986 : 4-5). PRBN parwa 1 sargah 1 telah digarap antara filologis pada tahun 1987 (Atja dan Edi S. Ekadjati, 1987). Begitu pula PRBN 5 sargah lainnya.

Naskah Carita Parahyangan

Kelompok naskah Carita Parahyangan berjumlah lima buah sargah/naskah. Sargah ke-1 sampai dengan sargah ke-4 berisi cerita  bersambung mengenai kerajaan-kerajaan yang tumbuh dan berkembang di wilayah Jawa Barat pada masa pengaruh kebudayaan Hindu. Adapun isi sargah ke-5 (panyangkep) merupakan ikhtisar isi 4 sargah sebelumnya. Di dalamnya terdapat perbaikan di sana-sini yang dianggap perlu pada sargah-sargah sebelumnya, berlaku pula pada seri karangan Pangeran Wangsakerta lainnya (Ekadjati dkk., 1988 : 179-181). Carita Parahyangan sargah 1-5 selesai digarap pada tahun 1988-1990 (Atja dan Edi S. Ekadjati, 1989-1990).

Istilah parwa, menurut Zoetmulder (1982) : Suku kata parwa II, a process story; part (book) of the Mahabharat Epic. Macdonell (1954); parvan, salah satu arti yang diberikan: division of a book. Pengertian parwa dalam judul naskah, tidak sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh kedua sarjana tersebut. Baru dapat ditemukan berdasarkan keterangan yang sangat luas yang terdapat dalam Monier Williams (1872), yang menterjemahkan kata suku katat parwa dengan division, bagian.

Demikian juga istilah sargah, suku kata sarga, Zoetmulder (1982) mennerjemahkan dengan: chapter, book (esp. in epic poem), adapun Macdonell (1954), malahan menterjemahkan dengan section, canto (in a epic poem), tetapi Monier William (1972), di antara berbagai arti yang diberikan kepada suku kata sarga, salah satu yang cocok untuk naskah kita, ialah book, buku.

Dilihat dari organisasi penyusunannya, terdapat persamaan umum di antara karya-karya tim Pimpinan Pangeran Wangsakerta itu.  Setiap sargah naskah selalu disusun dalam tiga bagian. Ketiga bagian dimaksud adalah (1) pendahuluan, (2) inti isi naskah, berupa cerita dan atau pembahasan/pemaparan, dan (3) penutup. Dalam pendahuluan umumnya diutarakan mengenai judul karangan (beserta nomor parwa dan sargahnya). Nama penyusun beserta identitasnya, sumber karangan, metode penyusunan, dan doa bagi penyelamatan penyusun/pembaca.

Bagian inti isi naskah berisi cerita dan pembahasan suatu peristiwa, tokoh, masalah, dan kerajaan yang disusun secara kronologis. Pada umumnya isi sargah berikutnya merupakan lanjutan atau perbaikan atau pengluasan sargah sebelumnya. Dalam bagian penutup dikemukakan waktu selesainya penyusunan, tempat penyusunan. Kadang-kadang diungkapkan sumber penyusunan, dan permohonan maaf penyusun jika ada kesalahan, kekeliruan atau kekurangan serta do’a bagi keselamatan penyusun, pembaca, dan penyimpan naskah.

Naskah Palsu dan Harus Ditinggalkan?

Menurut Supali Kasim, beberapa sejarawan, filolog, dan arkeolog yang boleh dikatakan tidak setuju naskah PW menjadi sumber sejarah dengan beberapa alasan seperti pada pandangan kedua, antara lain Boechari, Taufik Abdullah, R. Soekmono, Edi Seyawati, Uka Tjandrasasmita. Juga Nina Herlina Lubis, J. Nourduyn (Belanda), Adolf Heukeun S.J. (Belanda), M.C. Ricklefs (Australia).

Di antaranya ada yang mengatakan, penulis naskah tidak hidup di zaman yang sama dengan peristiwa yang berlangsung; aksara yang digunakan cenderung pada abad ke-17; menganggap sebagai anyaman cerita sejarah dengan menggunakan cerita-cerita yang bukan cerita sejarah, sebagai genre folklore baru. Bahkan ada yang menganggap naskah itu palsu dan harus ditinggalkan.

Di sisi lain ada anggapan seakan-akan pemikiran para sarjana modern dengan teori-teori modern yang bersumber pada Barat, pendapatnya telah dianggap sebagai suatu kebenaran. Pendapat berbeda dikatakan Burcon Garnama (2002) yang mengungkapkan banyak fakta kebohongan yang diserap penulis sejarah nusantara gara-gara asumsi kebenaran yang berlebihan terhadap peranan sumber-primer yang nyaris menjadi hitam-putih. ***

Nurdin M. NoerWartawan Senior Pemerhati Kebuadayaan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.