Nasib Twitter Yang di Ujung Tanduk

0 26

Nasib Twitter sedang diterpa isu PHK karyawan. Selama sembilan bulan ini, profit terus menerus menurun dan jumlah penggunanya juga stagnan. Banyak isu yang memberikan harapan, karena Twitter ternyata akan dibeli oleh beberapa perusahaan besar. Sayang, isu itu tak kunjung terwujud juga. Kini Twitter masih di ujung tanduk.

Dua isu yang diberitakan hari ini, yaitu baik soal isu PHK maupun soal investor yang urung, membuat nasib Twitter tak kunjung jelas. Intinya, tak ada penawaran yang masuk dan Twitter akan dibiarkan hidup tanpa perencanaan bisnis atau pun partner guna dapat membuat masa depan karyawannnya cerah.

Disney, Google, Microsoft sampai Salesforce dikabarkan tertarik mengakuisisi dan mengambil alih Twitter. Isu tersebut dipublish sehingga memberikan harapan bagi sang Jack Dorsey, pendiri Google. Namun berita terbantahkan dari beberapa perusahaan tersebut bergulir. Google sudah membantah. Disney menarik diri, Microsoft juga tak mau berkomentar dan Salesforce pun mundur.

Sejatinya, menurut analisa, PHK 300 karyawan yang kabarnya dilakukan Twitter bukanlah hal yang memang luar biasa. Dalam kuartal ketiga ini, Twitter dianggap tak mendapatkan penghasilan yang baik. Ini juga bukan kali pertama Twitter mengalami penurunan pendapatan, melainkan sembilan kuartal berturut-turut. Banyak hal juga yang menjadi penyebab Twitter tak menghasilkan dengan baik. Selain popularitasnya yang semakin menurun, jumlah anggota aktif yang juga tidak kunjung naik, meningkatnya situasi kompetisi dengan media sosial lain, dan kegagalan proses akuisisi.

Tak Punya Inovasi

Saat ini dapat dibilang, Twitter kurang mempromosikan dirinya, kurangya memiliki inovasi baru. Ini tentu membuat penggunanya bosan dan akhirnya kehilangan interaksi antarfollower. Penulis misalnya, memiliki akun Twitter namun sangat jarang digunakan akhir-akhir ini. Semula memiliki akun mikroblogging itu, hanya ingin tahu seperti apa sih isi Twitter.

Hanya dengan 140 karakter, kita dituntut untuk dapat menarik follower. Kreasi tinggi memang dibutuhkan dalam menulis status di Twitter di tengah keterbatasan karakter, namun kurangnya berbagai inovasi baru yang diberikan Twitter membuat saya bosan menggunakannya. Sampai akhirnya, saya putuskan untuk mengkoneksikan akun Twitter dengan Facebook dan Path saya. Hasilnya, saya tak perlu membuka Twitter untuk update status. Cukup tulis status di Path dan juga Facebook, maka status saya akan terbagikan di Twitter secara otomatis.

Mungkin seperti pemikiran saya, pengguna lainnya juga sedang menunggu inovasi apa lagi yang akan diberikan Twitter. Dahulu sempat diberitakan jika Twitter akan menghilangkan batasan karakter dalam cuitan, dari 140 karakter menjadi 1.000. Namun hal tersebut tak kunjung diberlakukan. Hanya sebatas rumor dan isu saja.

Kemudian ada lagi keinginan Twitter untuk mulai beralih menjadi platform share berita. Namun secara tak langsung hal tersebut sudah dilakukan oleh para penggunanya. Kebanyakan berbagai berita ‘breaking’ yang ada di media saat ini selalu didahului dengan mengutip laporan dari netizen di Twitter.

Kualitas Pengguna Twitter

Kualitas Pengguna Twitter
Kualitas Pengguna Twitter

Yang tentu paling mengkhawatirkan dan perlu ditelusuri adalah kualitas pengguna twitter dan mutu dari akun baru pengguna Twitter. Saya pribadi tidak terlalu peduli berapa jumlah follower saya di Twitter, karena saya bukan selebtwit yang ingin meracuni follower dengan rayuan iklan terselubungnya.

Namun jika dilihat, dari 1.500 lebih follower saya, lebih dari 50 persennya orang yang saya tidak mengenalnya, ada yang tidak menyertakan foto profil sehingga saya yakin jika akun itu adalah akun bot. Bisa jadi, Twitter menjadi sarang bot, sarangnya akun palsu, sarang para spammer.

Ini yang membuat investor secara tak langsung mempertanyakan 300 juta pengguna Twitter itu merupakan akun asli atau akun palsu. Satu-satunya fitur baru yang ada di Twitter adalah integrasi dengan Periscope. Namun euforianya juga tidak berlangsung lama.

Salah satu penulis senior dalam majalah Fortune, Mathew Ingram menganalisa, dinamika Twitter adalah kisah keberhasilan sekaligus kisah kegagalan. Dalam episode keberhasilan, dapat dilihat perusahaan telah mampu mengelola nilai perusahaan hingga menjadi US$17 miliar yang dipakai lebih dari 300 juta pengguna di seluruh dunia.

Namun demikian, Twitter juga mengalami beberapa episode buruk, yakni gagal mengkapitalisasi dan mengelola dengan baik pertumbuhan perusahaannya. Artinya, Twitter hanya menguntungkan end-user tapi tak tahu bagaimana cara menyenangkan sang para pemilik modal.

Kegagalan Twitter juga dapat dilihat dari peran Dorsey, yang saat ini sebenarnya sedang menduduki dua kursi CEO. Selain memimpin Twitter, Dorsey juga menjadi CEO perusahaan mobile, Square. Hal ini dipandang turut berkontribusi bagi kegagalan guna mendongkrak performa perusahaan.

Peran CEO ganda Dorsey itu mendapat sorotan dari investor legendaris, Bill Miller. Dia mengatakan dengan menjadi CEO dua perusahaan, menurutnya akan sangat menyulitkan untuk perusahaan yang dikembangkan.

“Gila memiliki Jack Dorsey yang menjadi CEO paruh waktu di perusahaan dengan problem yang dimiliki Twitter,” jelas Miller dalam sebuah acara dikutip dari CNBC.

Nasib Twitter

Menurut analisa Lance Ulanoff dari Mashable, Twitter sudah memiliki satu wilayah yang dianggap cukup sukses, yakni industri periklanan. Twitter mendapatkan cukup banyak uang dari iklan. Pertumbuhan pendapatannya dari iklan pun sebesar 18 persen tahun per tahun.

“Namun sayangnya, sebagai perusahaan publik, pemegang saham hanya mau melihat pertumbuhan yang berkelanjutan. Masa depan tanpa adanya pertumbuhan berarti peningkatan revenue tidak akan terjadi dalam jangka panjang. Ini artinya, pengguna Twitter juga harus terus tumbuh,” ujar Ulanoff.

Ulanoff yakin jika Twitter akan terus berdiri meski belum ada investor yang tertarik dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini dikarenakan Twitter telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat digital. Twitter masih menjadi alat ukur bagi kebanyakan media, rujukan pemberitaan, kreasi konten dan lainnya.

Twitterlah yang menyatukan pengguna internet dengan topik yang paling dibicarakan masyarakat dunia, mulai dari konflik di teluk Arab, perekrutan anggota ISIS sampai popularitas Donald Trump.

“Facebook juga memiliki fungsi yang sama tapi kecepatan respons pasar, secara real-time, hanya bisa dilihat di Twitter,” katanya.

Pembeli Yang Potensial

Ulanoff menyebut, Twitter akan menjadi besar jika berada di tangan benar. Tangan tersebut adalah milik Google, dengan kemampuan dana yang powerful dan kecanggihan teknologi yang dimiliki Google. Namun pengamat lain menilai jika Disney dapat menjadi pembeli potensial dan akan menguntungkan jika memiliki platform Twitter. Portfolio ekspansif yang dimiliki Disney belum memasukkan media dalam daftar. Padahal media macam Twitter ini bisa menjadi alat yang mumpuni untuk terus menggaungkan brand maupun produk mereka ke khalayak luas.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$12,76 miliar dan kehilangan sekitar US$400 juta per tahun, Twitter dinilai terlalu mahal untuk diakuisisi oleh perusahaan lain. Berdasarkan laporan terakhir pada bulan Juni, jumlah total karyawan yang dimiliki oleh Twitter secara global mencapai 3.860 orang. (dhirga)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.