Natal dalam Perspektif Orang Pinggiran

0 23

Natal. Kata ini, di masa lalu sering dianggap sebagai sesuatu yang memiliki makna tertentu dan makna dimaksud cenderung dianggap bertentangan dengan term agama Islam. Kata ini, karena itu, ketika datang dalam durasi tahunan tekah membuat banyak kalangan Muslim, khususnya Muslim pedesaan, harus segera mempersiapkan diri menuju penebalan tauhid atau teologi keagamaan. Meski dalam lakon tertentu, tentu pada saat remaja, hadirnya tanggal 25 Desember selalu dirayakan dalam sejuta kesenangan, karena bukan saja pada tanggal dimaksud kami dapat libur sekolah, tetapi, juga tersedianya aneka pakaian bagus yang diskon besar-besaran di berbagai toko dan mall besar.

Natal dalam Logika Masa Lalu

Umat Islam di generasi 35 tahun yang lalu –termasuk tentu diri saya sendiri–, selalu mengidentikkan bahwa tanggal 25 Desember sebagai keyakinan (iman) masyarakat Kristen yang menganggap bahwa “anak” Tuhan telah dilahirkan. Sementara kami, lama berkeyakinan bahwa barangsiapa yang menganggap bahwa Tuhan lebih dari satu, atau apalagi dilahirkan dan melahirkan, misalnya dalam konteks Isa tadi, yang secara langsung menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak, maka, orang dimaksud bukan hanya sekedar kafir akan ketunggalan Tuhan, tetapi juga musyrik. Kyai-kyai selalu mengajarkan bahwa hal itu bertentngan dengan berbagai keterangan kitab suci, sebut misalnya al Qur’an surat al Maidah [5]: 116-118 berikut ini: “Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuha. Isa menjawab: Tidak. dan surat al Ikhlas [113]: 1-5

Rasul Muhammad melalui refortase sahabatnyapun sama. Misalnya salah satu sabdanya yang diriwayatkan Nu’man bin Basyir, beliau bersabda”

“Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haram pun telah jelas. Akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (sebagian halal, sebagian haram), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barangsiapa yang memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekalin binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu yang haram jangan didekati)”.

Karena itu, menjauhi kegiatan mereka yang merayakan natal, dianggap sebagai ibadah. Namun demikian, bukan berarti kami dididik untuk tidak menghormati mereka yang merayakan natal, tetapi, kami dianjurkan untuk tidak mencampur adukan keyakinan yang dianut kita dan keyakinan yang dianut agama lain. Itulah toleransi yang menyatakan bahwa bagimu agamu dan bagiku agamaku.

Toleransi itu Bukan beribadah Bersama

Dengan nalar di atas, perayaan Natal bersama yang melibatkan sebagian umat Islam dalam event dimaksud, yang hari-hari ini memang mulai tampak menunjukkan wataknya yang relatif sulit dimengerti menurut logika umat Islam yang lahir 40 tahunan ke atas itu, relatif mengganggu pemandangan dan keyakinan yang lama terbentuk dalam memori kolektif umat. Ada apa sesungguhnya yang terjadi. Haruskah toleransi diwujudkan dalam bentuk kegiatan semacam ini?

Massifnya pemberitaan yang akhir-akhir ini, telah menunjukkan adanya perayaan dimaksud yang melibatkan umat Islam tadi, telah mengesankan adanya salah arti yang menganggap misalnya perayaan natal sama dengan kegiatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw. Dengan alasan dimaksud, belakangan muncul adanya sebagian umat Islam yang ikut dalam perayaan Natal melalui keikutsertaannya dalam kepanitiaan Natal. Bagi orang Kristen, Perayaan Natal itu memang ibadah. Bagi umat Islam, tampaknya perlu kode-kode tertentu, sampai batas mana toleransi keberagamaan itu, mesti dibangun. Islam memperbolehkan umatnya untuk bekerja sama dengan siapapun, termasuk dengan non Muslim—khususnya dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan keduniaan. Dalam soal kegiatan Natal? Tampaknya perlu kembali merenung. Team Lyceum Indonesia

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.