Natal dan Perubahan Paradigma Masyarakat Muslim Indonesia

0 13

Malam Natal Dan Tahun Baru. Masyarakat Muslim Indonesia, tampaknya mengalami perubahan paradigma yang cukup pesat. Perubahan paradigma sebagaimana disebut Thomas S. Kuhn (1977) dalam mindset manusia baik dalam bidang politik, budaya, agama, sosial dan ekonomi, tentu didalamnya ilmu pengetahuan, sebenarnya akan berdampak besar terhadap tatanan budaya, politik dan bahkan ekonomi masyarakat, di mana perubahan itu terjadi.

Hal ini, dalam analisa Kuhn, setidaknya dapat dilihat dari perubahan atas apa yang dilakukan Covernicus dan Galileogalilei, saat keduanya menemukan teori Helyosentris yang berdampak pada penggantian teori Geosentris. Geosentris ini, lama diimani masyarakat Kristen Barat dan Eropa pada umumnya. Bahkan dalam kasus tertentu, geosentris dianggap sebagai ajaran agama mereka.

Inilah perubahan yang menyebabkan diinkuisinya Galileogalilei, karena dianggap melawan tafsir agama tentang kebenaran Geosentris. Karena dan dengan alasan itu, Galilei diberi sanksi dalam bentuk hukuman rumah sampai ia mati. Salah satu produk yang dihasilkan penemu teori gravitas ini ini, adalah Visa yang menjadi tempat teleskop yang dibuat mampu melihat angkasa secara sempurna.

Perubahan Paradigma Muslim Indonesia

Masyarakat Muslim Indonesia, dalam kacamata tertentu, saat ini, tampaknya layak disebut telah mengalami perubahan paradigma, khususnya dalam cara pandang keagamaan.

Bagaimana tidak berubah paradigma. Berbagai perubahan dahsyat misalnya atas apa yang terjadi di 25 atau 30 tahun yang lalu, di mana umat Islam, khususnya mereka yang disebut Sosiolog sebagai kaum tradisional, menganggap bahwa Natal adalah kegiatan yang jauh dari nilai keislaman.

Hari ini, kegiatan dimaksud, bukan hanya dianggap biasa oleh komunitas tersebut, tetapi bahkan menjadi bagian penting dalam pengaman keberlangsungan kegiatan keagamaan dimaksud.

Karena itu, jika di masa lalu, umat Islam jangankan mengamankan Natal, mendengar kata natalpun seolah berhadapan dengan tembok besar yang berdampak pada tatanan akidah umat. Hari ini, paradigm itu, dijungkirbalikan dengan adanya fakta bahwa, salah satu ormas Islam bernama Bantuan Serba Guna (Banser) Nahdhatul Ulama (NU), bersedia menurunkan ribuan personelnya untuk mengamankan kegiatan Misa Natal di seluruh Nusantara.

Banser, seperti disampaikan Yaqut Cholil Qoumas –yang menjadi ketua umum—mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinya akan mengamankan seluruh ibadah misa Natal seluruh gereja di Indonesia. Ia memastikan bahwa kegiatan misa yang dilakukan kaum gerejani di Gereja akan berjalan aman dan lancar.

Ia memberi catatan bahwa bantuan pengamanan itu, akan dilakukannya ketika pihak apparat kepolisian memintanya untuk turut mengamankan. Ia memastikan bahwa 35 ribu personilnya, akan siap diterjunkan ke lapangan.

Ada apa ini? Kita tidak bisa menjawab. Hanya sejarahlah yang akan mengurainya ….

Komentar
Memuat...