Take a fresh look at your lifestyle.

Baghdad dan Negara-negara Pemilik Senjata Pemusnah Massal

0 165

Tahukah anda bahwa Baghdad adalah pusat peradaban dunia. Negeri dimaksud bukan hanya sekedar milik peradaban Islam.  Apa yang disebut dengan mesopotamia yang melahirkan sejumlah filosof klasik, lahir di negeri ini. Banyak pihak menyebut bahwa daerah ini lebih tepat disebut sebagai negeri para filosof.

Saluran Sungai eufrat yang menjadi sungai terpanjang di dunia, bukan hanya sekedar menjadi sumbu ekonomi, tetapi juga menjadi saksi bisu kehebatan negeri ini. Eufrat adalah sungai yang pernah berubah warna airnya menjadi hitam, saat  bangsa tidak beradab dari Tsar [Sansan] atau Cina membumihanguskan perpustakaan-perpustakaan Islam. Mereka adalah negeri yang tidak mengerti pentingnya ilmu pengetahuan. Mereka berkecenderungan hanya “merampas dan merampok” kekayaan material. Karena bangsa mereka itu, Islam mengalami keruntuhan pada tahun 1258 Masehi.

Baghdad adalah negeri seribu dongeng dengan sejumlah keagungan peradabannya di masa lalu. Di negeri ini pula, Islam pernah sampai di puncak peradabannya. Yang disebut dengan puncak kejayaan Islam, selain Cordova [dinasti Umayah II] tentu saja, ada di Baghdad.  Masyarakat dan intelektual setempat mampu menjamin dan meneruskan tradisi intelektualisme mereka ke dalam tataran yang lebih praktis dan tepat guna. Intelektualisme ini pula, yang menyerap ke dunia Islam dan diadaftasi sepenuhnya ke dalam rumusan yang lebih praksis.

Puncak kejayaan Islam Baghdad, terjadi antara rentang tahun 750 sampai tahun 1258 M. Dunia Islam pada saat itu, sedang dikuasai khilafah Islamiyah dari kekhalifahan Daulah Bani Abbas. khalifah Harun Ar-Rasyid (786 – 809 M) dan anaknya Al-Ma’mun (813 – 833 M) meletakkan dunia Islam di puncak kejayaan; ekonomi, kemiliteran dan ilmu pengetahuan. Harun al-Rasyid begitu pandai memanfaatkan kejayaan ekonomi negerinya untuk keperluan sosial seperti pendirian rumah sakit [tersedia setidaknya 800 orang dokter], lembaga pendidikan kedokteran dan farmakologi.

Invasi Amerika [2003] ke Irak, karena itu, dalam banyak kasus, dapat diterjemahkan sebagai penghapusan sejarah peradaban dunia. Ia juga menjadi bangsa kedua setelah Sansasn, yang membumi hanguskan Baghdad. Puncak kemasyhuran dunia melalui bentuk-bentuk bangunan, naskah-naskah kuna, dan berbagai bukti sejarah kegelimangan Islam dan masyarakat sebelumnya, habis terlumatkan oleh bom-bom milik Amerika Serikat. Alasan Amerika membom di negeri para filosof tadi, terjadi karena mereka menduga di Baghdad-lah, senjata pemusnah massal tersedia.

Negara-negara Lain dengan Senjata Pemusnah Masal

Negara lain, selain Baghdad, sebenarnya patut diduga memiliki senjata pemusnah massal. Sebut misalnya Pakistan, India, Korea Utara dan Israel. Semua Negara dimaksud bukan hanya sekedar memiliki nuklir, tetapi juga mengembangkannya. Mereka sama melangggar perjanjian non-proliferasi yang membatasi pemilikan nuklir. Kita tahu bahwa perjanjian Non-proliferasi hanya membolehkan kepemilikan senjata-senjata dimaksud hanya pada negara-negara besar. Negara besar dimaksud kemudian dikenal dengan sebutan “The Nuclear Club”.

Jika kita memperhatikan negara-negara yang memiliki senjata pemusnah massal itu, maka, tampak bahwa negara tersebut memang adalah adalah negeri penuh konflik dengan negara sekitar. Sebut misalnya, Korea Utara di kawasan Asia Timur. Ia adalah negara yang bekonflik bukan hanya dengan Korea Utara tetapi juga dengan Jepang.

India dan Pakistan, sama-sama memiliki senjata pemusnah massal, karena mereka satu sama lain terus berkonflik. Apalagi negara Israil yang berkonflik hampir dengan semua negara di Timur Tengah. Problemnya memang, ada negara yang memiliki kekhawatiran untuk diserang Amerika Serikat,  namun ada juga negara penuh konflik itu, yang justru dijaga Amerika. Sebut misalnya, negara Israil. Amerika dengan penuh semangat menjaga negeri ini, dengan atau tanpa bantuan dari negara lain.

Awal tahun 2018, kita mengawali tahun di mana potensi Perang Dunia III, tersulut. Kemungkinan terjadinya perang  dunia ketiga itu, bukan suatu isapan jempol meski ISIS sudah dinyatakan kalah, baik yang di Irak maupun yang dan Suriah. Akan tetapi, sebagian besar pemantik konflik bersenjata dalam skala internasional masih tetap bertahan, khususnya di negara-negara yang dari sisi keamanannya terancam negeri tetangganya. Sebut misalnya, salah satunya itu, Korea Utara.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar