Negeri Dongeng yang Salah Skenario

0 54

Negeri Dongeng yang Salah Skenario. Kegagagahan sebuah negeri terletak pada keberanian pemimpin untuk menjunjung tinggi nilai budaya lokalnya yang penuh etika. Budaya itu yang akan membimbing pemimpin dan masyarakatnya untuk menjadi arif dan bijaksana dalam bertindak, bertutur dan memperlakukan individu lain. Kegagalan pemerintah ini seperti Sebuah kisah yang tidak kunjung usai. Sulit menemukan ending yang menggembirakan dalam setiap episodenya. Masing- masing pemeran telah hilang fungsi dan lepas dari tujuan peran itu sendiri. Harmonisasi dalam sandiwara itu telah dicemari oleh gagasan- gagasan konyol. Gagasan dimaksud seakan sebuah improvisasi agar dongeng itu lebih menarik untuk ditonton oleh pemirsa. Alih- alih menarik malah menjadi hilang nilai dan dicibir bahkan ditinggal penontonnya. Para pemain sandiwara itu mengalami disfungsi peran, ketidakberdayaan kompetensi dan skill, serta miskonsepsi cerita dengan durasi yang tidak pernah jelas ending-nya. Dongeng telah gagal untuk kesekian kalinya karena terlalu banyak sutradara yang punya ide ke-aku-annya. Mereka tidak mempertimbangkan keberlanjutan cerita dan mempertahankan karakteristik cerita yang seharusnya menjadi parameter dan kekuatan magis yang selalu ditunggu para penonton.

Kisah di atas adalah catatan kecil panorama bangsa tercinta kita ini, bangsa Indonesia. Bangsa yang hari ini genap usia kemerdekaanya 71 tahun. Usia yang sangat dewasa dalam membangun sebuah tatanan sosial, politik dan harmonisasi nilai-nilai budaya dalam keragaman nusantara. Namun, apa diharap, jelang usianya yang cukup umur itu, negeri tercinta kita terus didera oleh dagelan- dagelan politik tak kunjung usai. Hal inilah yang membuat perjalanan bangsa ini harus terus dimulai dari awal dan dari awal lagi. Kemunduran bangsa ini salah satu faktornya adalah terputusnya rantai pembangunan dari fondasi yang sudah dimulai oleh founding father. Rezim setiap masa mempersepsikan bahwa perubahan itu harus dilakukan atas nama gengsi rezim tanpa mempertimbangkan nilai besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat, yang penting berubah dan yang penting beda. Yang dibicarakan hanya kulit bukan isi, hanya formalitas bukan substansi.

Fondasi yang Kuat

Kasus pencopotan menteri Arcandra Tahar di usia jabatan relatif singkat, 20 hari, adalah sebuah puncak fakta (ultimate evident) bahwa para pemimpin negeri ini memang kurang faham untuk mengurus negeri tercinta ini. Resuffle kabinet benar- benar terkesan sekedar bagi- bagi kue kekuasaan tanpa parameter kompetensi dan skill. Namun yang lebih lucu dalam dongeng negeri ini adalah  bagaimana pencopotan itu pada banyak hal terjadi pada mereka yang memiliki personal quality yang cukup atau boleh dikatakan berprestasi namun memiliki perbedaan keinginan pribadi sang penentu kebijakan. Sang penentu kebijakan tidak lagi berpihak pada apa yang disebut masa depan bangsa tapi pada apa yang menjadi kemauan dirinya saat ini dan sesaat. Memang semua pemimpin takut untuk tidak populer pada masa kepemimpinannya. Mereka selalu terburu- buru untuk melakukan pencitraan diri dan melupakan pembangunan berkelanjutan melalui penanaman fondasi yang kuat. Fondasi yang kuat itu adalah visi pembangunan masyarakat jangka panjang dan berkelanjutan, tanpa mempertimbangkan masa jabatan dirinya.

Kegagalan Istana dalam penentuan menteri tidak bisa dianggap hal biasa. Setingkat pemerintah yang dengan segala perangkat atau alat negara, dengan berbagai kapasitas tim dalam seleksi, telah memberikan preseden buruk karena keteledoran dalam penentuan keputusan. Ini adalah satu fenomena bobroknya sistem Istana saat ini. Tidak sekedar kekeliruan yang kita temukan, namun kesalahan fatal ini telah cukup memberikan kesimpulan bahwa memang pemerintah telah gagal memberikan layanan yang baik kepada publik. Ketidakjelasan alat ukur dan ketidaktelitian dalam rekrutmen calon mentri sama sekali tidak mencerminkan profesionalitas tingkat tinggi sebagai sang profesional di tingkat pemerintahan.

Jebakan Kepentingan Utopis

Kesan yang didapat dari sebuah dagelan menggelikan dalam pencopotan menteri ini menyiratkan pesan bahwa ada kepentingan luar biasa. Pencopotan Arcandra Tahar hanyalah serpihan citra yang muncul ke publik tentang ketidakfahaman pengurus negeri dalam mengurus negeri ini. Namun lebih dari itu, masalah yang jauh lebih besar akan segera kita saksikan di masa berikutnya.

Kegagalan dalam proses rekrutmen calon menteri merupakan satu raport merah yang didapatkan oleh pemerintah yang dipimpin Jokowi. Apapun alasannya, ia telah gagal dalam meneliti para pion dirinya dalam membantu pekerjaan besar negeri ini. Memerintah negeri tidaklah cukup dengan dalih pembenaran, lepas tanggungjawab, dan penjelasan normatif tanpa bukti nyata yang bisa dipahami publik. Kegaduhan ini telah menyiratkan satu pesan bahwa masyarakat memang sulit mencari figur yang mampu mengendalikan negara yang begitu besar ini.

Kepentingan sesaat dari pesanan pihak tertentu telah menjebak kebijakan presiden yang dipampang di publik. Kini, presidenlah yang kena jebak oleh para pembisik yang sangat dipercaya oleh sang presiden. Desakan publik hari ini telah membuahkan hasil betapa rendahnya kompetensi para pejabat negara ini. Presiden harus konsisten dengan janji politiknya untuk tidak berkoalisi dengan banyak partai atau koalisi ramping yang akan memberikan efektivitas kerja di rezimnya. Walhasil inilah jabatan akibat ketidakkonsistenan dalam berpendirian. Politik memang dinamis, namun mempertahankan fondasi pemerintahan itu lebih realistis.

Kearifan Lokal Hanya Slogan

Kegagalan pemerintah hari ini tidaklah cukup dengan mempersalahkan pemerintah saat ini. Namun, baik buruk pemerintahan saat ini telah dipengaruhi pula oleh pemerintahan sebelumnya. Artinya, pemerintahan hari ini merupakan keberlanjutan dari cerita- cerita politik masa lalu. Akan tetapi, seyogyanya ketidakrapihan dalam pemerintah masa lalu harus segera diperbaiki di masa sekarang. Tidak cukup dengan terus mempersalahkan kegagalan masa lalu.

Akar permasalahan negara kita adalah hilangnya kearifan lokal negeri ini. Negeri yang dibangun atas dasar budaya- budaya daerah telah mudah dihapus melalui latah dan euforia kebarat- baratan dan ke eropa- eropa an. Para pimpinan negeri yang dididik dan berprestasi akademik di luar negeri telah membawa hegemoni besar bagaimana membangun negeri ini dengan pendekatan pengalaman mereka di negeri lain, bukan mengadaptasi dan menjaga kekayaan nilai budaya bangsa ini. Budaya bangsa kita terkesan kolot dan out of date, padahal itulah dasar pembangunan nusantara yang digagas nenek moyang kita terdahulu dengan mandi darah dan taruhan nyawa mereka. Kita telah abai dengan pendekatan budaya itu. Kesantunan dalam berpolitik, malu untuk berbohong, menghargai perbedaan, mengedepankan kepentingan umum dari kepentingan pribadi,  budaya saling mengingatkan satu sama lain dan cinta tanah air merupakan variabel-variabel kecil yang harus dijabarkan ke dalam bentuk makro berbangsa dan bernegara.

Kelalaian dan pengabaian kita dalam merancang kurikulum pendidikan anak-anak berbasis nilai budaya lokal kita telah menjadikan negeri ini bangga dengan penemuan-penemuan tokoh barat dan luar negeri yang sebenarnya tidak mudah disamakan dengan kondisi bangsa kita. Kita terlalu latah dengan pendidikan karakter, kurikulum yang bergenre eksak dan bernada modern. Kita juga lupa betapa nilai-nilai bangsa itu berakar dari budaya-budaya daerah yang harus ditanamkan pada anak bangsa sejak usia dini.

Pendidikan tentang kearifan lokal yang bersifat proyek sesaat bagi para pemangku kebijakan. Semua lini pemerintah kini telah kehilangan budi pekerti menjadi politisi ulung yang hebat menyiasati semua kebijakan menjadi proyek yang menguntungkan secara finansial.

Harapan itu Masih Ada

Sepertinya kita harus sadar, bahwa kebobrokan bangsa ini berasal dari kelalaian kita untuk memprioritaskan pendidikan usia dini dan pendidikan dasar. Pendidikan berbasis nilai-nilai luhur bangsa yang dulu kita kenal dengan istilah Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Pendidikan Agama.  Tidak ada cara lain pembenahan ini melalui pendidikan yang harus berakar dari budaya bangsa yang luhur.

Kita tetap memiliki optimisme dalam melihat fenomena bangsa ini. Kita tetap masih punya harapan besar bahwa generasi mendatang akan lebih baik lagi. Pembenahan yang berakar dari nilai-nilai budaya luhur kita, pendidikan yang berkelanjutan, kebijakan yang berpihak pada pengembangan pendidikan merupakan strategi jitu yang dapat menciptakan generasi emas di masa mendatang. Pemerintah hari ini jangan takut untuk berkorban demi kebaikan generasi di masa mendatang. Jangan takut tidak populer dengan kebijakan yang tidak disukai publik namun memiliki prospek. Belajarlah untuk menjadi pemimpin yang tidak sekedar populer namun siap untuk konsisten dan mapan dalam pendirian menuju bangsa yang lebih baik. semoga di usia 71 tahun Indonesia akan semakin makmur dan sejahtera bagi para pendidik dan pengajar. Karena merekalah yang harus mendapatkan perhatian penuh dari para petinggi bangsa dan pemangku kebijakan. Merekalah yang memiliki peran untuk menentukan karakter bangsa ke depan. Dirgahayu republik Indonesia, semoga jaya di sini dan di sana, majulah pendidikan kita.***

Nanan Abdul Manan

Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.