Indonesia: Negeri Penuh Anugerah

0 8

Indonesia: Negeri penuh anugerah ini, belakang tampak mulai kehilangan Ide dan definisinya sebagai negeri anugerah Tuhan. Negeri dengan sejumlah keindahan dan keberlimpahan kekayaan yang hampir tidak ada tandingnya dengan negara manapun di dunia. Ia mirip seperti cuplikan Syurga Tuhan di bumi. Negeri dongeng sekaligus negeri impian banyak orang. Hanya sayang, inilah sekaligus tumbuh sebagai negeri dengan tingkat petualangan yang tinggi.

Negeri terluas yang jarak tempuh wilayah kekuasaannya terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dalam tulisan Madjid (1991), disebutkan bahwa panjang jarak wilayah kekuasaan Indonesia, setara dengan jarak antara Teheran (Ibu Kota Iran) sampai ke London (Inggris). Tetapi negeri yang dianugerahi segenap kelebihan ini, tetap selalu lelah hidup memakmurkan negerinya sekaligus menciptakan keamanan untuk dirinya sendiri sekalipun.

Hampir tidak ada negara di dunia yang suka dicaci maki, dihina dan ditunjukkan kelemahannya kepada publik luas oleh penduduknya sendiri seperti Indonesia. Telinga bangsa Indonesia, hampir tidak pernah sepi dari pendengarannya akan berbagai kelemahan Presiden misalnya, dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdrachman Wachid, Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono sampai kepada Jokowi. Mereka sekalipun dipilih rakyatnya dengan kondisi yang satu sama lain berbeda kondisinya, tidak pernah dicaci maki, dihina, disudutkan, dibuat isu-isu yang tidak sehat dan tidak produktif.

Ada Apa dengan Indonesia?

Indonesia juga menjadi negara yang selalu ribut soal dasar kenegaraannya. Sekali lagi, tidak ada negeri di dunia yang setelah 70 tahun masa kemerdekaannya, masih membincangkan UUD negaranya. Apakah Indonesia harus diIslamkan, dikomuniskan, dikristenkan atau disekularkan. Semua berebut entah siapa yang akan menikmatinya. Berbagai dinamika dimaksud, bukan saja telah menghabiskan energi para intelektual yang bekerja di berbagai meja dan tempat seminar. Tetapi, juga telah menghabiskan seluruh potensi umat untuk berpikir produktif  dan menyelesaikan setiap masalah yang tumbuh di sekitarnya.

Namun demikian, ada sepercik nada tanya tentang munculnya dinamika tadi. Yakni, sejarah selalu menunjukkan bahwa perbincangan semacam ini, selalu hadir saat pemerintahan –siapapun itu yang bermain di belakangnya– tidak lagi memiliki kuasa untuk membuat bangsanya menjadi makmur. Adakah tanda yang menunjukkan semua isu kebangsaan yang hari ini menyeruak, terjadi akibat terlalu kuatnya campur tangan para pihak untuk memakmurkan bangsanya sendiri? Mari kita renungkan … besok kita kerjakan di meja kerja kita semua …..By. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.