Nelayan di Benua Eropa

1 31

Eropa bukan negeri impian. Eropa adalah negeri masa lalu. Masa yang telah mengandaikan bahwa dunia sesungguhnya telah berubah. berubah dan bahkan berganti posisi. Posisi yang mungkin seharusnya tetap menjadi kiblat dan imam dalam banyak hal, kini dipaksa untuk menjadi makmum, tentu dalam beberapa hal.

Pengalaman Hidup di Belahan Eropa

Tubuh dan lidah Indonesia adalah khas Indonesia, meskipun sangat banyak sekali masyrakat Indonesia yang tetap berwisata ke Eropa. Tubuh dan lidah ini, tidak bisa dipaksakan untuk terlalu berlama-lama dalam waktu tahunan di sana. Kita memiliki alur dan naluri sendiri sebagai bangsa yang dulu mungkin oleh sebagian bangsa Eropa disebut primitif. Sama dengan bangsa Eropa yang di abad pertengahan sering disebut sebagai bangsa primitif juga oleh bangsa Mediterania. 1419912879300Hari ini, menurut saya mereka hanya memiliki kenangan keindahan dan keagungan masa lalu. Untuk masa depan, kayaknya agak sulit diharapkan untuk menjadi imam bagi bangsa lain.

Saya banyak bertemu dengan penduduk Indonesia, yang terpaksa tidak bisa pulang ke Indonesia Pasca G 30 S PKI. Mereka rindu Indonesia dan ingin kembali ke Indonesia. Tetapi tidak bisa dan akhirnya tidak mungkin. Banyak kakek dan nenek bangsa Indonesia yang tinggal di sana –meski dapat disebut makmur– yang terpaksa harus meneteskan air mata, karena kerinduannya untuk dapat melihat Indonesia. Mereka sadar bahwa Syurga itu ada di Indonesia.

Bangsa eropa tidak diberi keberkahan sebagaimana Allah memberi keberkahan hidup seperti bangsa Indonesia. Bukan saja soal ekstremnya cuaca di antara musim panas dan musim dingin, tetapi, juga kultur dan budaya mereka yang “cenderung” mengalami stagnasi cukup akut. Mereka hanya bisa hidup jika negara-negara ketiga saling berperang atau masih banyaknya kerinduan masyarakat dunia ketiga yang ingin menyaksikan keindahan masa lalu dunia eropa.  Selebihnya, kita tidak tahu. Hanya Allah yang mampu mengatur semua dinamika alam dengan alasan ketuhanan yang sulit dirasionalisasi.

Satu Hal yang Menarik

Di tengah segenap keterbatasan sumber daya alam yang terdapat di eropa dengan iklim yang ekstrem seperti saya gambarkan tadi, ada satu yang kontras dengan negeri kita Indonesia, yakni budaya penghargaan dan penghormatan terhadap apa yang disebut sebagai kaum nelayan. Saya ingin menyebut salah satu contoh negara Eropa yang memberi penghargaan terhadap kaum nelayan itu adalah kaum nelayan di Belanda.

Negeri yang pernah menjajah Indonesia tidak kurang dari 3,5 abad ini, bukan saja memberi berbagai kemudahan akses akan dunia perkreditan bagi mereka yang masih menjadi nelayan, tetapi, juga mereka memberi penghargaan kepada orang tua yang sudah pensiun untuk memiliki rumah yang disediakan negara. Inilah negara yang menjamin kemakmuran hidup masyarakat nelayannya.

Bagaimana dengan Indonesia. Kita hanya berharap semoga Menteri Sussi mau belajar ke negeri kincir angin itu, bagaimana seharusnya para nelayan diberi daya hidup. Kita sadar laut kita jauh lebih luas dibandingkan luasnya lautan belanda. Tidak terbayangkan, bagaimana potensi ekonomi Indonesia, jika persoalan kelautan ini mampu dijabarkan dalam tindakan-tindakan yang praktis. Cecep Sumarna

  1. Diaz Ayu Sudwiarrum berkata

    Diaz Ayu Sudwiarrum
    1415104029
    Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial A/3
    IAIN Syekh Nurjati Cirebon

    Penghargaan yang diberikan oleh negara eropa kepada para nelayan merupakan suatu bentuk betapa berjasanya seorang nelayan di negara tersebut. Berbeda dengan nelayan Indonesia yang saat ini mengalami permasalahan pelik dengan pemerintah karena adanya proyek reklamasi. Pembangunan pulau tersebut jauh dari nilai pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” karena pulau itu ditujukan untuk kalangan elite, bukan untuk masyarakat bawah atau para nelayan di sekitar teluk Jakarta. Akibat dari pembangunan tersebut adalah peningkatan sedimentasi (pengendapan material) sehingga berpotensi banjir, penurunan kualitas air akibat logam berat dan bahan organik yang berdampak pada kematian ikan dan penurunan kecepatan arus sehingga proses sirkulasi air tidak berjalan dengan lancar. Hasilnya nelayan harus berlayar lebih jauh untuk mendapatkan ikan karena adanya pembangunan tersebut, ikan yang diperoleh juga jauh lebih sedikit dibanding sebelum adanya reklamasi, nelayan pun harus merogoh kocek lebih untuk membeli solar karna jarak yang ditempuh lebih jauh dari biasanya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.