Neraka yang Ku Rindukan

0 18

Penyakitku yang Mempertemukan Aku Dengannya

Di suatu hari yang teduh, penyakit lamaku kambuh. Ya, penyakit maagku kambuh. Ini mungkin karena aku sangat kurang memperhatikan pola makanku. Penyakit ini banyak orang memandang sebelah mata, termasuk aku sendiri. Aku tak mau tau, termasuk setelah aku di diagnosa berpenyakit maagpun, tetap saja aku tidak memperhatikan pola makanku. Sudah lama penyakit ini menghinggapi bagian lambungku. Ibuku menyarankanku untuk segera memeriksakan kondisiku, dan dibawalah aku ke rumah praktik seorang mantri desa. Bagiku dan seluruh warga kampung, memeriksakan ke mantri desa sebagai langkah pertama penanganan merupakan keumuman, namun tak sedikit pula yang hanya pasrah di rumah padahal penyakit sudah sedemikian parah dengan alasan ekonomi.

Karena resep obat yang diberi mantri desa tersebut dirasa cocok bagiku, maka setiap kali aku mengeluh soal maagku yang akut, setiap itu pula ku memeriksakan kepadanya. Seringnya pertemuan itulah membuat kami membuka pembicaraan bukan hanya soal penanganan maagku, tetapi juga soal pribadi. Obrolan kami yang menyita waktu, dia dan juga aku saling menyatakan diri masih lajang. Kamipun sering jalan bareng menikmati keindahan alam yang terpampang di sepanjang jalur Pantura. Sesekali kami makan bersama di rumah makan terkenal di kota kami tersebut. Makan bersamanya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku. Terus terang, dipertengahan tahun 2008 itu, aku masih terlihat culun. Terlebih jika itu berkaitan dengan persoalan cinta dan asmara, karena bagaimanapun aku lama dipesantren modern yang “ketat”, yang tentu tak memberiku peluang bercinta secara fisik.

Mantri Desa, Jodohku

Kamipun saling mengenal lebih jauh tentang diri dan keluarga, tentu dengan seringnya jalan bersama yang kami lakukan. Merupakan adat di kotaku, perempuan dan laki-laki yang sering jalan bareng tanpa status nikah tak akan berlangsung lama diperlihatkan ke publik. Hal ini karena akan membuat aib bagi orang tua. Maka, secara otomatis orang tua pacarku pun tak mau berlama- lama anak mereka pacaran. Tibalah saatnya dia dengan diantar orang tua melamarku. Tentu keluarga kamipun senang menyambut atas segala keseriusan yang dilakukan. Walaupun saya cantik, putih, tinggi demplon dan banyak lelaki yang terpikat denganku, pelamarku juga seorang mantri desa yang bekerja di rumah sakit daerah di kota kami, yang tentu pula banyak perempuan terpikat dengannya. Selain dia “orang berada” juga karena dia sudah dianggap mapan. Kamipun melangsungkan pernikahan di penghujung tahun 2009.

Masa- Masa Indah Pernikahanku

Beberapa hari setelah pernikahan berlangsung  suamiku memohon restu kepada ibuku agar agar kami berdua bisa tinggal bersama di rumah orang tuannya. Status sebagai istri tentu pengalaman baru, dan saya kurang mempunyai pengalaman tentang dapur termasuk ngurusin suami, tetapi berkat keinginan kuatku membangun kebahagiaan suami kupun belajar tentang sesuatu kepada yang lebih berpengalaman terkait perempuan yang sudah berumah tangga. Kehidupan kami terasa begitu cerah dengan menyandang status pengantin baru . Hingar binger canda ria selalu saja terdengar di rumah kami ketika suami di rumah. Maklum selain memang sebagai mantri desa, suamiku sebagai Pegawai Negeri di Rumah Sakit Daerah di kota kami menguras waktu bersama keluarga kecil di rumah. Namun dengan keterbatasan waktu justru membuat pertemuan kami di rumah lebih berharga, dan menambah kangen dianatara kami. Sehingga, walaupun masih tinggal di rumah orang tua, kehidupan kami hampir tak menemui masalah apapun.

Kepercayaan yang tumbuh dari kesibukan suami yang formal itu, dia mempercayakanku untuk mengurusi Rumah makan di samping desaku sebagai penghibur sepiku disaat suami di kantor. Dan al-hamdulillah usaha tersebut ku jalani dan sukses, pengangganku semakin banyak dan Rumah makanpun semakin besar. Lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di luar gaji suami sebagai pegawai negeri yang passif.

Harapanku dan mungkin semua wanita di dunia ini akan suami yang standby setiap waktu di rumah, setiap butuh jalan ke mall, makan bareng dll,  tetapi ku menyadari bahwa tanggungjawab suami bukan hanya milik istri, tetapi juga keluarganya dan masyarakat, kupun menyadari resiko dari perkawinanku dengannya. Kebahagiaan itu berlangsung sampai pada puncaknya, kelahiran anak pertamaku dede, tepatnya tahun 2011.

Munculnya Kabar Burung

Kelahiran anak pertama hasil perkawinan kami, sejak mulai ada titik perubahan pada tingkah laku suami khususnya perlakuan padaku. Kasih sayang suami terasa semakin memudar. Dia sering mencari alasan atas keterlambatanku pulang ke rumah, termasuk sering kerja lembur bahkan jarang pulang. Dalam hatiku bertanya, apakah memang betul suamiku semakin banyak tugas kantor? termasuk sering lembur. Bagiku, sebenarnya alasan-alasan itu bisa saja benar, tetapi bisa juga tidak benar. Semakin hari perasaanku semakin ganjil dan merasa lain.

Di suatu hari, aku mendengar berita burung, bahwa suamiku sering mampir di tempat bilyard dan karaoke sepulang kerja. Berita tersebut datang bertubi- tubi dari beberapa teman- temanku. Awalnya aku berprasangka bahwa semua kabar itu hanya sekedar gosip dan bertujuan merusak keluarga kecilku. Namun, seiring waktu kabar tersebut membuatku gelisah dan semakin gelisah. Meronta- ronta di dalam gendang telingaku, lalu masuk kedalam syaraf dan membuatku lunglai tak bertenaga. Atas berbagai kegelisahan yang bergejolak, kesabaranku pun menipis dan ingin mengetahui dari dekat segala aktifitas suami di luar rumah dan disekitar kantor, sekaligus memastikan kabar yang beredar. “Biar rasa ini tidak memutilasiku”, ucapku dalam hati.

Komentar
Memuat...