Ngapem, Tradisi Unik Khas Cirebon

0 448

APEM– Kue khas masyarakat Cirebon yang dibuat khusus pada bulan Shafar. Makanan tersebut terbuat dari tepung beras yang diberi ragi, sehingga ketika di kukus akan terasa empuk. Dibuat dalam bentuk bulat maupun persegi empat. Apem merupakan kue tradisi yang biasa dibagi-bagikan pada bulan Shafar. Konon agar masyarakat diberi rakhmat oleh Allah swt dan terhindar dari kesialan. Shafar merupakan bulan menjelang maulid (Robiulawal) yang merupakan bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad saw.

Tradisi Ngapem

Sebagian masyarakat Cirebon percaya pada bulan Safar ini berusaha untuk menghindari perjalanan jauh, pekerjaan berbahaya dan pernikahan. Dianjurkan  pada bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua, panti jompo, dan mempererat tali silahturahmi di antara sesama. Berkaitan dengan ini, masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan tiga  macam kegiatan yang dikenal dengan “ngapem, ngirab dan rebo wekasan”.

“Ngapem” berasal dari kata apem, yaitu kue yang terbuat dari tepung beras yang dipermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (kinca) yang terbuat dari “gula jawa” (gula merah)  dan santan.  Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan  ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (slametan) di bulan Safar. Yang maknanya terhindar dari malapetaka. Di Keraton Kacirebonan tradisi “Rebo Wekasan” dilakukan dengan membangun kue apem dalam bentuk gunungan, curak receh dan doa.

Filosofi Apem

Filosofi kue apem yang berbentuk seperti gegunung (gunung), menurut Permaisuri Kesultanan Kacirebonan Raden Ayu Muthoyyaroh Beda Sastrawijaya Natadiningrat, menandai perjalanan seorang manusia yang berawal dari bawah hingga puncak. Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memakannya harus dicelupkan di dalam kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah”.

Safar yang diyakini sebagian masyarakat sebagai bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita.  Hal ini konon diyakini sebagai upaya Sunan Kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya rebo wekasan, beliau mandi di sungai derajat Kota Cirebon pada saat berguru pada Sunan Gunung Jati untuk membersihkan diri dari bala di hari Rebo tersebut.  Ini akhirnya diikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju Kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang diyakini dulu Sunan Kalijaga mandi.

Daur Hidup Manusia

Apem dimaknai juga sebagai “sedulur papat kelima pancer” sebagai daur hidup manusia yang menggambarkan kelahiran sang jabang. Dari mulai kelahiran sang jabang yang diawali dengan getih/rah (darah), air ketuban, ari-ari dan bocah itu sendiri dianggap sebagai sebuah proses yang diyakini masyarakat Jawa dan Cirebon.yang bakal dialami semua manusia.

Sementara itu tradisi Rebo Wekasan” di komplek makam Pasarean Kabupaten Cirebon akan diselenggarakan Rabu (30/11) pagi,  masyarakat desa setempat mandi bersama ke sungai  sebagai simbol “bebersih diri”.  Seiring waktu,  tradisi ini juga diselingi dengan kesenian “brai”. Sungai Cipager dan Kalijaga dianggap sebagai “Gangga Tiron” dalam masyarakat Hindu di masa lalu. Di sungai mereka mandi bersama dengan mengucap,”Ya Hayyu ya Qowiyyu.”  (Wahai Dzat  Maha Hidup dan Kuat).

Mereka bersuci sebagai bagian dari tradisi untuk menyongsong bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad saw. Menurut kuncen komplek makam keramat Pasarean, Pangeran Hasan, tradisi yang lebih pada kebutuhan spiritual itu merupakan ritual yang perlu dilestarikan.  Pasalnya,  tidak semua daerah memiliki tradisi yang serupa.  “Yang menarik adalah melestarikan budayanya , kalau untuk tolak balanya itu kepercayaan masing-masing. Dan tidak semua tempat dan daerah ada ritual seperti ini, perlu dilestarikan.” jelasnya.***

Nurdin M. NoerPemerhati Kebudayaan Lokal.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.